Minggu, 13 April 2014

Rasa Cinderella

Dulu aku selalu memimpikan rasanya menjadi Ciderella. Perempuan biasa yang diberi kesempatan menjadi perempuan berkelas dan masuk ke lingkaran orang-orang kelas atas. Mendambakan bagaimana rasanya memakai pakaian mewah dalam kehidupan sehari-hari, naik pesawat seperti naik taxi, memakan makanan mahal, setiap hari minum susu bermerek, tidur di kamar yang mewah dimana kasurnya spring bed, ber-AC, dan ada shower air panas.

Dulu sekali, saat aku masih anak-anak, aku pernah mengalami itu semua. Tetapi rasa itu sudah menjadi tawar, dan saat aku beranjak dewasa, aku merindukan lagi rasa-rasa seperti itu. Aku memuja rasa itu, aku terobsesi karenanya, sehingga membuatku bertekad untuk dapat mencicipi rasa itu lagi.

Lalu, aku diberi kesempatan untuk mencicipi rasa itu. Walaupun rasa itu hanya terasa karena aku menempel pada orang dan bukan cita rasa yang sesungguhnya, tetap aku menginginkan rasa itu. Karena aku terlalu merindunya. Demi bisa melebur ke lingkaran itu, aku membongkar harta mamaku yang telah berdebu. Aku bersihkan kembali debu-debu yang menempel, aku jahit kembali bagian yang sobek, dan aku rapikan benang-benang yang berserabut. Aku jalin kembali memori tentang rasa itu, mempelajarinya, mengasah intelektualitasku, dan mempersiapkan diri hingga dapat melebur tanpa meninggalkan goresan kasar.

Ketika saat itu tiba, aku mengepak koperku yang telah kenyang dengan harta modifikasi. Berangkat dengan membawa sosok baru yang aku simpan, dan sosok itu akan muncul dimulai saat kakiku turun dari pesawat. Hidupku yang baru pun dimulai. Aku bisa mencecap rasa itu lagi. Hidup bertaburan kemewahan, memakai pakaian yang terlihat berkelas. Aku pun menjelma menjadi sosok yang dipuji sekaligus dipuja orang di sekitarku, terutama yang berasal dari kalangan yang sama denganku. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa sebenarnya aku bagian dari mereka, dan apa yang mereka lihat hanyalah produk percobaanku untuk melebur dalam lingkaran baru.

Dengan sosok baru aku melangkahkan kaki dalam lingkaran pemuja intelektualitas. Semakin aku bisa bertahan pada pertarungan intelektualitas ini, semakin eksistensiku terlihat. Maka, akan semakin dalam aku menceburkan diri, semakin jauh aku meninggalkan lingkaran lamaku.

Tidak lagi kucium bau busuk saat berjalan, tidak lagi aku mamandang tumpukan sampah di dekat kakiku, tidak lagi kudengar umpatan yang familiar di telingaku, tidak lagi aku mencecap makanan tawar. Segalanya harum, berkilau, merdu, dan nikmat. Membuatku begitu nyaman dengan kenikmatan ini.

Aku tak perlu berjalan sendiri untuk bersenang-senang, tak perlu naik angkot pengap dan sesak untuk bepergian, tak perlu mengirit pengeluaran hanya agar sesekali dapat makan di restoran, dan tak lagi dipandang sebelah mata saat lewat. Kini, selalu ada orang yang menawarkan diri untuk menemani, ada yang membukakan pintu taxi saat aku akan masuk, ada yang mentraktir makan di restoran secara sukarela. Mereka menjamin kenyamananku sebaik mungkin. Bahkan menghindarkanku dari panas dan kotornya jalanan. Tidak pernah sekalipun aku ditawari naik motor karena mereka pikir bahwa motor tidak pantas untukku, mobil-lah yang sepantasnya untukku. Dan semua mata memandang saat aku berjalan, membuatku merasa bak putri raja yang berada di tengah-tengah rakyat biasa.

