Rabu, 22 Desember 2010

Dear Alter ego,


Bisakah kamu menghilang? Aku benar-benar tidak membutuhkanmu. Kamu merusak segalanya. Kamu cukup muncul di rumah, tak perlu kamu mencampuri urusanku lagi. Keegoisanmu, amarahmu cukup kamu tunjukkan di rumah. Selama ini kamu tidak pernah muncul selain di rumah, tapi kenapa setelah aku bersamanya, kamu keluar dari persembunyianmu? Apa karena sekarang aku punya hati? Tidak perlu kamu cemburu padanya, aku punya waktu untukmu di rumah. 

                Aku ingin membekukanmu selamanya. Aku ingin hidup tanpa amarah. Tidak masalah aku akan tersakiti dan menjadi hollow, yang penting dia tidak kusakiti lagi. Karena kamu bisa dengan mudah membalik kehidupannya yang bahagia menjadi menderita. Aku akan menyembunyikanmu dengan topeng seperti biasanya. Bersabarlah alter ego. Simpan semua logikamu, saat ini aku hanya butuh hati. 

                Aku sungguh menyayanginya, perasaanku padanya berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Dia juga berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Tidak pernah aku sampai harus menyingkirkanmu seperti ini. Aku tahu, pasti akan lebih banyak air mata berjatuhan karenanya. Kamu pun akan lebih berontak dari biasanya. Tetapi aku memilih resiko seperti ini karena aku menginginkan hidup yang lebih baik, karena aku tahu dia mampu membahagiakanku. Wahai Alter ego, maafkanlah aku, pahamilah pilihanku. Aku harap suatu saat kamu bisa menerima kehadirannya dan bersyukur karena dia datang.

Kamis, 02 Desember 2010

Tak kan ada yang bisa dibandingkan

Entah apa yang bisa aku ibaratkan denganmu. Tapi mungkin tidak akan pernah ada yang bisa aku samakan denganmu karena kamu terlalu warna-warni. Pelangi yang warna-warni pun belum bisa aku samakan denganmu. Karena warna di pelangi hanyalah warna-warna terang nan indah. Sedangkan warnamu tidak hanya terang nan indah tetapi ada warna-warna gelap yang tidak ada pada pelangi. Mungkin karena itulah kenapa kamu mengatakan kalau kamu tidak pernah mau disamakan dengan apapun. 

Yudha, entah apa yang sedang kamu pikirkan sekarang. Aku tidak tahu apa yang ingin kamu katakan padaku. Walaupun aku sudah mendesakmu untuk mengatakannya, tapi mulutmu tetap diam. Sedangkan matamu mengisyaratkan suatu hal yang tidak baik. Aku tidak bisa menatap wajahmu. Berulang kali air mata ini memaksa keluar ketika kamu tidak menatapku. Berulang kali aku harus menatap langit mendung, mencari-cari sebuah objek yang bisa menguatanku. Tapi aku terlalu lemah untuk menahannya. Aku harus menyembunyikannya. Aku tidak ingin kamu melihatku menangis. Karena semakin kamu melihat air mataku, maka semakin susah kamu untuk mengatakannya.

Melihat wajah mendungmu, membuatku untuk semakin kuat dan bersabar. Aku tidak akan memaksamu untuk mengatakannya. Aku akan menunggu hingga kamu siap untuk mengatakannya padaku. Tidak apa aku bukan yang pertama, tapi jangan jadikan aku yang terakhir. Aku berjanji, suatu saat ketika kamu mengatakannya, aku tidak akan menangis. Aku akan kuat dan aku akan menguatkanmu dengan senyuman.  

There can be miracles when you believe. 
Who knows what miracles you can achieve. 
You will, when you believe.

Rabu, 13 Oktober 2010

Jalan Berkabut

Sepertinya jalan berkabut di depanku sudah mulai terlihat. Dua jalan yang awalnya tampak meyakinkan, sekarang membuatku ragu. Tiga jalan bercabang itu mulai pudar satu per satu dan kini sepertinya hanya ada satu jalan yang jelas. Namun aku belum benar-benar yakin untuk berjalan di atasnya. Apa aku harus mencoba atau diam di tempat, menunggu hingga jalan itu terlihat jelas atau malah makin tertutup kabut?

Aku takut dengan kabutnya. Aku takut jika aku melangkah aku malah masuk ke jurang. Aku harus berpikir apa yang harus aku lakukan. Apakah aku terlalu berhati-hati atau sebenarnya aku pengecut?

Suara angin terdengar samar di telingaku. Membisikkan sesuatu yang tidak bisa aku tangkap. Suara-suara itu tetap menghantui kepalaku. Sudah, hentikan! Biarkan aku berpikir. Aku menutup mata, mengurai satu per satu inginku. Aku membuka mata. Kulangkahkan kakiku ke depan dan memandang  tegas jalan itu.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Surat Untuk Papa


Papa, selamat ulang tahun yang ke lima puluh. Sudah setengah abad papa menjalani hidup ini. Dikaruniai dua anak laki-laki dengan sang mantan, kemudian dikaruniai dua anak perempuan serta seorang anak laki-laki dengan Mama.

Tahukah papa, engkau adalah orang yang paling aku benci di rumah karena hanya Papa yang selalu bisa membuatku marah dan menangis. Tapi engkau adalah panutanku, orang yang aku anggap paling sempurna. Banyak benda yang bisa kau buat, kau perbaiki, dan tidak pernah mengeluarkan uang untuk memanggil teknisi. Jika tidak ada Papa di rumah dan kebetulan ada barang yang rusak, semua pasti mencarimu.

Papa, aku ingin memberitahumu sesuatu. Sadarkah kalau Papa sudah punya anak perempuan dewasa? Aku, Pa. Aku sudah dewasa. Umurku sudah diatas tujuh belas. Maka dari itu, Papa sudah tidak perlu lagi mengatur hidupku. Papa cukup mengarahkanku dan mengawasiku saja, dan biarkan aku memilih jalanku. 

