Rabu, 13 Oktober 2010

Jalan Berkabut

Sepertinya jalan berkabut di depanku sudah mulai terlihat. Dua jalan yang awalnya tampak meyakinkan, sekarang membuatku ragu. Tiga jalan bercabang itu mulai pudar satu per satu dan kini sepertinya hanya ada satu jalan yang jelas. Namun aku belum benar-benar yakin untuk berjalan di atasnya. Apa aku harus mencoba atau diam di tempat, menunggu hingga jalan itu terlihat jelas atau malah makin tertutup kabut?

Aku takut dengan kabutnya. Aku takut jika aku melangkah aku malah masuk ke jurang. Aku harus berpikir apa yang harus aku lakukan. Apakah aku terlalu berhati-hati atau sebenarnya aku pengecut?

Suara angin terdengar samar di telingaku. Membisikkan sesuatu yang tidak bisa aku tangkap. Suara-suara itu tetap menghantui kepalaku. Sudah, hentikan! Biarkan aku berpikir. Aku menutup mata, mengurai satu per satu inginku. Aku membuka mata. Kulangkahkan kakiku ke depan dan memandang  tegas jalan itu.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Surat Untuk Papa


Papa, selamat ulang tahun yang ke lima puluh. Sudah setengah abad papa menjalani hidup ini. Dikaruniai dua anak laki-laki dengan sang mantan, kemudian dikaruniai dua anak perempuan serta seorang anak laki-laki dengan Mama.

Tahukah papa, engkau adalah orang yang paling aku benci di rumah karena hanya Papa yang selalu bisa membuatku marah dan menangis. Tapi engkau adalah panutanku, orang yang aku anggap paling sempurna. Banyak benda yang bisa kau buat, kau perbaiki, dan tidak pernah mengeluarkan uang untuk memanggil teknisi. Jika tidak ada Papa di rumah dan kebetulan ada barang yang rusak, semua pasti mencarimu.

Papa, aku ingin memberitahumu sesuatu. Sadarkah kalau Papa sudah punya anak perempuan dewasa? Aku, Pa. Aku sudah dewasa. Umurku sudah diatas tujuh belas. Maka dari itu, Papa sudah tidak perlu lagi mengatur hidupku. Papa cukup mengarahkanku dan mengawasiku saja, dan biarkan aku memilih jalanku. 

Papa, aku ingin Papa menyampaikan pesanku ke Mama juga. Pa, Ma, bolehkah aku menjadi diriku sendiri? Aku sudah lelah menjalankan peran sebagai gadis sempurna seperti yang kalian inginkan. Gadis yang hanya memprioritaskan pendidikan, nilai rapor, citra, gengsi, dan seolah tidak membutuhkan cinta dari lawan jenis. Aku selalu menahan diri jika kalian mengatakan, “Kamu masih kecil. Belom boleh pacaran. Nanti aja kalau sudah kuliah baru pacaran”. Kini aku sudah kuliah, kalian tetap mengucapkan kalimat yang membuatku sedih, “Kamu belum dewasa. Belum waktunya pacaran. Nanti aja kalau sudah kerja baru pacaran”. Tahukah kalian, bahwa kalimat itu semakin membuatku membangkang? Aku jadi tidak bisa mengenalkan orang yang aku suka ke kalian. Standar yang kalian inginkan juga bagiku terlalu tinggi untuk sekarang. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik untukku, tapi untuk satu hal ini, serahkan semuanya padaku. Pecayalah. 

Papa, Aku minta maaf karena berulang kali telah membangkang dibelakangmu. Aku yakin, Papa pasti menyadari kalau aku membangkang tapi Papa sering diam saja. Papa, aku tahu Papa menyembunyikan sesuatu. Berulang kali aku memergokimu terbatuk-batuk, tapi kau bilang hanya tersedak atau batuk biasa. Pasti Papa sedang sakit, dan pasti nggak mau ke Dokter. Papa, Aku ingin Papa tetap sehat sehingga bisa mendampingi aku, Ricky, dan Delfi menikah kelak. Papa,  aku mencintaimu.

Rabu, 06 Oktober 2010

Aku Kembali

Setelah aku berpisah dengan pacarku yang terakhir, aku butuh waktu yang cukup lama untuk melupakannya. Beberapa kali aku berusaha untuk menyukai seseorang, tetapi aku selalu gagal mendapatkannya. Aku ingin seperti sahabat-sahabatku yang tidak kesepian karena sudah mempunyai pacar, dan hubungan mereka bisa bertahan lama. Jujur saja aku kesepian, tidak ada yang memperhatikanku jika aku sakit, tidak ada yang menyemangatiku jika aku bersedih, tidak ada yang bisa aku ajak untuk berbagi. Aku kesepian, dan aku menyerah.