Saat aku berdiri di beranda istanaku dan memandangi orang-orang sedang bekerja keras menyambung hidup, aku merasa seperti terasing dalam duniaku sendiri. Betapa mereka tidak memperdulikan bau busuk di dekat mereka, panas yang menyengat kaki telanjangnya, keringat yang mengucur bagai keran air, dan berbagi udara pengap dengan yang lain. Aku merasa telah mengkhianati mereka. Betapa aku beruntung dapat menikmati kemewahan ini. Betapa aku dulu bagian dari mereka. Betapa aku memaksa diriku untuk cepat-cepat melebur dalam lingkaran intelektualitas ini. Betapa perubahan ini begitu cepat, dan aku tidak menyangka bisa semudah ini meleburkan diri.

Akankah aku dapat menjaga kesucian dan kesederhanaan yang aku jaga selama ini adalah pertanyaan besar yang menggangguku. Karena sedikit demi sedikit kesucian itu tak lagi berwarna putih, dan kesederhanaan itu jelas semakin tersembunyi. Akankan aku lupa dari mana diriku berasal adalah ketakutan utamaku. Tidak ingin aku kehilangan kerendahan hati, tak ingin pula aku lupa asalku. Mampukah aku dapat menyeimbangkan kesederhanaan dengan kemewahan ini adalah tantangan terbesarku. Yang pasti, aku tidak ingin jiwaku tertelan karakter yang aku bangun. Aku tidak ingin menjadi manusia yang jiwanya tersedot habis dan menjadi manusia yang sama sekali berbeda. Yah, mudah-mudahan kakiku tak lupa untuk selalu menjejak tanah.

Kamis, 19 September 2013

Pada awal abad ke-20 terdapat sebuah kerajaan terbesar di Eropa timur yang sangat indah. Dua bukit yang mengelilinginya tampak seperti pagar yang melindungi rumah tuannya. Air jernih  pegunungan mengalir pada dua sungai pertama, meluncur turun dari bukit barat dan timur,  lalu bertemu pada sebuah danau kecil dan kemudian memecah, bercabang seperti ranting menjadi anak-anak sungai yang mengalir ke seluruh tubuh negeri. Mengairi petak-petak sawah, sumur-sumur penduduk, menghidupi segala makhluk yang hidup di sekitarnya.

