Pada awal abad ke-20 terdapat sebuah kerajaan terbesar di
Eropa timur yang sangat indah. Dua bukit yang mengelilinginya tampak seperti
pagar yang melindungi rumah tuannya. Air jernih pegunungan mengalir pada dua sungai pertama,
meluncur turun dari bukit barat dan timur,
lalu bertemu pada sebuah danau kecil dan kemudian memecah, bercabang
seperti ranting menjadi anak-anak sungai yang mengalir ke seluruh tubuh negeri.
Mengairi petak-petak sawah, sumur-sumur penduduk, menghidupi segala makhluk
yang hidup di sekitarnya.
The Kingdom of East dipimpin oleh sepasang Raja dan Ratu
yang merupakan Duke dan Duchess of East. Mereka sangat dicintai oleh rakyatnya
karena kemakmuran negerinya. Raja dan Ratu dianugerahi seorang anak laki-laki
yang tinggi menjulang seperti ibunya, dan empat saudara perempuan yang cantik
seperti sekelompok kucing persia. Anak laki-laki yang bernama Jerapah tumbuh
bersama saudaranya dengan cinta dan kasih dari orang tuanya juga seluruh rakyat.
Dua puluh dua tahun berlalu, Jerapah telah bertumbuh
menjadi pemuda tampan seperti ayahhya, gagah, pandai bertarung, dan dicintai
rakyatnya karena kemurahan hatinya. Namun ada satu hal yang begitu
mengganggunya beberapa hari terakhir semenjak percakapannya dengan Raja.
“Anakku, sudah saatnya Ayah mewariskan mahkota ini padamu. Umurmu sudah cukup untuk
mencari calon ratu. Ayah tidak akan memaksamu dengan perjodohan. Temukan
cintamu seperti ayah dan ibumu dulu,” ucap Raja yang berbaring lemah.
Jerapah memikirkan degan serius perkataan sang Raja. Namun
ia terlalu sibuk dengan berbagai urusan kerajaan menggantikan ayahnya, memastikan
bahwa rakyatnya tercukupi, dan berbagai permasalahan yang sangat menyita
waktunya. Waktu luang hanya ia manfaatkan untuk membaca, berlatih bertarung,
dan istirahat. Sehingga ia tidak sempat memikirkan perempuan walaupun banyak
yang mencoba menarik perhatian Duke ini di setiap pesta yang diadakan oleh para
bangsawan. Tetapi kali ini ia bertekad untuk segera mendapatkan calon ratu
terbaik seperti ibunya. Tidak ada perempuan lain yang sangat ia cintai melebihi
cintanya pada ibunya.
Ketika sedang memeriksa dokumen kerajaan, seorang pelayan mendatanginya
dan menyerahkan sepucuk surat dari sepupunya, Bangau. Di dalam suratnya, Bangau
mengabarkan bahwa ia akan berkunjung di kerajaannya mewakili universitas dalam
rangka pendidikan dan lingkungan. Sudah lama sejak tiga tahun yang lalu ia
tidak bertemu dengan sepupunya. Sejak kecil Bangau selalu menempel padanya jika
bertemu. Bangau telah menganggapnya seperti kakak laki-laki karena ia tidak
pernah mengenal kakak laki-lakinya yang telah meninggal ketika masih bayi.
Jerapah menutup dokumennya dan menulis
surat balasan.
Tiga rombongan kereta kuda bergaya Eropa berhenti di
halaman istana yang luas. Dari kereta pertama yang terlihat paling mewah,
turunlah perempuan cantik yang tak lain adalah sepupunya, Bangau. Dari gaunnya
mewahnya terlihat bahwa ia masih keluarga kerajaan. Dibelakangnya turunlah para
perempuan anggun lainnya, yaitu Sapi, Burung Hantu, Anjing, dan Monyet. Dari kereta
pertama dan kedua keluarlah para perempuan bangsawan, sedangkan di kereta ketiga
yang lebih besar berisi pemuda bangsawan. Jerapah menyambut baik kehadiran
mereka dengan makan malam mewah ala kerajaan, dan memerintahkan para pelayan
untuk mengurus segala kebutuhan mereka.
Keesokan harinya sampai hari terakhir rombongan Bangau di
istananya, Jerapah tidak dapat tinggal karena harus mengunjungi kerajaan
tetangga. Ia merasa sedikit bersalah pada sepupunya karena telah menjanjikan
akan menemaninya selama berkunjung. Namun tugas kerajaan kali ini tidak dapat
ia tinggalkan. Demi menebus janji, Jerapah mengadakan sebuah pesta penyambutan
sekaligus perpisahan untuk Bangau dan teman-temannya di malam terakhir mereka.
Ia memastikan asisten pribadinya untuk menunda semua rencananya di hari itu.
