Setiap pagi aku selalu melewati terowongan pohon. Nama itu aku yang menciptakannya sendiri karena di kanan kiri jalan terdapat pepohonan rimbun. Jika melihat ke atas tidak akan tahu mana ujung masing-masing pohon karena daunnya menyatu seperti terowongan. Jalan itu merupakan jalan favoritku karena setiap hari jika aku akan berangkat kerja aku selalu melihatnya. Sudah dua tahun aku melewati terowongan pohon, selama itu pula aku menyukainya. Seorang cowok seumuranku, anak pemilik rumah. Aku tidak tahu apa alasanku bisa menyukainya. Mungkin karena aku selalu melihatnya. Kata pepatah Jawa, “Tresno jalaran soko kulino”. Cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkin saja. Aku tidak tahu siapa namanya, aku memang tidak mau mencari tahu. Yang aku tahu dia sekarang kuliah semester tiga, entah dimana.
Pertama kali aku ketemu dia saat aku mau berangkat sekolah. Ketika aku lewat depan rumahnya, aku melihat seorang cowok seumuranku naik motor keluar rumah, aku hampir ditabraknya, tapi sepertinya dia tidak tahu kalau hampir menabrakku. Ia mengenakan seragam sekolah bertuliskan kelas dua belas, sama sepertiku. Esoknya hampir setiap hari aku berpapasan dengannya, namun seolah-olah dia tidak melihatku. Hingga pernah suatu hari ketika aku akan berangkat sekolah ada orang gila marah-marah di terowongan pohon itu. Aku ketakutan dan bersembunyi di sebelah tempat sampah depan rumahnya. Hanya itu satu-satunya tempat yang bisa menyembunyikanku dari pandangan orang gila itu.
Aku meringkuk dalam, menempelkan kepalaku ke lutut, berharap aku bisa menghilang. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundakku. Aku pikir dia orang gila, aku memukulnya dengan mata tertutup. Aku sangat ketakutan. Dia lalu menyuruhku berhenti memukul. Aku membuka mata, ternyata dia anak itu. Cowok terowongan pohon. Aku terkesiap, malu dan rasa bersalah bercampur menjadi satu. Saking malunya aku langsung berlari meninggalkannya tanpa meminta maaf.
Setelah kejadian itu, tidak ada yang berubah hingga sekarang. Setiap hari aku tetap lewat depan rumahnya, tidak pernah saling menyapa walau terkadang mata kita bertemu. Karena saking seringnya lewat depan rumahnya, aku jadi tahu beberapa kebiasaannya. Setiap bangun tidur dia selalu keluar beranda, melakukan push up beberapa kali kemudian masuk lagi. Terkadang aku melihatnya diam-diam makan di kamar kemudian aku mendengar suara ibu-ibu memarahinya. Aku tertawa geli melihatnya. Setiap hari minggu dia selalu menyiram bunga, kadang mencuci mobil.
Hari minggu ini pun aku tetap lewat seperti biasa tetapi aku tidak melihatnya menyiram bunga atau mencuci mobil. Di hari ini aku masuk kerja agak pagi, karena jam sebelas akan ada acara di restoranku. Orang ini sangat kaya karena dia menyewa seluruh restoran sampai sore. Padahal restoranku cukup mahal harga sewa tempatnya. Gajiku satu tahun aja baru memungkinkan untuk menyewa seluruh restoran. Aku dan beberapa karyawan yang lainnya menyiapkan segala sesuatunya. Dari menata meja, menyiapkan dekorasi, menata makanan, dan lainnya. Kata temanku ini adalah pesta pertunangan. Ada beberapa temanku yang bilang kalo ini pertunangan tender, alias menggabungkan dua perusahaan besar dengan pernikahan. Aku nggak habis pikir, dengan uang pun cinta bisa dibeli.
Hari semakin siang, semakin banyak tamu yang berdatangan. Ketika aku membersihkan kamar mandi aku mendengar dua orang saling berbisik, katanya tunangan yang laki-laki tidak mau datang. Mungkin lelaki itu tidak menyetujui pertunangan ini. Susah ya jadi orang kaya, segalanya serba diatur. Kemudian aku mendengar suara yang perempuan menelpon anaknya. Dia memaksa anaknya datang. Selesai membersihkan kamar mandi aku kembali menjadi waitress. Bosku menyuruhku mengantar makanan di meja empat belas.
Ketika aku mengantar pesanan, salah satu tamu di meja itu memesan minuman tambahan. Ketika aku akan mencatat pesanannya, aku terkejut. Dia adalah cowok terowongan pohon. Dia juga terkejut melihatku. “Kamu kan cewek gila yang mukulin aku, kan,” katanya. Aku sungguh malu. Setelah memastikan pesanannya aku permisi. Ketika aku menoleh ke arahnya, mata kita bertemu dan dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan wajah. Malu sekali aku. Aku menguatkan hati ketika mengantarkan pesanannya. “Namamu Nita, ya,” ucapnya sambil membaca tulisan di seragam karyawan yang kukenakan. “Makasih ya, Nit,” aku mengangguk kecil. Aku cepat-cepat kembali ke ruang karyawan.
Dadaku bergemuruh sangat kencang. Temanku menunjukan tunangan yang wanita. Dia sangat cantik. Berbalut gaun yang tak sanggup kubeli. Wajahnya terlihat gembira. Kemudian ia menunjuk tunangan yang pria yang mengenakan jas hitam. Pria itu tertawa bersama beberapa temannya. Dia cowok terowongan pohon. Badanku langsung lemas, hatiku hancur berkeping-keping. Aku kembali masuk ke ruang karyawan, membenahi hatiku.
Tidak lama kemudian Bosku menyuruhku keluar dari ruang karyawan karena saat itu adalah saat pertukaran cincin. Hatiku belum siap menerima hal itu, aku hanya berdiri di sudut ruangan, dimana aku bisa menyembunyikan kesedihan di wajahku. Tiba-tiba restoran menjadi gaduh tapi aku tidak peduli. Kemudian aku meminta ijin bosku untuk pulang cepat, badanku rasanya tidak enak.
Esok paginya aku tidak melewati terowongan pohon itu. Esoknya lagi dan esoknya lagi. Aku memilih jalan memutar. Aku tidak sanggup melihatnya, tidak dengan hati yang hancur. Di tempat kerja, aku lebih banyak bersih-bersih atau mengangkut barang daripada melayani pelanggan. Temanku memceritakan sebab kegaduhan di acara pertunangan itu. Katanya tunangan yang laki-laki menolak kemudian dia pergi keluar restoran. Aku terkejut mendengarnya. Orang kaya itu emang suka seenaknya sendiri. Ketika aku sedang membersihkan kaca restoran, aku melihat seseorang berlari terburu-buru masuk. Ia menuju kasir, aku melihat temanku dan orang itu berbincang singkat kemudian temanku menunjukku. Orang itu menoleh, cowok terowongan pohon. Dia lalu berjalan ke arahku, “Kamu kok nggak datang, sih. Aku menunggumu setiap pagi”. Dia lalu menggandengku pergi keluar restoran. Aku yang baru tersadar, setengah berlari mengikuti langkah panjangnya. Aku tahu besok aku pasti dimarahi bosku, tapi masa bodoh.