Pada saat-saat aku kesepian, aku mendengar ada yang suka padaku dari jurusan yang lain, dua orang. Orang pertama sama sekali nggak membuatku tertarik padanya, entah kenapa. Aku hanya menganggapnya sebagai teman biasa, ngggak lebih. Yah, mungkin karena aku belum menemukan sesuatu yang membuatku kagum padanya. Malah aku menemukan sosok yang sok keren padanya, dan aku nggak suka. Cowok yang kedua, mendekatiku dengan cara sms. Awalnya aku hanya iseng meledeninya, lalu tiba-tiba dia sms dengan kata-kata yang membuatku jijik, Boleh kenalan gak? Jujur saja aku sangat nggak suka dengan kata-kata itu. Aku merasa itu adalah kata-kata yang murahan. Aku bukan cewek murahan. Setelah itu aku sama sekali nggak membalas smsnya. Ketika selesai ngampus aku diberitahu temanku sosok orang yang kedua, aku kaget. Ternyata dia adalah orang yang pernah membuatku kagum ketika kelas besar. Aku sedikit menyesal sudah tidak menghiraukan smsnya. Tapi apa boleh buat, caranya dia yang salah, dan aku lupa namanya.

Selama beberapa bulan aku dilanda kesepian akut, sampai-sampai aku menyuruh temanku untuk mengenalkan temannya padaku. Tetapi hal itu tidak pernah terjadi, entah kenapa. Suatu hari aku berkunjung ke rumah sahabat smpku yang banyak sekali fansnya. Dari smp dia emang idola cowok-cowok. Aku berpikir kalo suatu hari aku ingin seperti dia yang dikelilingi cowok-cowok. Tinggal tunjuk langsung jadi. Lagi-lagi aku meminta agar dia mengenalkanku pada temannya, tetapi sampai sekarang nggak ada yang berubah. Setelah aku pikir-pikir, untung aku nggak jadi kenalan. Semua itu hanya emosi sesaat, dan ketika aku mengembalikan diriku ke kondisi semula, aku membenci diriku yang dulu minta dikenalkan ke orang nggak jelas.

Kini aku kembali ke kondisi awal yang tidak benar-benar menyukai siapapun. Hanya sekedar suka sama temanku, tapi nggak pernah berkeinginan untuk lebih dekat. Bisa dibilang hanya sebagai cuci mata saja. Lalu aku disibukkan dengan berbagai acara kampus hingga aku sama sekali nggak sempat memikirkan masalah cowok dan status kesepian. Hingga suatu hari aku mendaftarkan lap topku supaya bisa dibuat wifian di kampus. Rencananya sih donlot lagu-lagu lama.

Dari situ aku mencari beberapa teman dari temanku lewat facebook. Hampir setiap hari aku facebook-an dengan teman-temanku yang lainnya. Lalu tiba-tiba ada yang ngomen statusku. Aku agak familiar dengan namanya, lalu aku mulai mencari tahu siapa anak ini. Beberapa jam kemudian aku mengetahui kalo anak ini adalah anak yang dulu pernah ndeketin aku dan aku pernah kagum sama dia. Dari situ aku mulai mencari tahu kepribadiannya. Kita sering komen-komenan status. Hingga ada temannya yang menggoda dia lewat facebook.

Berbarengan dengan itu, mantanku yang pertama tiba-tiba muncul dan menjawab semua pertanyaan yang dulu tidak sempat terjawab hampir empat tahun yang lalu. Dia membawaku kembali ke masa lalu, aku agak terlena dnegan kata-katanya. Berbarengan dengan itu juga, tiba-tiba seniorku di SMA muncul dan mengatakan kalau selama ini dia jadi pengagum rahasiaku. Aku jelas kaget dengan pernyataannya yang tiba-tiba. Tapi aku mencoba tidak memasukkannya ke dalam hati. Tapi dia semakin blak-blakan menunjukkan kalau dia memang suka aku, tapi dia tidak pernah memaksaku untuk menyukainya. Tanpa kusadari ada empat orang yang menyukaiku, dan tiga diantaranya membuatku bingung.

Cowok pertama (anggap saja dia Neder) dia selalu membuatku kagum dengan status-statusnya. Biasanya anak-anak kalo pasang status tuh selalu nggak penting. Tapi statusnya selalu mengandung makna yang dalam. Dan dia selalu mengungkapkan perasaannya lewat status itu. Walaupun tidak tertera namaku, tetapi itu jelas ditujukan padaku. Statusnya selalu menyentuku karena aku pernah berada diposisinya. Menyukai seseorang tetapi tidak sanggup untuk sekedar mendekatinya. Aku memahami perasannya. Aku selalu membalas statusnya dengan aku menulis status tentangnya. Dia selalu menyadarinya, dan selalu menjadi orang pertama yang berkomentar. Walaupun dia belum mendekatiku seperti dua cowok yang lainnya, tetapi entah mengapa aku selalu memancingnya agar berani mendekatiku.