The Kingdom of East dipimpin oleh sepasang Raja dan Ratu yang merupakan Duke dan Duchess of East. Mereka sangat dicintai oleh rakyatnya karena kemakmuran negerinya. Raja dan Ratu dianugerahi seorang anak laki-laki yang tinggi menjulang seperti ibunya, dan empat saudara perempuan yang cantik seperti sekelompok kucing persia. Anak laki-laki yang bernama Jerapah tumbuh bersama saudaranya dengan cinta dan kasih dari orang tuanya juga seluruh rakyat.
Dua puluh dua tahun berlalu, Jerapah telah bertumbuh menjadi pemuda tampan seperti ayahhya, gagah, pandai bertarung, dan dicintai rakyatnya karena kemurahan hatinya. Namun ada satu hal yang begitu mengganggunya beberapa hari terakhir semenjak percakapannya dengan Raja. 
“Anakku, sudah saatnya Ayah mewariskan mahkota ini padamu. Umurmu sudah cukup untuk mencari calon ratu. Ayah tidak akan memaksamu dengan perjodohan. Temukan cintamu seperti ayah dan ibumu dulu,” ucap Raja yang berbaring lemah.
Jerapah memikirkan degan serius perkataan sang Raja. Namun ia terlalu sibuk dengan berbagai urusan kerajaan menggantikan ayahnya, memastikan bahwa rakyatnya tercukupi, dan berbagai permasalahan yang sangat menyita waktunya. Waktu luang hanya ia manfaatkan untuk membaca, berlatih bertarung, dan istirahat. Sehingga ia tidak sempat memikirkan perempuan walaupun banyak yang mencoba menarik perhatian Duke ini di setiap pesta yang diadakan oleh para bangsawan. Tetapi kali ini ia bertekad untuk segera mendapatkan calon ratu terbaik seperti ibunya. Tidak ada perempuan lain yang sangat ia cintai melebihi cintanya pada ibunya.
Ketika sedang memeriksa dokumen kerajaan, seorang pelayan mendatanginya dan menyerahkan sepucuk surat dari sepupunya, Bangau. Di dalam suratnya, Bangau mengabarkan bahwa ia akan berkunjung di kerajaannya mewakili universitas dalam rangka pendidikan dan lingkungan. Sudah lama sejak tiga tahun yang lalu ia tidak bertemu dengan sepupunya. Sejak kecil Bangau selalu menempel padanya jika bertemu. Bangau telah menganggapnya seperti kakak laki-laki karena ia tidak pernah mengenal kakak laki-lakinya yang telah meninggal ketika masih bayi. Jerapah  menutup dokumennya dan menulis surat balasan.
Tiga rombongan kereta kuda bergaya Eropa berhenti di halaman istana yang luas. Dari kereta pertama yang terlihat paling mewah, turunlah perempuan cantik yang tak lain adalah sepupunya, Bangau. Dari gaunnya mewahnya terlihat bahwa ia masih keluarga kerajaan. Dibelakangnya turunlah para perempuan anggun lainnya, yaitu Sapi, Burung Hantu, Anjing, dan Monyet. Dari kereta pertama dan kedua keluarlah para perempuan bangsawan, sedangkan di kereta ketiga yang lebih besar berisi pemuda bangsawan. Jerapah menyambut baik kehadiran mereka dengan makan malam mewah ala kerajaan, dan memerintahkan para pelayan untuk mengurus segala kebutuhan mereka.
Keesokan harinya sampai hari terakhir rombongan Bangau di istananya, Jerapah tidak dapat tinggal karena harus mengunjungi kerajaan tetangga. Ia merasa sedikit bersalah pada sepupunya karena telah menjanjikan akan menemaninya selama berkunjung. Namun tugas kerajaan kali ini tidak dapat ia tinggalkan. Demi menebus janji, Jerapah mengadakan sebuah pesta penyambutan sekaligus perpisahan untuk Bangau dan teman-temannya di malam terakhir mereka. Ia memastikan asisten pribadinya untuk menunda semua rencananya di hari itu.
Musik dimainkan oleh musisi terbaik kerajaan, makanan dan minuman dari koki terbaik kerajaan dihidangkan, pakaian rancangan terbaik mereka kenakan, semua serba terbaik, glamor, berkilau, namun belum membuat Jerapah tertarik. Ia bahkan mulai jenuh dengan para gadis bangsawan yang mengelilinginya seperti kawanan semut terhadap gula. Segelas minuman dingin mungkin bisa membuatnya kembali segar, pikirnya. Ia permisi meninggalkan kerumunan dan berjalan menuju meja minuman. Saat akan mengambil gelas, seorang pemuda yang terlihat mabuk menabraknya sehingga ia menabrak perempuan di sebelahnya yang sedang mengambil buah. Pemuda mabuk yang terkejut karena menabrak sang tuan rumah langsung kabur setelah membungkuk meminta maaf.
Saat Jerapah akan meminta maaf pada gadis yang ia tabrak, terdengarlah keributan kecil. Di belakangnya, Monyet dan Anjing sedang menceramahi Burung hantu karena tidak menghargai makanan, tidak bersyukur karena membuang makanan yang belum tentu bisa dibeli rakyat, dan sebagainya. Ia baru memahami percakapan mereka setelah menemukan sebuah anggur merah menggelinding di depan sepatunya.
 “Sudah, tidak apa-apa. Bukan Burung hantu yang salah, tetapi aku lah yang telah membuatnya menjatuhkan buah itu,” Jerapah menengahi. 
“Tidak bisa yang mulia, itu sama saja tidak menghargai rakyat. Sebagai aktivis lingkungan kita tidak boleh membuang makanan...” Monyet ikut menceramahi Burung Hantu. Jerapah membungkuk dan memungut anggur di depan sepatunya lalu meletakkannya di telapak tangan Monyet.
“Dengan begini tidak ada makanan yang terbuang, iya kan?” ucapnya dengan senyum pangerannya yang seketika membuat Anjing dan Monyet terpana. “Permisi nona-nona,” lanjutnya lalu meninggalkan kerumunan. Semua orang yang sempat menonton keributan kembali melanjutkan pesta saat sang pangeran mengisyaratkan para pemain musik untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Aku yakin mereka syok mengetahui sifat jahilmu,” Bangau datang menghampirinya. Jerapah hanya tertawa kecil mendengar ucapan sepupunya dan berjalan ke tempat yang tidak terlalu ramai, ditemani Bangau di sampingnya. Bangau mengenakan gaun pink berpotongan rendah di bagian dada dengan bagian lengan dan rok menggembung. Kalung bermata safir menghiasi lehernya, dan rambut pirangnya ditata ke atas dengan hiasan berkilau. Mereka memilih menikmati pesta dari pinggir lantai dansa untuk menghindari keramaian. 
“Gimana, sudah menetapkan pilihan?” lanjut Bangau sambil memberikan salah satu gelas minuman dingin yang ia bawa untuk sepupunya. Jerapah hanya diam menenggak minumannya sambil memandangi para pemuda dan gadis-gadis yang berdansa diiringi alunan musik Waltz. Bangau mengikuti arah pandang sepupunya, bertanya-tanya apa yang begitu menarik perhatiannya hingga ia tidak dihiraukan.
“Jadi, itu yang kamu pilih?” Bangau mengangguk paham mengikuti mata sepupunya yang mengunci pada salah satu gadis berambut coklat kemerahan yang mengenakan gaun chiffon kuning dengan bagian rok yang tidak terlalu menggembung dan bagian atas yang berpotongan manis memamerkan pundak, serta liontin kecil menghiasi leher jenjangnya. Ia melihat Burung hantu sedang berdiri di pinggir lantai dansa sambil menolak halus seorang pemuda yang mengajaknya berdansa. 
“Menurutmu?” tanya Jerapah sambil meletakkan gelas pada baki pelayan di dekatnya. 
“Dia baik sih, tapi bukan bangsawan kelas satu-dua seperti kau dan aku. Karena itulah dia sering dikerjai seperti tadi. Ayo, temani aku dansa sebelum laki-laki itu mengajakku,” Bangau menarik lengan Jerapah ke tengah lantai dansa. Seorang laki-laki dengan mulut penuh makanan terlihat kecewa karena gadis pujaannya berdansa dengan pangeran.
Keesokan harinya, dengan berat hati Jerapah mengantar kepulangan sepupunya beserta rombongan dari halaman istana. Di dalam kereta, Bangau mengeluarkan sebuah bungkusan dan menyerahkannya pada Burung hantu, “Ini dari sepupuku”. Burung hantu menerima bungkusan itu dengan sedikit heran. Ia terkejut saat membukanya dan mengetahui isi bungkusan itu yang ternyata adalah sebuah buku dengan selembar memo diselipkan di balik sampulnya.
Ini salah satu buku kesukaanku. Semoga kamu menyukainya. Jerapah.
Burung hantu lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa pengirimnya. 
“Ini beneran?” tanyanya tidak percaya. Teman satu keretanya yang juga penasaran ikut membacanya dan mereka memekik tidak percaya. Bangau tersenyum dan mengangguk kepada Burung hantu. Burung hantu berteriak dalam hati, tidak percaya bahwa ia diberi hadiah oleh pangeran. Di dalam sebuah kereta kuda mewah yang semakin menjauh ke barat, seorang gadis bukan bangsawan telah jatuh cinta.
Beberapa hari kemudian, Jerapah dan Burung hantu mulai saling berkomunikasi dengan surat yang diantar kurir setiap tiga hari sekali karena tempat ia tinggal di daerah pinggir yang jauh dari istana. Ia menyimpan baik-baik setiap surat yang ia terima selama tiga bulan ke dalam sebuah kotak yang ia letakkan di dalam laci mejanya. Terkadang saat ia tidak sabar menunggu surat balasan, ia membacanya berulang kali hingga ia hapal setiap isi surat. Jatuh cinta membuat tingkah lakunya sedikit tidak wajar sehingga adiknya selalu geleng kepala setiap melihat kelakuan kakaknya. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi sedikit tidak waras. 
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Semakin lama, ia hanya menerima surat seminggu sekali, lalu berubah dua minggu sekali, dan ia belum mendapatkan balasan selama satu bulan terakhir. Setiap hari ia menunggu di kamarnya. Berkali-kali ia mengintip jendela kamar saat mendengar suara langkah kaki mendekati rumahnya dan kecewa karena tidak ada surat untuknya. Berkali-kali ia membongkar kotaknya dan membaca ulang setiap surat yang kini berbercak karena tetesan air mata yang telah mengering. Setiap tetes yang jatuh merupakan sebuah pertanyaan yang bermunculan seiring dengan ketidakberdayaannya menuntut jawaban. Melihat begitu banyaknya bercak, sudah diketahui betapa banyaknya pertanyaan dan air mata yang dibiarkan mengering tanpa terjawab.
Ia membuka jendela kamarnya, angin dingin yang menerobos masuk meniup lembut rambut panjangnya. Burung Hantu memandangi bulan purnama yang terlihat sangat indah. Bulatnya sempurna dengan cahaya terang berwarna putih kekuningan, sangat kontras dengan langit yang gelap. Ia hirup dalam-dalam udara malam itu lalu menghembuskannya dengan perlahan. Seiring dengan udara yang keluar dari mulutnya, ia merasakan ketenangan dalam hatinya. Air matanya telah berhenti mengalir. Seperti telah disuntikkan serum penyemangat, ia menutup kembali jendela kamar lalu mengambil selembar kertas dan mulai menulis sebuah surat.


