Rabu, 22 Desember 2010

Dear Alter ego,


Bisakah kamu menghilang? Aku benar-benar tidak membutuhkanmu. Kamu merusak segalanya. Kamu cukup muncul di rumah, tak perlu kamu mencampuri urusanku lagi. Keegoisanmu, amarahmu cukup kamu tunjukkan di rumah. Selama ini kamu tidak pernah muncul selain di rumah, tapi kenapa setelah aku bersamanya, kamu keluar dari persembunyianmu? Apa karena sekarang aku punya hati? Tidak perlu kamu cemburu padanya, aku punya waktu untukmu di rumah. 

                Aku ingin membekukanmu selamanya. Aku ingin hidup tanpa amarah. Tidak masalah aku akan tersakiti dan menjadi hollow, yang penting dia tidak kusakiti lagi. Karena kamu bisa dengan mudah membalik kehidupannya yang bahagia menjadi menderita. Aku akan menyembunyikanmu dengan topeng seperti biasanya. Bersabarlah alter ego. Simpan semua logikamu, saat ini aku hanya butuh hati. 

                Aku sungguh menyayanginya, perasaanku padanya berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia juga berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Tidak pernah aku sampai harus menyingkirkanmu seperti ini. Aku tahu, pasti akan lebih banyak air mata berjatuhan karenanya. Kamu pun akan lebih berontak dari biasanya. Tetapi aku memilih resiko seperti ini karena aku menginginkan hidup yang lebih baik, karena aku tahu dia mampu membahagiakanku. Wahai Alter ego, maafkanlah aku, pahamilah pilihanku. Aku harap suatu saat kamu bisa menerima kehadirannya dan bersyukur karena dia datang.

Kamis, 02 Desember 2010

Tak kan ada yang bisa dibandingkan

Entah apa yang bisa aku ibaratkan denganmu. Tapi mungkin tidak akan pernah ada yang bisa aku samakan denganmu karena kamu terlalu warna-warni. Pelangi yang warna-warni pun belum bisa aku samakan denganmu. Karena warna di pelangi hanyalah warna-warna terang nan indah. Sedangkan warnamu tidak hanya terang nan indah tetapi ada warna-warna gelap yang tidak ada pada pelangi. Mungkin karena itulah kenapa kamu mengatakan kalau kamu tidak pernah mau disamakan dengan apapun. 

Yudha, entah apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Aku tidak tahu apa yang ingin kamu katakan padaku. Walaupun aku sudah mendesakmu untuk mengatakannya, tapi mulutmu tetap diam. Sedangkan matamu mengisyaratkan suatu hal yang tidak baik. Aku tidak bisa menatap wajahmu. Berulang kali air mata ini memaksa keluar ketika kamu tidak menatapku. Berulang kali aku harus menatap langit mendung, mencari-cari sebuah objek yang bisa menguatanku. Tapi aku terlalu lemah untuk menahannya. Aku harus menyembunyikannya. Aku tidak ingin kamu melihatku menangis. Karena semakin kamu melihat air mataku, maka semakin susah kamu untuk mengatakannya.

Melihat wajah mendungmu, membuatku untuk semakin kuat dan bersabar. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Aku akan menunggu hingga kamu siap untuk mengatakannya padaku. Tidak apa aku bukan yang pertama, tapi jangan jadikan aku yang terakhir. Aku berjanji, suatu saat ketika kamu mengatakannya, aku tidak akan menangis. Aku akan kuat dan aku akan menguatkanmu dengan senyuman.  

There can be miracles when you believe. 
Who knows what miracles you can achieve. 
You will, when you believe.