Cowok kedua adalah mantanku. Dia membuatku kembali ke masa-masa indah dulu. Mengingatkanku betapa dulu aku sangat mencintainya, dan dia menunjukkan perasaan yang sama seperti dulu. Kata-katanya selalu membuatku melayang. Dia membuatku merasa bahwa aku dipuja.

Cowok ketiga adalah seniorku. Aku jarang sekali bertemu dengannya. Kita bertemu jika ada event-event tertentu saja. Dulu aku pernah menyukainya, tetapi entah kenapa setelah aku tahu kalau dia menyukaiku, aku tiba-tiba menjauh. Dia menyukaiku sejak dua tahun yang lalu. Dia selalu menggodaku dengan kalimat-kalimatnya yang blak-blak-an. Yang tidak aku sangka adalah, dia selalu memperhatikanku jika kita bertemu hingga dia mengerti betul bagaimana sifatku yang sebenarnya, yang aku sembunyikan dari teman-temanku. Dia bisa menangkap sosok positifku yang nggak bisa dilihat orang lain. Dia menelanjangiku dengan kata-katanya.

Kini aku sangat bingung dengan ketiga cowok ini. Aku tidak tahu apa maksudku memberi mereka harapan. Padahak aku paling nggak suka memberi harapan palsu. Tapi kalau kondisinya aku agak tertarik dengan ketiganya, apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus membiarkannya sampai hatiku yang memutuskan? Aku berharap apapun keputusanku nanti, nggak akan membuatku menyesal dan akan membuat yang lainnya lebih berlapang dada.

Sekarang aku hanya menjalaninya apa adanya. Nggak mau terlalu memusingkan hal yang belum tentu terjadi. Aku kembali menemukan diriku, kembali ke gayaku. I’m back!

Senin, 04 Oktober 2010

Cowok Terowongan Pohon

Setiap pagi aku selalu melewati terowongan pohon. Nama itu aku yang menciptakannya sendiri karena di kanan kiri jalan terdapat pepohonan rimbun. Jika melihat ke atas tidak akan tahu mana ujung masing-masing pohon karena daunnya menyatu seperti terowongan. Jalan itu merupakan jalan favoritku karena setiap hari jika aku akan berangkat kerja aku selalu melihatnya. Sudah dua tahun aku melewati terowongan pohon, selama itu pula aku menyukainya. Seorang cowok seumuranku, anak pemilik rumah. Aku tidak tahu apa alasanku bisa menyukainya. Mungkin karena aku selalu melihatnya. Kata pepatah Jawa, “Tresno jalaran soko kulino”. Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin saja. Aku tidak tahu siapa namanya, aku memang tidak mau mencari tahu. Yang aku tahu dia sekarang kuliah semester tiga, entah dimana.

Pertama kali aku ketemu dia saat aku mau berangkat sekolah. Ketika aku lewat depan rumahnya, aku melihat seorang cowok seumuranku naik motor keluar rumah, aku hampir ditabraknya, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau hampir menabrakku. Ia mengenakan seragam sekolah bertuliskan kelas dua belas, sama sepertiku. Esoknya hampir setiap hari aku berpapasan dengannya, namun seolah-olah dia tidak melihatku. Hingga pernah suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah ada orang gila marah-marah di terowongan pohon itu. Aku ketakutan dan bersembunyi di sebelah tempat sampah depan rumahnya. Hanya itu satu-satunya tempat yang bisa menyembunyikanku dari pandangan orang gila itu.

Aku meringkuk dalam, menempelkan kepalaku ke lutut, berharap aku bisa menghilang. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku pikir dia orang gila, aku memukulnya dengan mata tertutup. Aku sangat ketakutan. Dia lalu menyuruhku berhenti memukul. Aku membuka mata, ternyata dia anak itu. Cowok terowongan pohon. Aku terkesiap, malu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Saking malunya aku langsung berlari meninggalkannya tanpa meminta maaf.

Setelah kejadian itu, tidak ada yang berubah hingga sekarang. Setiap hari aku tetap lewat depan rumahnya, tidak pernah saling menyapa walau terkadang mata kita bertemu. Karena saking seringnya lewat depan rumahnya, aku jadi tahu beberapa kebiasaannya. Setiap bangun tidur dia selalu keluar beranda, melakukan push up beberapa kali kemudian masuk lagi. Terkadang aku melihatnya diam-diam makan di kamar kemudian aku mendengar suara ibu-ibu memarahinya. Aku tertawa geli melihatnya. Setiap hari minggu dia selalu menyiram bunga, kadang mencuci mobil.