Kepada Yang Mulia Jerapah The Duke of East,
Hai, bagaimana kabarmu? Sudah dua bulan aku tidak mendapat balasanmu. Ini adalah surat ketiga yang aku kirim dalam dua bulan ini. Aku tidak tahu hal apa yang membuat surat-suratku tidak lagi kamu balas. Yang aku pahami adalah mungkin selama ini aku telah tenggelam dalam fantasiku bahwa kamu tertarik padaku. Yah, aku telah mendapatkan tendangan dasyat dari kenyataan yang membuatku terbangun dari mimpi. Aku memahami bahwa sama sekali tidak warna biru yang mengalir dalam darahku, sedangkan kamu adalah seorang yang dimuliakan seluruh rakyat. Maaf atas ketidaksopanan penyebutan saya kepada Yang Mulia Jerapah The Duke of East.
Saya ingin mengucapkan terimakasih atas permberian buku dan kiriman surat-surat Yang Mulia selama ini. Walau singkat tetapi sangat membuat saya bahagia. Tidak perlu khawatir Yang Mulia, ini adalah surat terakhir saya. Saya akan selalu mendoakan kebahagiaan Yang Mulia dan seluruh kerajaan. Semoga Yang Mulia bisa menemukan gadis bangsawan baik hati  yang mampu mendampingi anda menjalankan kerajaan.
Salam,
Burung Hantu The Common of People

