Kamis, 19 September 2013

Pada awal abad ke-20 terdapat sebuah kerajaan terbesar di Eropa timur yang sangat indah. Dua bukit yang mengelilinginya tampak seperti pagar yang melindungi rumah tuannya. Air jernih  pegunungan mengalir pada dua sungai pertama, meluncur turun dari bukit barat dan timur,  lalu bertemu pada sebuah danau kecil dan kemudian memecah, bercabang seperti ranting menjadi anak-anak sungai yang mengalir ke seluruh tubuh negeri. Mengairi petak-petak sawah, sumur-sumur penduduk, menghidupi segala makhluk yang hidup di sekitarnya.

The Kingdom of East dipimpin oleh sepasang Raja dan Ratu yang merupakan Duke dan Duchess of East. Mereka sangat dicintai oleh rakyatnya karena kemakmuran negerinya. Raja dan Ratu dianugerahi seorang anak laki-laki yang tinggi menjulang seperti ibunya, dan empat saudara perempuan yang cantik seperti sekelompok kucing persia. Anak laki-laki yang bernama Jerapah tumbuh bersama saudaranya dengan cinta dan kasih dari orang tuanya juga seluruh rakyat.
Dua puluh dua tahun berlalu, Jerapah telah bertumbuh menjadi pemuda tampan seperti ayahhya, gagah, pandai bertarung, dan dicintai rakyatnya karena kemurahan hatinya. Namun ada satu hal yang begitu mengganggunya beberapa hari terakhir semenjak percakapannya dengan Raja. 
“Anakku, sudah saatnya Ayah mewariskan mahkota ini padamu. Umurmu sudah cukup untuk mencari calon ratu. Ayah tidak akan memaksamu dengan perjodohan. Temukan cintamu seperti ayah dan ibumu dulu,” ucap Raja yang berbaring lemah.
Jerapah memikirkan degan serius perkataan sang Raja. Namun ia terlalu sibuk dengan berbagai urusan kerajaan menggantikan ayahnya, memastikan bahwa rakyatnya tercukupi, dan berbagai permasalahan yang sangat menyita waktunya. Waktu luang hanya ia manfaatkan untuk membaca, berlatih bertarung, dan istirahat. Sehingga ia tidak sempat memikirkan perempuan walaupun banyak yang mencoba menarik perhatian Duke ini di setiap pesta yang diadakan oleh para bangsawan. Tetapi kali ini ia bertekad untuk segera mendapatkan calon ratu terbaik seperti ibunya. Tidak ada perempuan lain yang sangat ia cintai melebihi cintanya pada ibunya.
Ketika sedang memeriksa dokumen kerajaan, seorang pelayan mendatanginya dan menyerahkan sepucuk surat dari sepupunya, Bangau. Di dalam suratnya, Bangau mengabarkan bahwa ia akan berkunjung di kerajaannya mewakili universitas dalam rangka pendidikan dan lingkungan. Sudah lama sejak tiga tahun yang lalu ia tidak bertemu dengan sepupunya. Sejak kecil Bangau selalu menempel padanya jika bertemu. Bangau telah menganggapnya seperti kakak laki-laki karena ia tidak pernah mengenal kakak laki-lakinya yang telah meninggal ketika masih bayi. Jerapah  menutup dokumennya dan menulis surat balasan.
Tiga rombongan kereta kuda bergaya Eropa berhenti di halaman istana yang luas. Dari kereta pertama yang terlihat paling mewah, turunlah perempuan cantik yang tak lain adalah sepupunya, Bangau. Dari gaunnya mewahnya terlihat bahwa ia masih keluarga kerajaan. Dibelakangnya turunlah para perempuan anggun lainnya, yaitu Sapi, Burung Hantu, Anjing, dan Monyet. Dari kereta pertama dan kedua keluarlah para perempuan bangsawan, sedangkan di kereta ketiga yang lebih besar berisi pemuda bangsawan. Jerapah menyambut baik kehadiran mereka dengan makan malam mewah ala kerajaan, dan memerintahkan para pelayan untuk mengurus segala kebutuhan mereka.
Keesokan harinya sampai hari terakhir rombongan Bangau di istananya, Jerapah tidak dapat tinggal karena harus mengunjungi kerajaan tetangga. Ia merasa sedikit bersalah pada sepupunya karena telah menjanjikan akan menemaninya selama berkunjung. Namun tugas kerajaan kali ini tidak dapat ia tinggalkan. Demi menebus janji, Jerapah mengadakan sebuah pesta penyambutan sekaligus perpisahan untuk Bangau dan teman-temannya di malam terakhir mereka. Ia memastikan asisten pribadinya untuk menunda semua rencananya di hari itu.
Musik dimainkan oleh musisi terbaik kerajaan, makanan dan minuman dari koki terbaik kerajaan dihidangkan, pakaian rancangan terbaik mereka kenakan, semua serba terbaik, glamor, berkilau, namun belum membuat Jerapah tertarik. Ia bahkan mulai jenuh dengan para gadis bangsawan yang mengelilinginya seperti kawanan semut terhadap gula. Segelas minuman dingin mungkin bisa membuatnya kembali segar, pikirnya. Ia permisi meninggalkan kerumunan dan berjalan menuju meja minuman. Saat akan mengambil gelas, seorang pemuda yang terlihat mabuk menabraknya sehingga ia menabrak perempuan di sebelahnya yang sedang mengambil buah. Pemuda mabuk yang terkejut karena menabrak sang tuan rumah langsung kabur setelah membungkuk meminta maaf.
Saat Jerapah akan meminta maaf pada gadis yang ia tabrak, terdengarlah keributan kecil. Di belakangnya, Monyet dan Anjing sedang menceramahi Burung hantu karena tidak menghargai makanan, tidak bersyukur karena membuang makanan yang belum tentu bisa dibeli rakyat, dan sebagainya. Ia baru memahami percakapan mereka setelah menemukan sebuah anggur merah menggelinding di depan sepatunya.
 “Sudah, tidak apa-apa. Bukan Burung hantu yang salah, tetapi aku lah yang telah membuatnya menjatuhkan buah itu,” Jerapah menengahi. 
“Tidak bisa yang mulia, itu sama saja tidak menghargai rakyat. Sebagai aktivis lingkungan kita tidak boleh membuang makanan...” Monyet ikut menceramahi Burung Hantu. Jerapah membungkuk dan memungut anggur di depan sepatunya lalu meletakkannya di telapak tangan Monyet.