Papa, aku ingin Papa menyampaikan pesanku ke Mama juga. Pa, Ma, bolehkah aku menjadi diriku sendiri? Aku sudah lelah menjalankan peran sebagai gadis sempurna seperti yang kalian inginkan. Gadis yang hanya memprioritaskan pendidikan, nilai rapor, citra, gengsi, dan seolah tidak membutuhkan cinta dari lawan jenis. Aku selalu menahan diri jika kalian mengatakan, “Kamu masih kecil. Belom boleh pacaran. Nanti aja kalau sudah kuliah baru pacaran”. Kini aku sudah kuliah, kalian tetap mengucapkan kalimat yang membuatku sedih, “Kamu belum dewasa. Belum waktunya pacaran. Nanti aja kalau sudah kerja baru pacaran”. Tahukah kalian, bahwa kalimat itu semakin membuatku membangkang? Aku jadi tidak bisa mengenalkan orang yang aku suka ke kalian. Standar yang kalian inginkan juga bagiku terlalu tinggi untuk sekarang. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik untukku, tapi untuk satu hal ini, serahkan semuanya padaku. Pecayalah. 

Papa, Aku minta maaf karena berulang kali telah membangkang dibelakangmu. Aku yakin, Papa pasti menyadari kalau aku membangkang tapi Papa sering diam saja. Papa, aku tahu Papa menyembunyikan sesuatu. Berulang kali aku memergokimu terbatuk-batuk, tapi kau bilang hanya tersedak atau batuk biasa. Pasti Papa sedang sakit, dan pasti nggak mau ke Dokter. Papa, Aku ingin Papa tetap sehat sehingga bisa mendampingi aku, Ricky, dan Delfi menikah kelak. Papa,  aku mencintaimu.

Rabu, 06 Oktober 2010

Aku Kembali

Setelah aku berpisah dengan pacarku yang terakhir, aku butuh waktu yang cukup lama untuk melupakannya. Beberapa kali aku berusaha untuk menyukai seseorang, tetapi aku selalu gagal mendapatkannya. Aku ingin seperti sahabat-sahabatku yang tidak kesepian karena sudah mempunyai pacar, dan hubungan mereka bisa bertahan lama. Jujur saja aku kesepian, tidak ada yang memperhatikanku jika aku sakit, tidak ada yang menyemangatiku jika aku bersedih, tidak ada yang bisa aku ajak untuk berbagi. Aku kesepian, dan aku menyerah.

Pada saat-saat aku kesepian, aku mendengar ada yang suka padaku dari jurusan yang lain, dua orang. Orang pertama sama sekali nggak membuatku tertarik padanya, entah kenapa. Aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa, ngggak lebih. Yah, mungkin karena aku belum menemukan sesuatu yang membuatku kagum padanya. Malah aku menemukan sosok yang sok keren padanya, dan aku nggak suka. Cowok yang kedua, mendekatiku dengan cara sms. Awalnya aku hanya iseng meledeninya, lalu tiba-tiba dia sms dengan kata-kata yang membuatku jijik, Boleh kenalan gak? Jujur saja aku sangat nggak suka dengan kata-kata itu. Aku merasa itu adalah kata-kata yang murahan. Aku bukan cewek murahan. Setelah itu aku sama sekali nggak membalas smsnya. Ketika selesai ngampus aku diberitahu temanku sosok orang yang kedua, aku kaget. Ternyata dia adalah orang yang pernah membuatku kagum ketika kelas besar. Aku sedikit menyesal sudah tidak menghiraukan smsnya. Tapi apa boleh buat, caranya dia yang salah, dan aku lupa namanya.

Selama beberapa bulan aku dilanda kesepian akut, sampai-sampai aku menyuruh temanku untuk mengenalkan temannya padaku. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, entah kenapa. Suatu hari aku berkunjung ke rumah sahabat smpku yang banyak sekali fansnya. Dari smp dia emang idola cowok-cowok. Aku berpikir kalo suatu hari aku ingin seperti dia yang dikelilingi cowok-cowok. Tinggal tunjuk langsung jadi. Lagi-lagi aku meminta agar dia mengenalkanku pada temannya, tetapi sampai sekarang nggak ada yang berubah. Setelah aku pikir-pikir, untung aku nggak jadi kenalan. Semua itu hanya emosi sesaat, dan ketika aku mengembalikan diriku ke kondisi semula, aku membenci diriku yang dulu minta dikenalkan ke orang nggak jelas.

Kini aku kembali ke kondisi awal yang tidak benar-benar menyukai siapapun. Hanya sekedar suka sama temanku, tapi nggak pernah berkeinginan untuk lebih dekat. Bisa dibilang hanya sebagai cuci mata saja. Lalu aku disibukkan dengan berbagai acara kampus hingga aku sama sekali nggak sempat memikirkan masalah cowok dan status kesepian. Hingga suatu hari aku mendaftarkan lap topku supaya bisa dibuat wifian di kampus. Rencananya sih donlot lagu-lagu lama.

Dari situ aku mencari beberapa teman dari temanku lewat facebook. Hampir setiap hari aku facebook-an dengan teman-temanku yang lainnya. Lalu tiba-tiba ada yang ngomen statusku. Aku agak familiar dengan namanya, lalu aku mulai mencari tahu siapa anak ini. Beberapa jam kemudian aku mengetahui kalo anak ini adalah anak yang dulu pernah ndeketin aku dan aku pernah kagum sama dia. Dari situ aku mulai mencari tahu kepribadiannya. Kita sering komen-komenan status. Hingga ada temannya yang menggoda dia lewat facebook.

Berbarengan dengan itu, mantanku yang pertama tiba-tiba muncul dan menjawab semua pertanyaan yang dulu tidak sempat terjawab hampir empat tahun yang lalu. Dia membawaku kembali ke masa lalu, aku agak terlena dnegan kata-katanya. Berbarengan dengan itu juga, tiba-tiba seniorku di SMA muncul dan mengatakan kalau selama ini dia jadi pengagum rahasiaku. Aku jelas kaget dengan pernyataannya yang tiba-tiba. Tapi aku mencoba tidak memasukkannya ke dalam hati. Tapi dia semakin blak-blakan menunjukkan kalau dia memang suka aku, tapi dia tidak pernah memaksaku untuk menyukainya. Tanpa kusadari ada empat orang yang menyukaiku, dan tiga diantaranya membuatku bingung.