Musik dimainkan oleh musisi terbaik kerajaan, makanan dan
minuman dari koki terbaik kerajaan dihidangkan, pakaian rancangan terbaik mereka
kenakan, semua serba terbaik, glamor, berkilau, namun belum membuat Jerapah
tertarik. Ia bahkan mulai jenuh dengan para gadis bangsawan yang
mengelilinginya seperti kawanan semut terhadap gula. Segelas minuman dingin
mungkin bisa membuatnya kembali segar, pikirnya. Ia permisi meninggalkan
kerumunan dan berjalan menuju meja minuman. Saat akan mengambil gelas, seorang
pemuda yang terlihat mabuk menabraknya sehingga ia menabrak perempuan di
sebelahnya yang sedang mengambil buah. Pemuda mabuk yang terkejut karena
menabrak sang tuan rumah langsung kabur setelah membungkuk meminta maaf.
Saat Jerapah akan meminta maaf pada gadis yang ia tabrak,
terdengarlah keributan kecil. Di belakangnya, Monyet dan Anjing sedang
menceramahi Burung hantu karena tidak menghargai makanan, tidak bersyukur
karena membuang makanan yang belum tentu bisa dibeli rakyat, dan sebagainya. Ia
baru memahami percakapan mereka setelah menemukan sebuah anggur merah
menggelinding di depan sepatunya.
“Sudah, tidak apa-apa. Bukan Burung hantu yang
salah, tetapi aku lah yang telah membuatnya menjatuhkan buah itu,” Jerapah
menengahi.
“Tidak bisa yang mulia, itu sama saja tidak menghargai rakyat.
Sebagai aktivis lingkungan kita tidak boleh membuang makanan...” Monyet ikut
menceramahi Burung Hantu. Jerapah membungkuk dan memungut anggur di depan
sepatunya lalu meletakkannya di telapak tangan Monyet.
“Dengan begini tidak ada
makanan yang terbuang, iya kan?” ucapnya dengan senyum pangerannya yang
seketika membuat Anjing dan Monyet terpana. “Permisi nona-nona,” lanjutnya lalu
meninggalkan kerumunan. Semua orang yang sempat menonton keributan kembali melanjutkan
pesta saat sang pangeran mengisyaratkan para pemain musik untuk melanjutkan
pekerjaannya.
“Aku yakin mereka syok mengetahui sifat jahilmu,” Bangau datang
menghampirinya. Jerapah hanya tertawa kecil mendengar ucapan sepupunya dan
berjalan ke tempat yang tidak terlalu ramai, ditemani Bangau di sampingnya. Bangau
mengenakan gaun pink berpotongan rendah di bagian dada dengan bagian lengan dan
rok menggembung. Kalung bermata safir menghiasi lehernya, dan rambut pirangnya
ditata ke atas dengan hiasan berkilau. Mereka memilih menikmati pesta dari pinggir
lantai dansa untuk menghindari keramaian.
“Gimana, sudah menetapkan pilihan?” lanjut Bangau sambil memberikan salah satu gelas minuman dingin yang ia
bawa untuk sepupunya. Jerapah hanya diam menenggak minumannya sambil memandangi
para pemuda dan gadis-gadis yang berdansa diiringi alunan musik Waltz. Bangau
mengikuti arah pandang sepupunya, bertanya-tanya apa yang begitu menarik
perhatiannya hingga ia tidak dihiraukan.
“Jadi, itu yang kamu pilih?” Bangau mengangguk paham
mengikuti mata sepupunya yang mengunci pada salah satu gadis berambut coklat
kemerahan yang mengenakan gaun chiffon kuning dengan bagian rok yang tidak
terlalu menggembung dan bagian atas yang berpotongan manis memamerkan pundak, serta
liontin kecil menghiasi leher jenjangnya. Ia melihat Burung hantu sedang
berdiri di pinggir lantai dansa sambil menolak halus seorang pemuda yang
mengajaknya berdansa.
“Menurutmu?” tanya Jerapah sambil meletakkan gelas pada
baki pelayan di dekatnya.
“Dia baik sih, tapi bukan bangsawan kelas satu-dua
seperti kau dan aku. Karena itulah dia sering dikerjai seperti tadi. Ayo,
temani aku dansa sebelum laki-laki itu mengajakku,” Bangau menarik lengan
Jerapah ke tengah lantai dansa. Seorang laki-laki dengan mulut penuh makanan
terlihat kecewa karena gadis pujaannya berdansa dengan pangeran.