“Dengan begini tidak ada makanan yang terbuang, iya kan?” ucapnya dengan senyum pangerannya yang seketika membuat Anjing dan Monyet terpana. “Permisi nona-nona,” lanjutnya lalu meninggalkan kerumunan. Semua orang yang sempat menonton keributan kembali melanjutkan pesta saat sang pangeran mengisyaratkan para pemain musik untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Aku yakin mereka syok mengetahui sifat jahilmu,” Bangau datang menghampirinya. Jerapah hanya tertawa kecil mendengar ucapan sepupunya dan berjalan ke tempat yang tidak terlalu ramai, ditemani Bangau di sampingnya. Bangau mengenakan gaun pink berpotongan rendah di bagian dada dengan bagian lengan dan rok menggembung. Kalung bermata safir menghiasi lehernya, dan rambut pirangnya ditata ke atas dengan hiasan berkilau. Mereka memilih menikmati pesta dari pinggir lantai dansa untuk menghindari keramaian. 
“Gimana, sudah menetapkan pilihan?” lanjut Bangau sambil memberikan salah satu gelas minuman dingin yang ia bawa untuk sepupunya. Jerapah hanya diam menenggak minumannya sambil memandangi para pemuda dan gadis-gadis yang berdansa diiringi alunan musik Waltz. Bangau mengikuti arah pandang sepupunya, bertanya-tanya apa yang begitu menarik perhatiannya hingga ia tidak dihiraukan.
“Jadi, itu yang kamu pilih?” Bangau mengangguk paham mengikuti mata sepupunya yang mengunci pada salah satu gadis berambut coklat kemerahan yang mengenakan gaun chiffon kuning dengan bagian rok yang tidak terlalu menggembung dan bagian atas yang berpotongan manis memamerkan pundak, serta liontin kecil menghiasi leher jenjangnya. Ia melihat Burung hantu sedang berdiri di pinggir lantai dansa sambil menolak halus seorang pemuda yang mengajaknya berdansa. 
“Menurutmu?” tanya Jerapah sambil meletakkan gelas pada baki pelayan di dekatnya. 
“Dia baik sih, tapi bukan bangsawan kelas satu-dua seperti kau dan aku. Karena itulah dia sering dikerjai seperti tadi. Ayo, temani aku dansa sebelum laki-laki itu mengajakku,” Bangau menarik lengan Jerapah ke tengah lantai dansa. Seorang laki-laki dengan mulut penuh makanan terlihat kecewa karena gadis pujaannya berdansa dengan pangeran.
Keesokan harinya, dengan berat hati Jerapah mengantar kepulangan sepupunya beserta rombongan dari halaman istana. Di dalam kereta, Bangau mengeluarkan sebuah bungkusan dan menyerahkannya pada Burung hantu, “Ini dari sepupuku”. Burung hantu menerima bungkusan itu dengan sedikit heran. Ia terkejut saat membukanya dan mengetahui isi bungkusan itu yang ternyata adalah sebuah buku dengan selembar memo diselipkan di balik sampulnya.
Ini salah satu buku kesukaanku. Semoga kamu menyukainya. Jerapah.
Burung hantu lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa pengirimnya. 
“Ini beneran?” tanyanya tidak percaya. Teman satu keretanya yang juga penasaran ikut membacanya dan mereka memekik tidak percaya. Bangau tersenyum dan mengangguk kepada Burung hantu. Burung hantu berteriak dalam hati, tidak percaya bahwa ia diberi hadiah oleh pangeran. Di dalam sebuah kereta kuda mewah yang semakin menjauh ke barat, seorang gadis bukan bangsawan telah jatuh cinta.
Beberapa hari kemudian, Jerapah dan Burung hantu mulai saling berkomunikasi dengan surat yang diantar kurir setiap tiga hari sekali karena tempat ia tinggal di daerah pinggir yang jauh dari istana. Ia menyimpan baik-baik setiap surat yang ia terima selama tiga bulan ke dalam sebuah kotak yang ia letakkan di dalam laci mejanya. Terkadang saat ia tidak sabar menunggu surat balasan, ia membacanya berulang kali hingga ia hapal setiap isi surat. Jatuh cinta membuat tingkah lakunya sedikit tidak wajar sehingga adiknya selalu geleng kepala setiap melihat kelakuan kakaknya. Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi sedikit tidak waras. 
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Semakin lama, ia hanya menerima surat seminggu sekali, lalu berubah dua minggu sekali, dan ia belum mendapatkan balasan selama satu bulan terakhir. Setiap hari ia menunggu di kamarnya. Berkali-kali ia mengintip jendela kamar saat mendengar suara langkah kaki mendekati rumahnya dan kecewa karena tidak ada surat untuknya. Berkali-kali ia membongkar kotaknya dan membaca ulang setiap surat yang kini berbercak karena tetesan air mata yang telah mengering. Setiap tetes yang jatuh merupakan sebuah pertanyaan yang bermunculan seiring dengan ketidakberdayaannya menuntut jawaban. Melihat begitu banyaknya bercak, sudah diketahui betapa banyaknya pertanyaan dan air mata yang dibiarkan mengering tanpa terjawab.
Ia membuka jendela kamarnya, angin dingin yang menerobos masuk meniup lembut rambut panjangnya. Burung Hantu memandangi bulan purnama yang terlihat sangat indah. Bulatnya sempurna dengan cahaya terang berwarna putih kekuningan, sangat kontras dengan langit yang gelap. Ia hirup dalam-dalam udara malam itu lalu menghembuskannya dengan perlahan. Seiring dengan udara yang keluar dari mulutnya, ia merasakan ketenangan dalam hatinya. Air matanya telah berhenti mengalir. Seperti telah disuntikkan serum penyemangat, ia menutup kembali jendela kamar lalu mengambil selembar kertas dan mulai menulis sebuah surat.