Cowok pertama (anggap saja dia Neder) dia selalu membuatku kagum dengan status-statusnya. Biasanya anak-anak kalo pasang status tuh selalu nggak penting. Tapi statusnya selalu mengandung makna yang dalam. Dan dia selalu mengungkapkan perasaannya lewat status itu. Walaupun tidak tertera namaku, tetapi itu jelas ditujukan padaku. Statusnya selalu menyentuku karena aku pernah berada diposisinya. Menyukai seseorang tetapi tidak sanggup untuk sekedar mendekatinya. Aku memahami perasannya. Aku selalu membalas statusnya dengan aku menulis status tentangnya. Dia selalu menyadarinya, dan selalu menjadi orang pertama yang berkomentar. Walaupun dia belum mendekatiku seperti dua cowok yang lainnya, tetapi entah mengapa aku selalu memancingnya agar berani mendekatiku.

Cowok kedua adalah mantanku. Dia membuatku kembali ke masa-masa indah dulu. Mengingatkanku betapa dulu aku sangat mencintainya, dan dia menunjukkan perasaan yang sama seperti dulu. Kata-katanya selalu membuatku melayang. Dia membuatku merasa bahwa aku dipuja.

Cowok ketiga adalah seniorku. Aku jarang sekali bertemu dengannya. Kita bertemu jika ada event-event tertentu saja. Dulu aku pernah menyukainya, tetapi entah kenapa setelah aku tahu kalau dia menyukaiku, aku tiba-tiba menjauh. Dia menyukaiku sejak dua tahun yang lalu. Dia selalu menggodaku dengan kalimat-kalimatnya yang blak-blak-an. Yang tidak aku sangka adalah, dia selalu memperhatikanku jika kita bertemu hingga dia mengerti betul bagaimana sifatku yang sebenarnya, yang aku sembunyikan dari teman-temanku. Dia bisa menangkap sosok positifku yang nggak bisa dilihat orang lain. Dia menelanjangiku dengan kata-katanya.

Kini aku sangat bingung dengan ketiga cowok ini. Aku tidak tahu apa maksudku memberi mereka harapan. Padahak aku paling nggak suka memberi harapan palsu. Tapi kalau kondisinya aku agak tertarik dengan ketiganya, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membiarkannya sampai hatiku yang memutuskan? Aku berharap apapun keputusanku nanti, nggak akan membuatku menyesal dan akan membuat yang lainnya lebih berlapang dada.

Sekarang aku hanya menjalaninya apa adanya. Nggak mau terlalu memusingkan hal yang belum tentu terjadi. Aku kembali menemukan diriku, kembali ke gayaku. I’m back!

Senin, 04 Oktober 2010

Cowok Terowongan Pohon

Setiap pagi aku selalu melewati terowongan pohon. Nama itu aku yang menciptakannya sendiri karena di kanan kiri jalan terdapat pepohonan rimbun. Jika melihat ke atas tidak akan tahu mana ujung masing-masing pohon karena daunnya menyatu seperti terowongan. Jalan itu merupakan jalan favoritku karena setiap hari jika aku akan berangkat kerja aku selalu melihatnya. Sudah dua tahun aku melewati terowongan pohon, selama itu pula aku menyukainya. Seorang cowok seumuranku, anak pemilik rumah. Aku tidak tahu apa alasanku bisa menyukainya. Mungkin karena aku selalu melihatnya. Kata pepatah Jawa, “Tresno jalaran soko kulino”. Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin saja. Aku tidak tahu siapa namanya, aku memang tidak mau mencari tahu. Yang aku tahu dia sekarang kuliah semester tiga, entah dimana.

Pertama kali aku ketemu dia saat aku mau berangkat sekolah. Ketika aku lewat depan rumahnya, aku melihat seorang cowok seumuranku naik motor keluar rumah, aku hampir ditabraknya, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau hampir menabrakku. Ia mengenakan seragam sekolah bertuliskan kelas dua belas, sama sepertiku. Esoknya hampir setiap hari aku berpapasan dengannya, namun seolah-olah dia tidak melihatku. Hingga pernah suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah ada orang gila marah-marah di terowongan pohon itu. Aku ketakutan dan bersembunyi di sebelah tempat sampah depan rumahnya. Hanya itu satu-satunya tempat yang bisa menyembunyikanku dari pandangan orang gila itu.

Aku meringkuk dalam, menempelkan kepalaku ke lutut, berharap aku bisa menghilang. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku pikir dia orang gila, aku memukulnya dengan mata tertutup. Aku sangat ketakutan. Dia lalu menyuruhku berhenti memukul. Aku membuka mata, ternyata dia anak itu. Cowok terowongan pohon. Aku terkesiap, malu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Saking malunya aku langsung berlari meninggalkannya tanpa meminta maaf.

Setelah kejadian itu, tidak ada yang berubah hingga sekarang. Setiap hari aku tetap lewat depan rumahnya, tidak pernah saling menyapa walau terkadang mata kita bertemu. Karena saking seringnya lewat depan rumahnya, aku jadi tahu beberapa kebiasaannya. Setiap bangun tidur dia selalu keluar beranda, melakukan push up beberapa kali kemudian masuk lagi. Terkadang aku melihatnya diam-diam makan di kamar kemudian aku mendengar suara ibu-ibu memarahinya. Aku tertawa geli melihatnya. Setiap hari minggu dia selalu menyiram bunga, kadang mencuci mobil.

Hari minggu ini pun aku tetap lewat seperti biasa tetapi aku tidak melihatnya menyiram bunga atau mencuci mobil. Di hari ini aku masuk kerja agak pagi, karena jam sebelas akan ada acara di restoranku. Orang ini sangat kaya karena dia menyewa seluruh restoran sampai sore. Padahal restoranku cukup mahal harga sewa tempatnya. Gajiku satu tahun aja baru memungkinkan untuk menyewa seluruh restoran. Aku dan beberapa karyawan yang lainnya menyiapkan segala sesuatunya. Dari menata meja, menyiapkan dekorasi, menata makanan, dan lainnya. Kata temanku ini adalah pesta pertunangan. Ada beberapa temanku yang bilang kalo ini pertunangan tender, alias menggabungkan dua perusahaan besar dengan pernikahan. Aku nggak habis pikir, dengan uang pun cinta bisa dibeli.