Minggu, 08 September 2013

Kompilasi Rectoverso Dee

Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku selain hatiku dan ombak berderu.

Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.

Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati. Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu, atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu. Ku ingin jadi cicak di dindingmu. Hanya suara dan tatapku menemanimu.

Dan ku menyadari tanganku. Tak kan mampu meraihmu. Walau cinta katanya  tak kan lelah memberi.
Kulepas engkau ombak hatiku. Percikmu abadi menyegarkanku. Namun biarlah kini, kuingin jadi cicak. Hanya suara dan tatapku menemanimu.


Sahabatku, usai tawa ini izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan sampai kau di sana. Telah jauh, ku terjatuh. Pedihnya luka di dasar jurang kecewa. Dan kini sampailah, aku disini...
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.

“If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, for it didn't have a start and didn't have an end.”

"Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang."




Diambil* dari Rectoverso karya Dee:
Aku Ada_Cicak di dinding_Curhat Buat Sahabat_Hanya Isyarat_ Back to Heaven’s Light_Malaikat Juga Tahu
*Melewati proses pembacaan, cut dan paste, serta dibantu oleh imajinasi.

Jumat, 06 September 2013

Surat Cinta Untuk Istriku


     Kepada: Sasmi
Di manapun engkau berada


Istriku tersayang,


Bagaimana kabarmu dan anak kita? Aku harap kalian selalu bahagia dan tidak lelah tersenyum. Di sini aku baik-baik saja, namun lama tidak bertemu denganmu membuatku rindu setengah mati. Banyak cerita yang ingin aku bagi denganmu, juga dengan anak kita tercinta. Setiap malam aku selalu membayangkan wajahmu tersenyum dan bagaimana wajah anak kita sekarang.  Aku berharap bisa memeluknya setiap hari, menceritakan dongeng, juga menemaninya tidur saat terbangun tengah malam. Tidak bisa bertemu kalian, ingin sekali rasanya aku pergi ke tempat kalian karena rindu yang sudah tak tertahankan. Lalu aku teringat saat-saat kita masih dimabuk cinta.