Kepada Yang Mulia Jerapah The Duke of East,
Hai, bagaimana kabarmu? Sudah dua bulan aku tidak mendapat balasanmu. Ini adalah surat ketiga yang aku kirim dalam dua bulan ini. Aku tidak tahu hal apa yang membuat surat-suratku tidak lagi kamu balas. Yang aku pahami adalah mungkin selama ini aku telah tenggelam dalam fantasiku bahwa kamu tertarik padaku. Yah, aku telah mendapatkan tendangan dasyat dari kenyataan yang membuatku terbangun dari mimpi. Aku memahami bahwa sama sekali tidak warna biru yang mengalir dalam darahku, sedangkan kamu adalah seorang yang dimuliakan seluruh rakyat. Maaf atas ketidaksopanan penyebutan saya kepada Yang Mulia Jerapah The Duke of East.
Saya ingin mengucapkan terimakasih atas permberian buku dan kiriman surat-surat Yang Mulia selama ini. Walau singkat tetapi sangat membuat saya bahagia. Tidak perlu khawatir Yang Mulia, ini adalah surat terakhir saya. Saya akan selalu mendoakan kebahagiaan Yang Mulia dan seluruh kerajaan. Semoga Yang Mulia bisa menemukan gadis bangsawan baik hati  yang mampu mendampingi anda menjalankan kerajaan.
Salam,
Burung Hantu The Common of People