Hari semakin siang, semakin banyak tamu yang berdatangan. Ketika aku membersihkan kamar mandi aku mendengar dua orang saling berbisik, katanya tunangan yang laki-laki tidak mau datang. Mungkin lelaki itu tidak menyetujui pertunangan ini. Susah ya jadi orang kaya, segalanya serba diatur. Kemudian aku mendengar suara yang perempuan menelpon anaknya. Dia memaksa anaknya datang. Selesai membersihkan kamar mandi aku kembali menjadi waitress. Bosku menyuruhku mengantar makanan di meja empat belas.
Ketika aku mengantar pesanan, salah satu tamu di meja itu memesan minuman tambahan. Ketika aku akan mencatat pesanannya, aku terkejut. Dia adalah cowok terowongan pohon. Dia juga terkejut melihatku. “Kamu kan cewek gila yang mukulin aku, kan,” katanya. Aku sungguh malu. Setelah memastikan pesanannya aku permisi. Ketika aku menoleh ke arahnya, mata kita bertemu dan dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan wajah. Malu sekali aku. Aku menguatkan hati ketika mengantarkan pesanannya. “Namamu Nita, ya,” ucapnya sambil membaca tulisan di seragam karyawan yang kukenakan. “Makasih ya, Nit,” aku mengangguk kecil. Aku cepat-cepat kembali ke ruang karyawan.

Dadaku bergemuruh sangat kencang. Temanku menunjukan tunangan yang wanita. Dia sangat cantik. Berbalut gaun yang tak sanggup kubeli. Wajahnya terlihat gembira. Kemudian ia menunjuk tunangan yang pria yang mengenakan jas hitam. Pria itu tertawa bersama beberapa temannya. Dia cowok terowongan pohon. Badanku langsung lemas, hatiku hancur berkeping-keping. Aku kembali masuk ke ruang karyawan, membenahi hatiku.

Tidak lama kemudian Bosku menyuruhku keluar dari ruang karyawan karena saat itu adalah saat pertukaran cincin. Hatiku belum siap menerima hal itu, aku hanya berdiri di sudut ruangan, dimana aku bisa menyembunyikan kesedihan di wajahku. Tiba-tiba restoran menjadi gaduh tapi aku tidak peduli. Kemudian aku meminta ijin bosku untuk pulang cepat, badanku rasanya tidak enak.

Esok paginya aku tidak melewati terowongan pohon itu. Esoknya lagi dan esoknya lagi. Aku memilih jalan memutar. Aku tidak sanggup melihatnya, tidak dengan hati yang hancur. Di tempat kerja, aku lebih banyak bersih-bersih atau mengangkut barang daripada melayani pelanggan. Temanku memceritakan sebab kegaduhan di acara pertunangan itu. Katanya tunangan yang laki-laki menolak kemudian dia pergi keluar restoran. Aku terkejut mendengarnya. Orang kaya itu emang suka seenaknya sendiri. Ketika aku sedang membersihkan kaca restoran, aku melihat seseorang berlari terburu-buru masuk. Ia menuju kasir, aku melihat temanku dan orang itu berbincang singkat kemudian temanku menunjukku. Orang itu menoleh, cowok terowongan pohon. Dia lalu berjalan ke arahku, “Kamu kok nggak datang, sih. Aku menunggumu setiap pagi”. Dia lalu menggandengku pergi keluar restoran. Aku yang baru tersadar, setengah berlari mengikuti langkah panjangnya. Aku tahu besok aku pasti dimarahi bosku, tapi masa bodoh.

Rabu, 29 September 2010

Pacar Pertama

Aku memang gadis biasa saja. Tidak diberkahi dengan wajah dan kulit super model, bahkan ada bekas luka yang berdiam di tempat yang bagiku membuatku krusial banget, betis. Membuatku mikir-mikir dulu kalau mau pakek celana atau rok pendek. Berat badanku pun di bawah ideal. Jadinya hingga aku umur delapan belas tahun, aku hanya dua kali pacaran, paling lama dua bulan, dan aku nggak pernah ngerasain yang namanya pelukan cowok, apalagi ciuman. Kalo suka sama cowok? Hmmm, banyak banget. Tapi nggak satupun yang aku incer itu berhasil. Selalu berakhir dengan jadian dengan temenku sendiri. Nggak ndeketin? Aku udah ndeketin tau. Tapi ya gitu, aku selalu kalah karena tampang mereka yang emang lebih oke dari aku.

Pertama kali punya pacar waktu MOS ajaran baru. Waktu itu aku masih nggak berani ngapa-ngapain selain mematuhi perintah senior. Kalo membangkang, bisa-bisa kering air mataku. Suatu ketika aku lagi nggak bawa catatan lirik lagu hymne sekolah. Padahal hari itu ada kegiatan menyanyi di aula dan aku nggak hapal. Lalu selama acara itu aku pura-pura hapal sambil kadang-kadang ngelirik catetannya sebelahku. Jika ada senior yang patroli, aku pura-pura hapal. Empat senior yang patroli di sekitar kelasku, semuanya nggak menyadarinya. Lalu aku melihat dari arah kelas lain ada senior yang sedari tadi merhatiin aku. Mati aku. Pasti habis gini dia kesini dan menggeretku ke ruang hukuman. Aku pura-pura nggak nyadar kalo diliatin, sambil sesekali aku merhatiin gerak-gerik senior itu. Mata kami bertemu, aku buru-buru mengalihkan pandangan. Senior itu malah berjalan ke arahku. Haduh, jantungku rasanya mau copot. Takut banget masuk ruang hukuman. Karena beberapa siswa yang habis masuk situ, begitu keluar banyak yang matanya sembab sambil sesenggukan. Semoga waktu senior cowok itu udah di deketku, dia tiba-tiba kena amnesia, dan balik ke tempatnya lagi.

“Hei,” suara itu mengejutkanku. Habis sudah harapanku melewati MOS ini tanpa berurusan dengan senior. Aku nggak berani menatap, aku cuma menunduk sedalam mungkin.
“Nih,” dia menyerahkan selembar kertas. Aku hanya bisa mengangguk sambil menerimanya. Kemudian dia pergi. Aku membuka kertas itu, ternyata isinya adalah lirik hymne sekolah. Aku langsung mengedarkan pandangan ke ruangan yang berisi ratusan murid baru. Mencoba mencari-cari sosoknya tapi aku tidak menemukannya. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih. Dia sudah menyelamatkanku dari situasi ini.