Saat dimana aku masih tergabung dalam Pemuda Rakyat dan engkau di Gerwani. Tanpa engkau sadari, diam-siam aku sering memperhatikanmu yang duduk di dekat jendela. Aku ingat saat itu engkau mengenakan baju putih dan rambut panjangmu yang tergerai, bergerak-gerak teriup angin. Ingin sekali aku menyentuh rambutmu yang berkilau terpapar matahari sore. Saat itu aku berandai-andai, di masa yang akan datang aku akan melihatmu membawakanku secangkir kopi pahit setiap pagi, lalu aku akan menciummu dengan lembut di kening. 


Namun aku sedikit kesal saat Sapidi, pemuda bergigi tonggos yang duduk disebelahku membuyarkan lamunanku tentangmu, karena pertemuan hari itu telah usai. Saat melihatmu bangkit dari kursi, aku menyadari bahwa aku akan kehilanganmu jika aku tidak berani menanyakan namamu. Dan beberapa bulan kemudian akhirnya keluargamu menerima lamaranku dan engkau pun menjadi istriku. Sasmi, engkau satu-satunya wanita yang paling menawan hatiku, engkau merupakan jawaban dari doaku, engkau adalah keajaiban di hidupku, dan rumah bagi sajak-sajak yang selalu kutulis di tanggal pernikahan kita.


Sayangku, kita sama-sama tahu bahwa walaupun Tuhan mempersatukan kita, pada akhirnya kita akan terpisah. Saat itu kondisi kita sangat mengkhawatirkan. Banyak teman-teman kita yang menghilang dari kamar tidurnya. Aku selalu berdoa agar kita dan anak yang ada di rahimmu bisa melewati hari-hari dengan selamat. Aku ingat saat itu engkau menolak berpisah denganku untuk bersembunyi di rumah saudaramu di Surabaya, sedangkan aku akan bersembunyi bersama Sapidi di dalam hutan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah denganmu, tetapi hanya inilah pilihan yang terbaik, dan aku berjanji akan langsung menemuimu begitu keadaan sudah tenang. 


Di dalam hutan, kami terus berlari menghindari orang-orang yang ingin menangkap kami. Dalam pelarian aku berdoa semoga Tuhan memberikanmu kekuatan untuk terus bangkit dan terus berlari sepertiku. Walaupun sampai terpeleset ke jurang, tidak makan selama berhari-hari, dan berkali-kali ingin berhenti, namun saat mengingat wajahmu yang malu ketika kucium keningmu, membuat tubuhku tetap berdiri dan kakiku terus berlari. 


Saat kusadari suara langkah kaki Sapidi telah menghilang selama berjam-jam, aku tetap tidak berhenti. Aku semakin mempercepat langkahku karena sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lalu mengecup keningmu. Di tengah perjalanan selama berminggu-minggu menuju Surabaya, aku membayangkan engkau dan anak kita berdiri di depan pintu, tersenyum menyambut kedatanganku. Namun ketika aku sampai, saudaramu mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat kedatanganmu. Saat itu baru kusadari aku telah jauh berlari, tubuhku sangat lelah, dan air mataku tidak berhenti mengalir. Setiap hari aku menunggumu, terus menunggumu di depan pintu dengan senyum yang tak pernah pudar untukmu. Sampai seperti itulah aku mencintaimu Sasmi, dan tidak akan pernah berubah walau di kehidupan yang abadi kelak. 


Sasmi sayangku, aku akan mengakhiri surat ini karena matahari mulai menampakkan wujudnya. Namun Sasmi, hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi menunggumu, karena sebentar lagi aku akan menyusul ke tempat dimana ada engkau dan anak kita.


Sasmi  istriku, dan anakku yang tidak pernah lahir, aku mencintaimu.



Surabaya, 1 Juli 2012
Suami dan ayah,  
Siswanto        

Minggu, 21 Oktober 2012

Aku dan Tuhan

Malam itu ketika bulan membentuk mangkuk yang siap menadahi air mataku. Aku kuatkan hati dengan berpegang dengan logika yang telah kususun teratur. Lusiapkan lidah untuk mengeluarkan kalimat yang sudah aku latih, mungkin puluhan kali. Walaupun sempat kelu, namun kukatakan juga "Sepertinya kita nggak bisa bareng lagi".

Hening lama di seberang telepon. Aku tahu, ia tidak siap mendengarnya, dan aku tidak berani memecah keheningan itu. Teringat kembali percakapanku dengan Nya.