Minggu, 08 September 2013

Kompilasi Rectoverso Dee

Melukiskanmu saat senja. Memanggil namamu ke ujung dunia. Tiada yang lebih pilu, tiada yang menjawabku selain hatiku dan ombak berderu.

Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.

Tiada yang mampu merengkuh arti dan isi hati. Kadang benda mati yang memenangkan tempat di sisimu, atau hewan kecil yang luput dari pandanganmu. Ku ingin jadi cicak di dindingmu. Hanya suara dan tatapku menemanimu.

Dan ku menyadari tanganku. Tak kan mampu meraihmu. Walau cinta katanya  tak kan lelah memberi.
Kulepas engkau ombak hatiku. Percikmu abadi menyegarkanku. Namun biarlah kini, kuingin jadi cicak. Hanya suara dan tatapku menemanimu.


Sahabatku, usai tawa ini izinkan aku bercerita:

Telah jauh, ku mendaki. Sesak udara di atas puncak khayalan. Jangan sampai kau di sana. Telah jauh, ku terjatuh. Pedihnya luka di dasar jurang kecewa. Dan kini sampailah, aku disini...
Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan, atau hujan.

“If once we had decided to forget, then we alone can decide to remember. We all started the same journey. This had been an illusion of a journey, for it didn't have a start and didn't have an end.”

"Mereka yang tidak paham dahsyatnya api akan mengobarkannya dengan sembrono. Mereka yang tidak paham energi cinta akan meledakkannya dengan sia-sia. Dirinya bukan malaikat yang tahu siapa lebih mencintai siapa dan untuk berapa lama. Tidak penting. Ia sudah tahu. Cintanya adalah paket air mata, keringat, dan dedikasi untuk merangkai jutaan hal kecil agar dunia ini menjadi tempat yang indah dan masuk akal bagi seseorang."




Diambil* dari Rectoverso karya Dee:
Aku Ada_Cicak di dinding_Curhat Buat Sahabat_Hanya Isyarat_ Back to Heaven’s Light_Malaikat Juga Tahu
*Melewati proses pembacaan, cut dan paste, serta dibantu oleh imajinasi.

Jumat, 06 September 2013

Surat Cinta Untuk Istriku


     Kepada: Sasmi
Di manapun engkau berada


Istriku tersayang,


Bagaimana kabarmu dan anak kita? Aku harap kalian selalu bahagia dan tidak lelah tersenyum. Di sini aku baik-baik saja, namun lama tidak bertemu denganmu membuatku rindu setengah mati. Banyak cerita yang ingin aku bagi denganmu, juga dengan anak kita tercinta. Setiap malam aku selalu membayangkan wajahmu tersenyum dan bagaimana wajah anak kita sekarang.  Aku berharap bisa memeluknya setiap hari, menceritakan dongeng, juga menemaninya tidur saat terbangun tengah malam. Tidak bisa bertemu kalian, ingin sekali rasanya aku pergi ke tempat kalian karena rindu yang sudah tak tertahankan. Lalu aku teringat saat-saat kita masih dimabuk cinta.