Paginya, aku mendapat masalah lagi. Pita yang aku kenakan ternyata kurang lebar dari standar yang diberikan para senior. Aku berusaha mencari cara supaya lolos dari hukuman, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak ada toko yang menjual pita di daerah sekolahku. Kali ini aku pasrah, apapun hukumannya aku mencoba iklas aja. Ternyata benar, ada senior cewek yang menyadari kesalahan penampilanku. Tiba-tiba senior yang menolongku waktu di aula menghampiriku, namanya Zefri.
“Kamu kenapa kok nggak pakai pita yang udah ditentuin?”
“Semalaman saya sudah muter-muter mencari ukuran pita yang segitu. Tapi banyak toko yang kehabisan. Jadi saya pakai seadanya saja.”
Tapi dia tidak membawaku keruang hukuman. Lagi-lagi dia menyelamatkanku. Saat itu juga, aku langsung suka sama seniorku ini.

MOS hari ketiga pun selesai. Aku menghela napas lega. Akhirnya berakhir juga. Setelah membereskan beberapa buku, aku berjalan keluar. Sambil menunggu jemputan aku duduk di pos satpam dan melepas pernak-pernik norak dari rambutku. Lalu ada motor berhenti di depanku. Aku mendongak mencari tahu siapa dibalik helm itu. Sang pemilik kendaraan membuka kaca helmnya, aku menemukan sosok yang nggak asing, Zefri. Jantungku pun mulai berdetak cepat.
“Kok belum pulang?” tanyanya tanpa merubah posisi.
“Nunggu jemputan, kak”
“Mau bareng tah?”
“E..e.. enggak usah, kak. Orang tua saya sudah dekat, kok” aku nggak berani ngelihat matanya. Tiba-tiba dia mematikan motornya. Lalu duduk menyamping di atas motornya. Nggak lama jemputanku pun datang.
“Pulang dulu, kak” aku mengangguk sopan.
“Hati-hati” dia lalu menyalakan kembali motornya dan pergi.
Selama di perjalanan pikiranku penuh dengan senior itu. Baik sekali orangnya. Nggak nyangka ada senior yang sebaik dia.

Aku sudah resmi menjadi murid sekolah menengah. Di hari pertama sekolah aku sengaja datang lebih awal. Jam masuk sekolah di sini dibagi menjadi dua. Kelas pagi dan siang. Kelas pagi hanya untuk kelas sebelas dan dua belas. Sedangkan kelas siang hanya untuk murid kelas satu. Dan karena sekolahku lumayan sempit, jadinya setelah kelas sebelas pulang, kelas itu diperuntukkan kelas sepuluh. Lima menit lagi bel pulang untuk kelas pagi, aku menunggu di depan kelasku X-3. Begitu bel berbunyi aku bangkit dari duduk dan bersiap-siap masuk kelas. Lorong kelas yang tadinya hanya ada beberapa anak kelas sepuluh kini penuk sesak dengan kelas sebelas. Dari lautan putih abu-abu itu aku menangkap sosok Zefri keluar dari kelasku. Aku melihat papan nama di atas pintu, tertera XI IPA 3. Wah, suatu kebetulan aku dan dia ternyata berada di ruang kelas yang sama. Nggak sengaja mata kita bertemu. Dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan muka. Wajahku serasa panas. Lalu aku buru buru masuk kelas. Dan menghempaskan diri begitu saja di atas bangku kayu. Aku bercerita hal yang selama ini terjadi ke sahabat baruku, Dita dan Ella.
“Kayaknya dia suka sama kamu, Pik” kata Dita sambil melahap roti yang dibeli dari koperasi. Ella hanya manggut-manggut sambil makan juga.
“Ah, masa sih?” aku menyangkal.
“Aku nggak mau ge-er,” lanjutku.
“Ya udah kalo nggak percaya,” Ella memasukkan potongan terakhir ke mulutnya. Selama pelajaran berlangsung aku memikirkan kata-kata Dita, dan mengulang kembali kejadian-kejadian antara aku dan Zefri. Tapi aku masih belum yakin.

Suatu hari, ketika kelas masih terisi beberapa anak saja tiba-tiba Zefri masuk kelas dan sudah berada di depanku. Aku langsung mengeluarkan lolipop yang setiap hari kumakan dari mulutku.
“Minta loliponya, dong.”
Aku diam saja, nggak menjawab apa-apa.
“Nggak kok, bercanda”
Dia lalu pergi meninggalkan kelas bersamaan dengan datangnya Dita. Dita langsung menghampiriku yang masih nggak sadar. Berdiri sambil senym-senyum. Ella yang kemudian datang langsung mengguncang-guncang badanku. Aku tersadar dan kembali duduk.
“Ngapain Zefri kesini?” tanya Dita.
“Nggak tahu, tiba-tiba dia minta lolipopku. Tapi aku tolak. Aneh banget,” ucapku.
“Tuh, benerkan apa kataku. Seratus persen dia itu suka kamu”
Aku diam saja sambil tetap senyum-senyum.

Malamya Hpku berdering. Di layar tertera nomor yang aku nggak kenal. Begitu aku angkat, terdengar suara berat di seberang sana. Si penelpon memperkenalkan diri kalo itu ZEFRI. Jantungku langsung mulai maraton. Percakapan itu hanya berlangsung beberapa menit. Tapi bagiku rasanya seperti lama, karena kebanyakan percakapan kami didominasi keheningan. Saking deg-deg-annya aku cuma menjawab pendek-pendek.
Beberapa minggu kemudian Zefri mengajakku nge-date. Tentu aja kuterima. Ini kencan pertamaku selama empat belas tahun. Dia mengajakku makan di resto di sebuah Mall. Di perjalanan pulang, dia menembakku. Aku bingung mau menjawab apa. Lalu aku bilang ke dia kalo aku jawab dua hari kemudian.

Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, dia menghampiriku. Dia masih memakai seragam olahraga. Ternyata dia menungguku sampai aku pulang sekolah. Dengan latar belakang langit senja, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena mulai gelap. Walaupun aku juga tidak berani menatapnya, aku tahu dia juga pasti deg-deg-an menunggu jawabanku. Lalu aku menganggukkan kepala, dan pergi keluar sekolah. Aku menoleh lagi ke belakang, aku bisa melihat sebuah senyuman terindah yang hanya diberikan padaku. Malamnya, Hpku bergetar dan tertera nama orang yang paling aku suka.