Satu setengah tahun yang lalu.
Aku : Tuhan, hatiku sakit. Sudah lima jam aku menunggunya. Dari hari yang masih terang, hingga senja datang, adzan berkumandang,  umatmu beribadah, hingga adzan berkumandang lagi, tapi ia tidak pernah datang.
Tuhan: Umatku, aku mendengar tangismu. Walaupun kau sering melupakanku, tapi aku tidak pernah melupakanmu. Aku memberimu kuasa. Pilihlah umatku, menjadi gunung merapi, topan, atau badai salju.
Aku: Aku sangat marah. Aku memilih menjadi gunung merapi yang siap menumpahkan laharku.

Satu tahun yang lalu:
Aku: Tuhanku, hatiku tidak lagi sanggup menahannya. Lagi-lagi ia membatalkan janji yang sudah dibuat karena ia malas. Padahal aku sudah meminta tolong temanku agar rencana ini sukses.
Tuhan: Mengapa kau menangis lagi? Bukankah kau sudah menumpahinya dengan lahar panasmu.
Aku: Iya, tetapi rasa sayangku membuat laharku dingin dan membeku.
Tuhan: Baiklah, Aku memberimu kuasa kedua. Pilihlah antara topan atau badai salju.
Aku: Aku memilih topan. Aku akan menerbangkan alasan-alasannya dan menghilangkan rasa sayang di hatiku.

Setengah tahun yang lalu.
Aku: Tuhan, tolonglah hambamu lagi kali ini. Hamba tidak sanggup menyaksikan ia menyia-nyiakan hidupnya. Jika ia tidak mampu menjaga masa depannya, bagaimana ia bisa menjaga masa depanku juga? Lagipula, aku tidak benar-benar tahu siapa dirinya. Aku takut, Tuhan.
Tuhan: Apa lagi kali ini? Tinggal satu kesempatanmu. Ambillah, tapi hanya tinggal badai salju.
Aku: Terima kasih Tuhan. Kali ini aku akan menimbunnya dengan saljuku dan aku akan pergi dari kehidupannya.

Beberapa hari lalu:
Aku: Tuhan. Aku pengecut. Semua kuasamu aku sia-siakan. Tidak ada diantaranya yang aku gunakan untuk menyelamatkanku.  Rasa sayangku terlalu besar dan kuat, sehingga bencana yang Kau kuasakan padaku, padam begitu saja. Apa yang harus aku lakukan?
Tuhan: Umatku. Aku tidak bisa memberimu kuasa lagi. Hanya tinggal dirimu sendiri yang bisa melakukannya. Aku berikan satu bocoran padamu. Aku menyimpan masa depan cerah untukmu, tapi Aku tidak bisa memberi tahumu itu apa. Hanya kamu yang bisa menemukannya. Kuncinya hanya satu. Apapun yang kau pilih, jangan pernah kau sesali. Sesulit dan sesakit apapun itu. Bertahanlah. Aku menurunkan malaikat-malaikat yang akan menjagamu asalkan kau bisa membuka mata, telinga, dan hati lebih lebar lagi.
Aku: Baiklah Tuhanku. Terimakasih atas pertolonganmu selama ini. Aku akan mencobanya.

Dan sampailah aku pada hari ini. Dimana aku memilih untuk sendiri, tidak bersamanya lagi. Tinggal aku berusaha menguatkan diri, bertahan dan meneruskan hidupku demi janji yang telah Ia ucapkan.

Rabu, 20 April 2011

R A R I '


Carry You Home
James Blunt

Trouble is her only friend and he's back again.
Makes her body older than it really is.
She says it's high time she went away,
No one's got much to say in this town.
Trouble is the only way is down.
Down, down.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

If she had wings she would fly away,
And another day God will give her some.
Trouble is the only way is down.
Down, down.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

And they were all born pretty in New York City tonight,
And someone's little girl was taken from the world tonight,
Under the Stars and Stripes.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

Rari, sahabatku yang cantik yang sangat aku sayang, dan selalu aku banggakan. Sahabat yang sampai saat ini misterius. Dia tutup usia di umur 20th.