Hari minggu ini pun aku tetap lewat seperti biasa tetapi aku tidak melihatnya menyiram bunga atau mencuci mobil. Di hari ini aku masuk kerja agak pagi, karena jam sebelas akan ada acara di restoranku. Orang ini sangat kaya karena dia menyewa seluruh restoran sampai sore. Padahal restoranku cukup mahal harga sewa tempatnya. Gajiku satu tahun aja baru memungkinkan untuk menyewa seluruh restoran. Aku dan beberapa karyawan yang lainnya menyiapkan segala sesuatunya. Dari menata meja, menyiapkan dekorasi, menata makanan, dan lainnya. Kata temanku ini adalah pesta pertunangan. Ada beberapa temanku yang bilang kalo ini pertunangan tender, alias menggabungkan dua perusahaan besar dengan pernikahan. Aku nggak habis pikir, dengan uang pun cinta bisa dibeli.

Hari semakin siang, semakin banyak tamu yang berdatangan. Ketika aku membersihkan kamar mandi aku mendengar dua orang saling berbisik, katanya tunangan yang laki-laki tidak mau datang. Mungkin lelaki itu tidak menyetujui pertunangan ini. Susah ya jadi orang kaya, segalanya serba diatur. Kemudian aku mendengar suara yang perempuan menelpon anaknya. Dia memaksa anaknya datang. Selesai membersihkan kamar mandi aku kembali menjadi waitress. Bosku menyuruhku mengantar makanan di meja empat belas.
Ketika aku mengantar pesanan, salah satu tamu di meja itu memesan minuman tambahan. Ketika aku akan mencatat pesanannya, aku terkejut. Dia adalah cowok terowongan pohon. Dia juga terkejut melihatku. “Kamu kan cewek gila yang mukulin aku, kan,” katanya. Aku sungguh malu. Setelah memastikan pesanannya aku permisi. Ketika aku menoleh ke arahnya, mata kita bertemu dan dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan wajah. Malu sekali aku. Aku menguatkan hati ketika mengantarkan pesanannya. “Namamu Nita, ya,” ucapnya sambil membaca tulisan di seragam karyawan yang kukenakan. “Makasih ya, Nit,” aku mengangguk kecil. Aku cepat-cepat kembali ke ruang karyawan.

Dadaku bergemuruh sangat kencang. Temanku menunjukan tunangan yang wanita. Dia sangat cantik. Berbalut gaun yang tak sanggup kubeli. Wajahnya terlihat gembira. Kemudian ia menunjuk tunangan yang pria yang mengenakan jas hitam. Pria itu tertawa bersama beberapa temannya. Dia cowok terowongan pohon. Badanku langsung lemas, hatiku hancur berkeping-keping. Aku kembali masuk ke ruang karyawan, membenahi hatiku.

Tidak lama kemudian Bosku menyuruhku keluar dari ruang karyawan karena saat itu adalah saat pertukaran cincin. Hatiku belum siap menerima hal itu, aku hanya berdiri di sudut ruangan, dimana aku bisa menyembunyikan kesedihan di wajahku. Tiba-tiba restoran menjadi gaduh tapi aku tidak peduli. Kemudian aku meminta ijin bosku untuk pulang cepat, badanku rasanya tidak enak.

Esok paginya aku tidak melewati terowongan pohon itu. Esoknya lagi dan esoknya lagi. Aku memilih jalan memutar. Aku tidak sanggup melihatnya, tidak dengan hati yang hancur. Di tempat kerja, aku lebih banyak bersih-bersih atau mengangkut barang daripada melayani pelanggan. Temanku memceritakan sebab kegaduhan di acara pertunangan itu. Katanya tunangan yang laki-laki menolak kemudian dia pergi keluar restoran. Aku terkejut mendengarnya. Orang kaya itu emang suka seenaknya sendiri. Ketika aku sedang membersihkan kaca restoran, aku melihat seseorang berlari terburu-buru masuk. Ia menuju kasir, aku melihat temanku dan orang itu berbincang singkat kemudian temanku menunjukku. Orang itu menoleh, cowok terowongan pohon. Dia lalu berjalan ke arahku, “Kamu kok nggak datang, sih. Aku menunggumu setiap pagi”. Dia lalu menggandengku pergi keluar restoran. Aku yang baru tersadar, setengah berlari mengikuti langkah panjangnya. Aku tahu besok aku pasti dimarahi bosku, tapi masa bodoh.