Kebahagiaan ternyata tidak hinggap lama padaku. Hari minggu yang merupakan hari ke-enam jadianku, aku berangkat ju jitsu seperti biasa. Ketika latihan, Kiwil, teman sekelasku yang juga ikut Jujitsu memberitahu sesuatu. Dia mengatakannya dengan hati-hati seolah itu rahasia besar.
“Pik, kayaknya Kak Zefri suka kamu deh. Dia pernah nanyain kamu ke aku, dan kayaknya kamu juga suka dia. Iya, kan...” bisiknya. Aku tersenyum lebar mendengar perkatannya. Dia nggak tahu kalo sebenernya aku sudah enam hari jadian dengannya.
Selesai latihan aku memeriksa Hpku, mungkin ada pesan atau telepon tidak terjawab. Ternyata benar, ada dua missed calls, dari Zefri. Dan ada sms darinya juga. Setelah menyeruput habis es kelapa mudaku, aku membuka isi pesannya. Aku terdiam.
“Gimana perkembanganmu sama Zefri?,” tanya Dita. Dita juga ikut ekstra Ju Jitsu.
Aku diam. Tidak menjawab pertanyaannya sambil terus menatap layar HP. Dita yang menyadari keanehanku langsung mendekatiku, kemudian mengambil Hp dari tanganku dan membacanya.

Pika, sori..sorii..banget. Aku bilangnya pakek cara ini, lewat sms. Kayaknya hubungan ini nggak bisa bertahan lama. Aku nggak bisa mempertahankannya. Kayaknya kita harus pisah dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Sekali lagi maaf, ya.


“Bangsat tuh anak. Nggak gentle banget sih, ngomonginnya pakek cara beginian,” makinya sambil melahap potongan bakso yang terakhir. Dita langsung memelukku dan menenangkanku. Aku yang masih syok hanya terdiam membisu. Tidak satu pun air mata keluar dari mataku walaupun aku berusaha menangis.

Malam harinya, aku membiarkan kamarku sunyi tanpa suara apa pun. Aku mencoba mencari kesalahanku, mengapa bisa berakhir secepat ini. Menyadari kesunyian ini menggangguku, aku menyalakan komputer dan memutar lagu secara acak. Aku tidak memilih judulnya, yang penting kamarku tidak sunyi. Lalu mengalunlah lau Glen Fredly “Akhir cerita cinta”. Seketika tangisku pecah.

Sandiwarakah selama ini
Setelah sekian lama kita tlah bersama
Inikah akhir cerita cinta
Yang slalu aku banggakan di depan mereka
Entah dimana kusembunyikan rasa malu

Kini harus aku lewati sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri melawan waktu
Untuk melupakanmu
Walau pedih hati
Namun aku bertahan


Sampai sekarang pun aku masih tidak mengetahui alasan sebenarnya kami putus.

Selasa, 28 September 2010

Aku Ingin Dia Tahu

Mencari orang yang benar-benar bisa menerima kita apa adanya itu memang susah. Orang-orang mengatakan teman lebih bisa menerima kita apa adanya. Sepertinnya nggak semua orang bisa menerima diri kita apa-adanya. Setelah aku banyak bercerita padanya tentang keluargaku, hidupku, dan Dia bercerita tentang dirinya, masa lalunya, dia masih belum menganggapku temannya. Bahkan dia mengatakan kalau semua ceritaku mengganggunya, menambah bebannya. Dia menyuruhku untuk tidak lagi bercerita kepadanya tetapi ke teman-temanku yang lain-lainnya. Tetapi maaf, ceritaku bukanlah sesuatu yang bisa diumbar kemana-mana, seperti konferensi pers para selebritis. Karena aku hanyalah manusia biasa yang punya rahasia, dan aku hanya ingin bercerita kepada satu orang saja.

Tetapi di saat aku benar-benar membutuhkannya, seperti aku membutuhkan air ketika aku haus, dia membuangku. Semuanya seperti menabrakku dengan sekali serangan. Aku berharap dia memungutku kembali, karena padanya aku tidak berpura-pura kuat. Dia adalah orang yang telah berpengaruh di hidupku.

Satu hal yang sangat aku ingin agar dia mengetahuinya. Kesamaan kita yang tidak disengaja, dan tidak semua orang bisa berpikir begitu. Aku akan memberitahunya jika dia memang ingin tahu. Tetapi aku akan tetap menjadikannya cerita yang belum selesai jika dia memang tidak ingin tahu. Aku ingin dia mengetahuinya, aku ingin menyelesaikan ceritaku.

Kelinciku yang Mesum

Waktu aku masuk kuliah adikku punya sepasang kelinci dewasa namanya choco dan warto. Papaku membelinya dengan harga murah beserta kandangnya di temannya. Adikku senang sekali mendapatkan binatang peliharaan baru. Setiap pagi papaku memberinya makan sayuran, sedangkan sorenya adikku yang memberi makan. Aku juga sering memperhatikan sang kelinci. Kata papaku kelinci itu mulai kecil sudah sepasang. Katanya sih nggak bisa terpisahkan. Memang sih, mereka deketan mulu, lha wong kandangnya sempit. Suatu hari aku memergoki dua kelinci itu kawin. Sang pejantang berada di belakang sang betina dan badannya bergetar-getar seperti kejang. Prosesnya berlangsung tidak sampai satu menit, hanya beberapa detik saja. Keesokan harinya, ketika aku mau memberi kelinci mesra itu makan, aku memergoki lagi mereka kawin. Sering banget ya, apa emang lagi musim kawin? Mungkin. Keesokan paginya lagi, aku memergoki mereka kawin lagi. Ya ampun. Apa mungkin kelinci itu kawin tiap hari? Karena penasaran, selama beberapa hari aku mengamati kelinci mesum (sekarang berubah jadi kelinci mesum) itu. Ternyata benar, setiap hari mereka kawin. Bahkan, sehari bisa beberapa kali. Aku jadi il-feel sama dua kelinci itu. Aku jadi malas memberi makan. Tugas itu aku kembalikan ke adikku.

Seminggu kemudian, aku tiba-tiba kangen sama dua kelinci mesum itu. Waktu aku ngasih makan, choco (kelinci betina) hanya makan sedikit. Awalnya aku kira dia hamil. Tapi seminggu kemudian choco meninggal dan disebelahnya sang kelinci jantan menemaninya. Entah kenapa wajah sang kelinci jantan terlihat sedih. Mungkin kesepian karena sudah tidak ada lagi kelinci betina yang bisa digauli. Apa mungkin choco meninggal karena nggak kuat menahan birahi pasangannya? Nggak kok, choco rupanya meninggal karena adikku sering lupa memberi makan. Diperparah dengan sang kelinci jantan makannya rakus, nggak mau menyisahkan makanan buat choco.