Keesokan harinya, dengan berat hati Jerapah mengantar
kepulangan sepupunya beserta rombongan dari halaman istana. Di dalam kereta,
Bangau mengeluarkan sebuah bungkusan dan menyerahkannya pada Burung hantu, “Ini
dari sepupuku”. Burung hantu menerima bungkusan itu dengan sedikit heran. Ia
terkejut saat membukanya dan mengetahui isi bungkusan itu yang ternyata adalah
sebuah buku dengan selembar memo diselipkan di balik sampulnya.
Ini salah satu buku
kesukaanku. Semoga kamu menyukainya. Jerapah.
Burung hantu lebih terkejut lagi saat mengetahui siapa
pengirimnya.
“Ini beneran?” tanyanya tidak percaya. Teman satu keretanya yang juga
penasaran ikut membacanya dan mereka memekik tidak percaya. Bangau tersenyum
dan mengangguk kepada Burung hantu. Burung hantu berteriak dalam hati, tidak
percaya bahwa ia diberi hadiah oleh pangeran. Di dalam sebuah kereta kuda mewah
yang semakin menjauh ke barat, seorang gadis bukan bangsawan telah jatuh cinta.
Beberapa hari kemudian, Jerapah dan Burung hantu mulai saling
berkomunikasi dengan surat yang diantar kurir setiap tiga hari sekali karena
tempat ia tinggal di daerah pinggir yang jauh dari istana. Ia menyimpan
baik-baik setiap surat yang ia terima selama tiga bulan ke dalam sebuah kotak
yang ia letakkan di dalam laci mejanya. Terkadang saat ia tidak sabar menunggu
surat balasan, ia membacanya berulang kali hingga ia hapal setiap isi surat.
Jatuh cinta membuat tingkah lakunya sedikit tidak wajar sehingga adiknya selalu
geleng kepala setiap melihat kelakuan kakaknya. Cinta memang bisa membuat
seseorang menjadi sedikit tidak waras.
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat. Semakin
lama, ia hanya menerima surat seminggu sekali, lalu berubah dua minggu sekali,
dan ia belum mendapatkan balasan selama satu bulan terakhir. Setiap hari ia
menunggu di kamarnya. Berkali-kali ia mengintip jendela kamar saat mendengar
suara langkah kaki mendekati rumahnya dan kecewa karena tidak ada surat untuknya.
Berkali-kali ia membongkar kotaknya dan membaca ulang setiap surat yang kini
berbercak karena tetesan air mata yang telah mengering. Setiap tetes yang jatuh
merupakan sebuah pertanyaan yang bermunculan seiring dengan ketidakberdayaannya
menuntut jawaban. Melihat begitu banyaknya bercak, sudah diketahui betapa
banyaknya pertanyaan dan air mata yang dibiarkan mengering tanpa terjawab.
Ia membuka jendela kamarnya, angin dingin yang menerobos
masuk meniup lembut rambut panjangnya. Burung Hantu memandangi bulan purnama
yang terlihat sangat indah. Bulatnya sempurna dengan cahaya terang berwarna
putih kekuningan, sangat kontras dengan langit yang gelap. Ia hirup dalam-dalam
udara malam itu lalu menghembuskannya dengan perlahan. Seiring dengan udara
yang keluar dari mulutnya, ia merasakan ketenangan dalam hatinya. Air matanya
telah berhenti mengalir. Seperti telah disuntikkan serum penyemangat, ia
menutup kembali jendela kamar lalu mengambil selembar kertas dan mulai menulis
sebuah surat.
Kepada Yang Mulia Jerapah
The Duke of East,
Hai, bagaimana
kabarmu? Sudah dua bulan aku tidak mendapat balasanmu. Ini adalah surat ketiga
yang aku kirim dalam dua bulan ini. Aku tidak tahu hal apa yang membuat
surat-suratku tidak lagi kamu balas. Yang aku pahami adalah mungkin selama ini
aku telah tenggelam dalam fantasiku bahwa kamu tertarik padaku. Yah, aku telah
mendapatkan tendangan dasyat dari kenyataan yang membuatku terbangun dari
mimpi. Aku memahami bahwa sama sekali tidak warna biru yang mengalir dalam
darahku, sedangkan kamu adalah seorang yang dimuliakan seluruh rakyat. Maaf
atas ketidaksopanan penyebutan saya kepada Yang Mulia Jerapah The Duke of East.
Saya ingin
mengucapkan terimakasih atas permberian buku dan kiriman surat-surat Yang Mulia
selama ini. Walau singkat tetapi sangat membuat saya bahagia. Tidak perlu
khawatir Yang Mulia, ini adalah surat terakhir saya. Saya akan selalu mendoakan
kebahagiaan Yang Mulia dan seluruh kerajaan. Semoga Yang Mulia bisa menemukan gadis
bangsawan baik hati yang mampu
mendampingi anda menjalankan kerajaan.
Salam,
Burung Hantu The Common of People