Pertama kali ketemu Rari’  waktu MOS SMPN 6. Pertama kali masuk smp, aku yang masih belum punya teman, duduk di bangku paling belakang sebelah kiri. Di sebelahku ada seorang cewek berambut lurus pendek. Dia menjulurkan tangannya padaku, “Rari,” katanya. Dia adalah teman pertamaku, tapi kita belum dekat. Baru setelah kita kelas 8, kita sekelas. Karena yang aku kenal sedikit di kelas itu, lagi-lagi aku duduk di sebelah Rari. Setelah itu kita semakin dekat dan tak terasa kita sudah bersahabat bersama Ayu, Tutik, dan Lita. Dari situlah persahabatan kita dimulai.

Aku pun semakin mengerti sifat-sifatnya. Rari itu orangnya hemat, bahkan beli jajan waktu istirahat aja jarang banget, sukanya minta jajannya anak-anak. Sampai-sampai dulu kita pernah ngerjain dia dengan nyuekin dia berhari-hari supaya dia berubah nggak minta’an. Bahkan kita bikin peraturan aneh-aneh yang sebenernya nggak penting. Tapi namanya juga SMP, geje.

Semakin hari Rari’ semakin cantik, terutama setelah ia menstruasi. Kecantikannya terpancar dari wajah dan kulitnya. Semakin hari semakin banyak pula yang menyukainya, termasuk Dandung. Ketika itu Dandung satu kelas dengannya. Masih banyak nama lain yang tidak bisa aku sebutkan. Banyaknya yang suka Rari, ternyata tidak membuatnya senang. Ia malah tidak nyaman, apalagi saat itu tidak sedikit anak-anak cewek yang membencinya. Bahkan ada yang menyelipkan surat ancaman di bukunya ketika kita ke kantin. Sifat Rari’ yang tenang membuatnya tidak menggubris surat-surat itu. Silih berganti, banyak laki-laki yang menyatakan perasaannya, namun semuanya ia tolak. Bahkan beberapa diantaranya masih setia menunggu walau ia sudah menolaknya berkali-kali. 

Aku pernah bertanya padanya, kenapa ia menolak semua laki-laki itu? Karena banyak diantaranya juga yang berparas rupawan. Tetapi Rari’ memberiku jawaban, “Kalo mereka serius, mereka nggak bakal nyerah. Dari situ aku bisa tahu siapa yang benar-benar menyukaiku”. Ternyata benar ucapannya, satu per satu berguguran. Ketika sudah beranjak SMA, hanya beberapa saja yang masih bertahan. Aku sempat curiga ketika ada nama seseorang yang yang lumayan sering ia sebut. Jangan-jangan ia menyukai laki-laki itu. Tetapi karena musim ujian, kita jarang bertemu dan jarang bercerita. Berbulan-bulan kemudian, aku mendapat kabar kalau Rari’ sudah punya pacar. Aku konfirmasi ke dia, dengan malu-malu ia meng-iya-kan. Saat itu hubungan mereka sudah pada bulan ketujuh. Aku sempat marah padanya karena dia tidak pernah bercerita padaku. 

Suatu hari (Beberapa bulan yang lalu) kita chat di FB. Dia bilang banyak yang ingin dia ceritakan ke aku. Hari itu juga aku langsung ke rumahnya di Kedung. Sayang, Ayu nggak ada waktu itu. Ketika aku datang, seperti biasa dia menyambutku dengan tawanya yang melengking. Entah kenapa dia selalu melakukan itu. Di dalam, kita bercerita macam-macam. Aku menceritakan pacar baruku, dia menceritakan tentang hubungannya dengan pacarnya. Kemudian kita berjanji suatu saat kita bakal triple date sama Ayu juga. 

Malam sebelum ia pergi, aku memimpikannya. Aku melihat Rari sudah punya dua anak kecil-kecil. Ia senang, tetapi aku menangkap raut sedih di wajahnya.  Tiba-tiba aku terbangun karena ada telepon pagi-pagi. Awalnya aku pikir alarm, eh ternyata Ayu telpon. Sambil setengah sadar aku mengangkat telepon. Ketika Ayu mengabarkan perginya Rari, aku langsung terbangun. Aku sempet tidak percaya, karena selama ini aku tidak tahu kalau Rari sakit, kemudian aku sms Rari. Tidak lama kemudian nomor Rari menelponku. Ketika aku angkat ternyata Masnya Rari. Dengan suara parau menahan air mata, dia mengabarkan kalau Rari sudah pergi.