Setelah kematian choco, warto terlihat muram. Ia tidak banyak makan, mungkin karena kesepian. Wajar aja kalao kesepian karena selama beberapa tahun mereka selalau bersama dan bergumul setiap waktu. Melihat kondisi warto yang menurun, papaku akhirnya membeli kelinci betina dewasa. Kelincinya cantik banget. Bulunya putih bersih, telinga bagian dalam pink, dan matanya berwarna merah. Begitu mereka dipertemukan, warto yang kemudian entah kenapa berubah nama menjadi choco, terlihat gembira. Namun tidak demikian dengan kelinci betina baru yang bernama chery. Sepertinya dia tahu bahwa teman sekamarnnya adalah mas-mas kelinci mesum yang birahinya tak tertahankan. Selama seminggu lebih mereka berjauh-jauhan. Mungkin masih dalam tahap pedekate. Aku akui usaha choco dalam mendekati chery begitu keras dan pantang menyerah. Buktinya dua minggu kemudian chery sudah digaulinya. Dasar kelinci play boy. Pinter nggombal. Bereka pun terlihat gembira. Muncullah pasangan baru.

Tetapi beberapa bulan kemudian, choco dan chery dihibahkan ke sepupuku yang masih sekolah dasar karena tidak ada yang merawat. Adikku yang awalnya bertanggung jawab mengurusnya malah nggak ngurus. Daripada ada yang mati lagi, lebih baik diberikan keorang lain.

Senin, 27 September 2010

Forever Love You

Seorang perempuan tua bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju dapur dengan satu tangan bertumpu pada meja kemudian kursi, tembok, sesuatu yang dapat menyangga tubuhnya. Ia membuat dua cangkir teh hangat, menaruhnya pada nampan dan membawanya masuk ke kamar. Ia mengusap keringat yang membasahi rambut abu-abunya. Membuat dua cangkir teh sudah menguras tenaganya. Dia membangunkan seorang pria tua yang terbaring lemah di ranjang tuanya. Terdengar suara besi berderik ketika pria tua itu duduk. Dengan dibantu istrinya, dia meminum tehnya dengan sangat pelan dan sesekali meniup agar uapnya pergi. Pria itu tersenyum kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Ia bertanya kepada istrinya apakah ia masih ingat kenangan ketika kereka masih muda. Istrinya mengangguk mantap. Mereka kembali masuk dalam kenangan lamanya.

Seorang pria berlari terburu-buru menuju rumah sang gadis pujaan. Dari tempatnya dia bisa melihat gadis itu menangis di beranda lantai dua. Air mata yang menetes membuat lari pria itu semakin cepat. Ia menerobos beberapa penjaga rumah yang langsung menghadangnya ketika melihat wajahnya. Pria-pria bertubuh besar itu sudah diperintahkan oleh ayah gadis yang dicintainya untuk menghalanginya masuk. Ia melihat ayah gadis itu memarahi anaknya karena dandanannya luntur, dan menyuruhnya cepat bersiap diri karena calon suaminya beserta orang tuanya akan menemuinya. Gadis itu menoleh ke arah pria yang dicekal oleh pengawalnya, mata mereka bertemu. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan dan masuk ke dalam rumah.

Pria itu dipukul dan ditendang keluar dari rumah mewah itu. Dia melihat gadis yang dicintainya mencium tangan calon suaminya dari luar pagar. Ia memaki diri sendiri, melampiaskan amarahnya pada pagar yang memisahkan mereka. Kemudian pria itu bangkit dan membuka paksa pagar hingga pagar itu bengkok. Penjaga rumah langsung berlarian ke arahnya, pemuda itu juga berlari. Terjadilah perkelahian yang sengit. Gadis itu melihat lelaki yang dicintainya berusaha mengelak dari pukulan, balas memukul, dan dipukul. Gadis itu lalu berlari menuju halaman, menerobos para pengawalnya, kemudian memeluk lelaki yang setengah terkapar itu. Air matanya tak dapat dibendung, ia menangis sejadi-jadinya. Ayahnya menariknya paksa tetapi gadis itu semakin memperkuat pelukannya. Ayahnya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia memaki dan mengusir anaknya. Ibunya menyisipkan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi ke tangannya. Ia membuka tangannya ketika mereka sudah agak jauh dari rumah. Isinya beberapa lembar uang dengan nominal tertinggi. Ia mengucapkan terima kasih dalam hati. Ia berjanji untuk selamanya menjaga orang yang disayanginya hingga maut memisahkan mereka.


“Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian itu, selamanya tidak akan kulupakan. Aku mencintaimu,” ucap wanita tua itu. “Aku lebih mencintaimu,” balas pria itu. Wanita itu membereskan cangkir yang telah mereka minum, menaruhnya kembali di atas nampan. Tangannya bergetar ketika membawanya menuju dapur.

Pria itu mengeluarkan sebuah buku yang telah ia sisipkan di bawah bantal sebelumnya. Mengambil bolpoin di atas meja kemudian menulis sesuatu. Cukup lama waktu yang ia butuhkan untuk menulis. Wajahnya tampak bahagia ketika ia menyelesaikan kalimat terakhir. Ia kemudian menyobek halaman itu, melipatnya menjadi dua kemudian ia menaruhnya di atas meja kecil di sebelah kasurnya, dan menindasnya dengan bolpoin agar tidak jatuh tertiup angin. Ia berbaring kembali, menyelimuti separuh badannya dengan kain bergaris abu-abu. Ia memejamkan mata, wajahnya damai.

Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Ia menemukan suaminya berbaring. Ia memanggil nama suaminya. Ia menunggu tetapi tidak mendapatkan balasan. Ia lalu menyadari sesuatu yang tidak beres. Ia tertatih-tatih mendatangi suaminya. Mengucapkan ‘aku mencintaimu’ berulang kali namun lelaki itu hanya diam. Ia memanggil-manggil namanya, lelaki itu tetap diam. Ia menemukan benda asing di atas meja. Membukanya, membaca kalimat demi kalimat, kata demi kata, kemudian ia menangis sambil memeluk suaminya yang terbujur kaku. “Aku lebih mencintaimu”.
Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah. Ia memanggil nama seseorang tetapi tidak ada yang menjawab. Kemudian ia masuk ke kamar ayah dan ibunya.“Ternyata Ibu disini, toh. Aku datang sama Mas Adi dan anak-anak. Mumpung Mas Adi baru balik dari Kanada. Minggu depan mau balik ke sana lagi,” ucapnya sambil mendekati ibunya yang sedang memeluk ayahnya. Ia memanggil-manggil ibunya kemudian ayahnya, tetapi tidak ada tanggapan. Ia lalu berteriak memanggil suaminya. Suaminya masuk dengan setengah berlari menghampiri istrinya. Wanita itu menangis di pundak suaminya, menangisi kepergian kedua orang tuanya.

