Rabu, 20 April 2011

R A R I '


Carry You Home
James Blunt

Trouble is her only friend and he's back again.
Makes her body older than it really is.
She says it's high time she went away,
No one's got much to say in this town.
Trouble is the only way is down.
Down, down.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

If she had wings she would fly away,
And another day God will give her some.
Trouble is the only way is down.
Down, down.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

And they were all born pretty in New York City tonight,
And someone's little girl was taken from the world tonight,
Under the Stars and Stripes.

As strong as you were, tender you go.
I'm watching you breathing for the last time.
A song for your heart, but when it is quiet,
I know what it means and I'll carry you home.
I'll carry you home.

Rari, sahabatku yang cantik yang sangat aku sayang, dan selalu aku banggakan. Sahabat yang sampai saat ini misterius. Dia tutup usia di umur 20th.

Pertama kali ketemu Rari’  waktu MOS SMPN 6. Pertama kali masuk smp, aku yang masih belum punya teman, duduk di bangku paling belakang sebelah kiri. Di sebelahku ada seorang cewek berambut lurus pendek. Dia menjulurkan tangannya padaku, “Rari,” katanya. Dia adalah teman pertamaku, tapi kita belum dekat. Baru setelah kita kelas 8, kita sekelas. Karena yang aku kenal sedikit di kelas itu, lagi-lagi aku duduk di sebelah Rari. Setelah itu kita semakin dekat dan tak terasa kita sudah bersahabat bersama Ayu, Tutik, dan Lita. Dari situlah persahabatan kita dimulai.

Aku pun semakin mengerti sifat-sifatnya. Rari itu orangnya hemat, bahkan beli jajan waktu istirahat aja jarang banget, sukanya minta jajannya anak-anak. Sampai-sampai dulu kita pernah ngerjain dia dengan nyuekin dia berhari-hari supaya dia berubah nggak minta’an. Bahkan kita bikin peraturan aneh-aneh yang sebenernya nggak penting. Tapi namanya juga SMP, geje.

Semakin hari Rari’ semakin cantik, terutama setelah ia menstruasi. Kecantikannya terpancar dari wajah dan kulitnya. Semakin hari semakin banyak pula yang menyukainya, termasuk Dandung. Ketika itu Dandung satu kelas dengannya. Masih banyak nama lain yang tidak bisa aku sebutkan. Banyaknya yang suka Rari, ternyata tidak membuatnya senang. Ia malah tidak nyaman, apalagi saat itu tidak sedikit anak-anak cewek yang membencinya. Bahkan ada yang menyelipkan surat ancaman di bukunya ketika kita ke kantin. Sifat Rari’ yang tenang membuatnya tidak menggubris surat-surat itu. Silih berganti, banyak laki-laki yang menyatakan perasaannya, namun semuanya ia tolak. Bahkan beberapa diantaranya masih setia menunggu walau ia sudah menolaknya berkali-kali. 

Aku pernah bertanya padanya, kenapa ia menolak semua laki-laki itu? Karena banyak diantaranya juga yang berparas rupawan. Tetapi Rari’ memberiku jawaban, “Kalo mereka serius, mereka nggak bakal nyerah. Dari situ aku bisa tahu siapa yang benar-benar menyukaiku”. Ternyata benar ucapannya, satu per satu berguguran. Ketika sudah beranjak SMA, hanya beberapa saja yang masih bertahan. Aku sempat curiga ketika ada nama seseorang yang yang lumayan sering ia sebut. Jangan-jangan ia menyukai laki-laki itu. Tetapi karena musim ujian, kita jarang bertemu dan jarang bercerita. Berbulan-bulan kemudian, aku mendapat kabar kalau Rari’ sudah punya pacar. Aku konfirmasi ke dia, dengan malu-malu ia meng-iya-kan. Saat itu hubungan mereka sudah pada bulan ketujuh. Aku sempat marah padanya karena dia tidak pernah bercerita padaku. 

Suatu hari (Beberapa bulan yang lalu) kita chat di FB. Dia bilang banyak yang ingin dia ceritakan ke aku. Hari itu juga aku langsung ke rumahnya di Kedung. Sayang, Ayu nggak ada waktu itu. Ketika aku datang, seperti biasa dia menyambutku dengan tawanya yang melengking. Entah kenapa dia selalu melakukan itu. Di dalam, kita bercerita macam-macam. Aku menceritakan pacar baruku, dia menceritakan tentang hubungannya dengan pacarnya. Kemudian kita berjanji suatu saat kita bakal triple date sama Ayu juga. 

Malam sebelum ia pergi, aku memimpikannya. Aku melihat Rari sudah punya dua anak kecil-kecil. Ia senang, tetapi aku menangkap raut sedih di wajahnya.  Tiba-tiba aku terbangun karena ada telepon pagi-pagi. Awalnya aku pikir alarm, eh ternyata Ayu telpon. Sambil setengah sadar aku mengangkat telepon. Ketika Ayu mengabarkan perginya Rari, aku langsung terbangun. Aku sempet tidak percaya, karena selama ini aku tidak tahu kalau Rari sakit, kemudian aku sms Rari. Tidak lama kemudian nomor Rari menelponku. Ketika aku angkat ternyata Masnya Rari. Dengan suara parau menahan air mata, dia mengabarkan kalau Rari sudah pergi.

Selasa, 12 April 2011

Parang Jati + Sandi Yuda = Andhang Jaya

Jika terlalu banyak kebetulan, apakah itu tidak bermakna?
Orang religius menganggapnya kuasa illahi,
sedangkan ilmuwan akan mencari pola-pola.
(Manjali dan Cakrabirawa - Ayu Utami-)

Mata itu,,
Mata parang Jati yang muncul ketika ia menatapku. Mata teduh yang lembut, dalam nan rumit, berpengetahuan, dan tak ada ujungnya jika ditelusuri.
Mata Sandi Yuda-nya yang kokoh, cadas, tak dapat dibantah, namun ringan dan sederhana yang sering ia perlihatkan pada orang lain.

Mata dari dua tokoh yang berbeda, mata yang saling timbul dan tenggelam. Aku mencintai keduanya seperti Marja Manjali yang mencintai keduanya. Tetapi keduanya melebur menjadi satu dalam sosok Andhang Jaya, kekasihku.

Mata yang beberapa hari lalu membawaku pada candaannya. Mata yang kemudian kembali dingin, menyimpan luka, kejenuhan, dan bimbang.

Mata itu memberitahuku bahwa ia akan mencari rumah baru dimana aku harus menyimpan baik-baik wajahnya. Sempat kukira hari itu masih lama. Tetapi mata itu mengubahnya lagi menjadi tidak lama lagi. Yah, itu membuat remah-remah yang aku kumpulkan darinya tidak bisa menjadi potongan biskuit coklat sampai dia kembali lagi.

Cekungan yang ia pilih, terlalu jauh untuk dilompati. Mau tak mau aku harus melewatinya, walaupun aku akan terpeleset dan terjatuh. Tapi aku tidak akan menyerah untuk mencapai puncak tertinggi dimana aku kembali bisa melihat indahnya dunia. Dalam perjalanan itu pula aku akan menggenggam tangannya dari jauh, agar aku dan dia tidak akan lupa bahwa masih ada KITA.

Semoga berbagai kebetulan-kebetulan yang telah mempertemukan kita bukanlah tak bermakna. Aku percaya, ada hal baik yang menunggu kita di sana, dibalik cekungan dalam itu.