Malam itu ketika bulan membentuk mangkuk yang siap menadahi air mataku. Aku kuatkan hati dengan berpegang dengan logika yang telah kususun teratur. Lusiapkan lidah untuk mengeluarkan kalimat yang sudah aku latih, mungkin puluhan kali. Walaupun sempat kelu, namun kukatakan juga "Sepertinya kita nggak bisa bareng lagi".
Hening lama di seberang telepon. Aku tahu, ia tidak siap mendengarnya, dan aku tidak berani memecah keheningan itu. Teringat kembali percakapanku dengan Nya.
Satu setengah tahun yang lalu.
Aku : Tuhan, hatiku sakit. Sudah lima jam aku menunggunya. Dari hari yang masih terang, hingga senja datang, adzan berkumandang, umatmu beribadah, hingga adzan berkumandang lagi, tapi ia tidak pernah datang.
Tuhan: Umatku, aku mendengar tangismu. Walaupun kau sering melupakanku, tapi aku tidak pernah melupakanmu. Aku memberimu kuasa. Pilihlah umatku, menjadi gunung merapi, topan, atau badai salju.
Aku: Aku sangat marah. Aku memilih menjadi gunung merapi yang siap menumpahkan laharku.
Satu tahun yang lalu:
Aku: Tuhanku, hatiku tidak lagi sanggup menahannya. Lagi-lagi ia membatalkan janji yang sudah dibuat karena ia malas. Padahal aku sudah meminta tolong temanku agar rencana ini sukses.
Tuhan: Mengapa kau menangis lagi? Bukankah kau sudah menumpahinya dengan lahar panasmu.
Aku: Iya, tetapi rasa sayangku membuat laharku dingin dan membeku.
Tuhan: Baiklah, Aku memberimu kuasa kedua. Pilihlah antara topan atau badai salju.
Aku: Aku memilih topan. Aku akan menerbangkan alasan-alasannya dan menghilangkan rasa sayang di hatiku.
Setengah tahun yang lalu.
Aku: Tuhan, tolonglah hambamu lagi kali ini. Hamba tidak sanggup menyaksikan ia menyia-nyiakan hidupnya. Jika ia tidak mampu menjaga masa depannya, bagaimana ia bisa menjaga masa depanku juga? Lagipula, aku tidak benar-benar tahu siapa dirinya. Aku takut, Tuhan.
Tuhan: Apa lagi kali ini? Tinggal satu kesempatanmu. Ambillah, tapi hanya tinggal badai salju.
Aku: Terima kasih Tuhan. Kali ini aku akan menimbunnya dengan saljuku dan aku akan pergi dari kehidupannya.
Beberapa hari lalu:
Aku: Tuhan. Aku pengecut. Semua kuasamu aku sia-siakan. Tidak ada diantaranya yang aku gunakan untuk menyelamatkanku. Rasa sayangku terlalu besar dan kuat, sehingga bencana yang Kau kuasakan padaku, padam begitu saja. Apa yang harus aku lakukan?
Tuhan: Umatku. Aku tidak bisa memberimu kuasa lagi. Hanya tinggal dirimu sendiri yang bisa melakukannya. Aku berikan satu bocoran padamu. Aku menyimpan masa depan cerah untukmu, tapi Aku tidak bisa memberi tahumu itu apa. Hanya kamu yang bisa menemukannya. Kuncinya hanya satu. Apapun yang kau pilih, jangan pernah kau sesali. Sesulit dan sesakit apapun itu. Bertahanlah. Aku menurunkan malaikat-malaikat yang akan menjagamu asalkan kau bisa membuka mata, telinga, dan hati lebih lebar lagi.
Aku: Baiklah Tuhanku. Terimakasih atas pertolonganmu selama ini. Aku akan mencobanya.
Dan sampailah aku pada hari ini. Dimana aku memilih untuk sendiri, tidak bersamanya lagi. Tinggal aku berusaha menguatkan diri, bertahan dan meneruskan hidupku demi janji yang telah Ia ucapkan.