Saat dimana aku masih tergabung dalam Pemuda Rakyat dan engkau di Gerwani. Tanpa engkau sadari, diam-siam aku sering memperhatikanmu yang duduk di dekat jendela. Aku ingat saat itu engkau mengenakan baju putih dan rambut panjangmu yang tergerai, bergerak-gerak teriup angin. Ingin sekali aku menyentuh rambutmu yang berkilau terpapar matahari sore. Saat itu aku berandai-andai, di masa yang akan datang aku akan melihatmu membawakanku secangkir kopi pahit setiap pagi, lalu aku akan menciummu dengan lembut di kening. 


Namun aku sedikit kesal saat Sapidi, pemuda bergigi tonggos yang duduk disebelahku membuyarkan lamunanku tentangmu, karena pertemuan hari itu telah usai. Saat melihatmu bangkit dari kursi, aku menyadari bahwa aku akan kehilanganmu jika aku tidak berani menanyakan namamu. Dan beberapa bulan kemudian akhirnya keluargamu menerima lamaranku dan engkau pun menjadi istriku. Sasmi, engkau satu-satunya wanita yang paling menawan hatiku, engkau merupakan jawaban dari doaku, engkau adalah keajaiban di hidupku, dan rumah bagi sajak-sajak yang selalu kutulis di tanggal pernikahan kita.


Sayangku, kita sama-sama tahu bahwa walaupun Tuhan mempersatukan kita, pada akhirnya kita akan terpisah. Saat itu kondisi kita sangat mengkhawatirkan. Banyak teman-teman kita yang menghilang dari kamar tidurnya. Aku selalu berdoa agar kita dan anak yang ada di rahimmu bisa melewati hari-hari dengan selamat. Aku ingat saat itu engkau menolak berpisah denganku untuk bersembunyi di rumah saudaramu di Surabaya, sedangkan aku akan bersembunyi bersama Sapidi di dalam hutan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah denganmu, tetapi hanya inilah pilihan yang terbaik, dan aku berjanji akan langsung menemuimu begitu keadaan sudah tenang. 


Di dalam hutan, kami terus berlari menghindari orang-orang yang ingin menangkap kami. Dalam pelarian aku berdoa semoga Tuhan memberikanmu kekuatan untuk terus bangkit dan terus berlari sepertiku. Walaupun sampai terpeleset ke jurang, tidak makan selama berhari-hari, dan berkali-kali ingin berhenti, namun saat mengingat wajahmu yang malu ketika kucium keningmu, membuat tubuhku tetap berdiri dan kakiku terus berlari. 


Saat kusadari suara langkah kaki Sapidi telah menghilang selama berjam-jam, aku tetap tidak berhenti. Aku semakin mempercepat langkahku karena sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lalu mengecup keningmu. Di tengah perjalanan selama berminggu-minggu menuju Surabaya, aku membayangkan engkau dan anak kita berdiri di depan pintu, tersenyum menyambut kedatanganku. Namun ketika aku sampai, saudaramu mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat kedatanganmu. Saat itu baru kusadari aku telah jauh berlari, tubuhku sangat lelah, dan air mataku tidak berhenti mengalir. Setiap hari aku menunggumu, terus menunggumu di depan pintu dengan senyum yang tak pernah pudar untukmu. Sampai seperti itulah aku mencintaimu Sasmi, dan tidak akan pernah berubah walau di kehidupan yang abadi kelak. 


Sasmi sayangku, aku akan mengakhiri surat ini karena matahari mulai menampakkan wujudnya. Namun Sasmi, hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi menunggumu, karena sebentar lagi aku akan menyusul ke tempat dimana ada engkau dan anak kita.


Sasmi  istriku, dan anakku yang tidak pernah lahir, aku mencintaimu.



Surabaya, 1 Juli 2012
Suami dan ayah,  
Siswanto