Sayangku, kau adalah segalanya bagiku. Aku tadi mendapat firasat, sepertinya aku akan mendahuluimu. Jika memang benar, aku meminta maaf telah meninggalkanmu. Maaf, telah mambuatmu sendirian. Terima kasih karena kamu telah meninggalkan keluargamu, ningratmu, kekayaanmu, demi aku yang hanya seorang guru. Aku sangat bahagia. Tidak ada kata lain selain AKU MENCINTAIMU.

Kucing Binal

Rumahku memang seperti kebun binatang. Yah bisa dibilang kalo rumahku itu tempat persinggahan sementara atau selamanya bagi hewan-hewan yang nggak jelas. Akhir-akhir ini setelah kelinciku meninggalkan rumahku, sering kali aku melihat seekor kucing putih tertidur pulas di rumah. Nggak ngerasa terganggu sama sekali walaupun kucing itu sudah berulang kali hampir keinjak. Kucing ini jenis kucing kampung yang beredar dimana-mana. Tapi kucing kampung ini terbilang unik. Dia nggak pernah nyentuh makanan yang ada di atas meja makan. Tidur aja kerjaannya. Sempat terbersit di otakku kalau kucing itu vegetarian. Pernah juga aku ngasih ayam goreng. Aku taruh ayam goreng itu di atas piring plastik kecil. Kucing itu cuma mengendus baunya, digigit sekali dan tidur lagi. Nah lo. Tapi keanehan lainnya muncul. Pernah nih pas aku makan, kucing itu tiba-tiba udah ada di depan piringku. Sontak aku langsung mengangkat piringku, takut bulunya masuk ke makanan. Si kucing langsung meong-meong minta makan. Karena kasihan aku kasih daging ayam goreng satu cuil. Lalu kudekatkan ke dia, dan dimakan. Lalu aku kasih tulang ayam yang masih ada dagingnya dan aku taruh di atas kertas. Lagi-lagi kucing itu mengendus baunya, digigit sekali, langsung pergi. Kucing ini njengkelin bener. Udah untung dia nggak diusir dan dikasih ayam goreng yang belum tentu teman-temannya bernasib sama. Lalu aku mencuil daging tadi dan aku tawarkan ke dia, dimakan. Ho, aku baru nyadar kalo si kucing ini maunya disuapin. Dasar kucing kampung manja, sok-sok-an jadi kucing yang sekelas sama persia. Nggak level tau.

Beberapa minggu nginep dirumahku, aku mengetahui satu kenyataan kenapa kok nih kucing kerjaannya tidur mulu. Ternyata dia hamil. Menurut penuturan adikku, si kucing merasa aman kalo di rumahku soalnya kalo keliaran di gang rumah biasanya dia dianiaya sama anak-anak kecil di daerahku. Adikku sang saksi mata melihat sendiri kalo si kucing pernah disiram air sampek kedinginan, dipukul pakek ranting, sampek ditendang perutnya. Padahal kan dia lagi hamil.

Suatu hari kucing itu nggak menampakkan batang hidungnya di rumahku. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari adikku kalo si kucing malang itu melahirkan di lemarinya tetangga sebelah. Sang pemilik lemari menemukan genangan darah di lemarinya. Hiiiyy... Sang pemilik lemari lalu membuang anak-anak kucing itu dari rumahnya. Malang sekali nasibnya. Sudah sebatang kara menghidupi dirinya yang sedang hamil, lalu numpang melahirkan di lemari orang, diusir pula, dan sekarang single parent. Kucing jantan itu emang brengsek, setelah melampiaskan nafsu langsung sang betina ditinggal pergi. Adikku yang merasa kasihan langsung mengambil kardus bekas dan memasukkan anak-anak kucing itu ke dalamnya dan meletakkannya di teras rumah. Kemalangan sepertinya sudah akrab dengan kucing itu. Satu per satu anaknya meninggal dunia. Hingga tersisa satu dari lima ekor dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Sudah meninggal juga mungkin, soalnya aku selalu melihat kucing malang itu sendirian. Aku jadi kangen anaknya.

Sedikit bernostalgia, waktu aku mau berangkat kuliah aku melihat anaknya yang terakhir main-main di gang rumahku. Induknya mengawasi sambil rebahan di atas jalan, dan sesekali mengeong jika ada kendaraan lewat. Takut anaknya terlindas. Tapi kucing kecil itu tidak sedikitpun menyadari kekhawatiran induknya. Dia berlarian kesana-kemari. Bermain dengan barisan semut yang ia berantakkan, bersembunyi di balik tubuh induknya jika ada bahaya, dan merengek dengan mengeong-ngeong jika kelaparan. Sang induk sama sekali tidak pernah marah. Kasih sayangnya tersampaikan padaku yang manusia biasa ini.

Beberapa hari setelah kematian anaknya yang terakhir, aku jarang sekali melihatnya di daerah rumahku. Malah ada kucing betina lain yang berkeliaran di sana, tapi aku tidak mau menampungnya. Emang dikiranya rumahku ini hotel. Kangen juga rasanya kalo biasanya yang keliaran adalah kucing malang itu, sekarang sudah kucing lain. Untuk menghilangkan rasa kangenku, aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, sampai aku benar-benar lupa sama kucing itu. Hingga suatu hari aku bertemu lagi dengannya bak teman lama yang telah dipisahkan oleh luasnya Samudera Hindia. Ketika aku memperhatikan kucing itu lekat-lekat, aku menyadari kalo kucing itu hamil lagi. Padahal cuma berjarak sekitar dua bulan dari kehamilannya yang terdahulu. Aku pun mengorek informasi dari adikku, dan katanya ini merupakan kehamilan yang ke-empat. Kalau dihitung dari kehamilannya yang pertama, anaknya sudah mencapai lima belas. Karena setiap hamil, dia selalu melahirkan lima ekor, dan beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Dasar Kucing Binal!