Aku memang gadis biasa saja. Tidak diberkahi dengan wajah dan kulit super model, bahkan ada bekas luka yang berdiam di tempat yang bagiku membuatku krusial banget, betis. Membuatku mikir-mikir dulu kalau mau pakek celana atau rok pendek. Berat badanku pun di bawah ideal. Jadinya hingga aku umur delapan belas tahun, aku hanya dua kali pacaran, paling lama dua bulan, dan aku nggak pernah ngerasain yang namanya pelukan cowok, apalagi ciuman. Kalo suka sama cowok? Hmmm, banyak banget. Tapi nggak satupun yang aku incer itu berhasil. Selalu berakhir dengan jadian dengan temenku sendiri. Nggak ndeketin? Aku udah ndeketin tau. Tapi ya gitu, aku selalu kalah karena tampang mereka yang emang lebih oke dari aku.
Pertama kali punya pacar waktu MOS ajaran baru. Waktu itu aku masih nggak berani ngapa-ngapain selain mematuhi perintah senior. Kalo membangkang, bisa-bisa kering air mataku. Suatu ketika aku lagi nggak bawa catatan lirik lagu hymne sekolah. Padahal hari itu ada kegiatan menyanyi di aula dan aku nggak hapal. Lalu selama acara itu aku pura-pura hapal sambil kadang-kadang ngelirik catetannya sebelahku. Jika ada senior yang patroli, aku pura-pura hapal. Empat senior yang patroli di sekitar kelasku, semuanya nggak menyadarinya. Lalu aku melihat dari arah kelas lain ada senior yang sedari tadi merhatiin aku. Mati aku. Pasti habis gini dia kesini dan menggeretku ke ruang hukuman. Aku pura-pura nggak nyadar kalo diliatin, sambil sesekali aku merhatiin gerak-gerik senior itu. Mata kami bertemu, aku buru-buru mengalihkan pandangan. Senior itu malah berjalan ke arahku. Haduh, jantungku rasanya mau copot. Takut banget masuk ruang hukuman. Karena beberapa siswa yang habis masuk situ, begitu keluar banyak yang matanya sembab sambil sesenggukan. Semoga waktu senior cowok itu udah di deketku, dia tiba-tiba kena amnesia, dan balik ke tempatnya lagi.
“Hei,” suara itu mengejutkanku. Habis sudah harapanku melewati MOS ini tanpa berurusan dengan senior. Aku nggak berani menatap, aku cuma menunduk sedalam mungkin.
“Nih,” dia menyerahkan selembar kertas. Aku hanya bisa mengangguk sambil menerimanya. Kemudian dia pergi. Aku membuka kertas itu, ternyata isinya adalah lirik hymne sekolah. Aku langsung mengedarkan pandangan ke ruangan yang berisi ratusan murid baru. Mencoba mencari-cari sosoknya tapi aku tidak menemukannya. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih. Dia sudah menyelamatkanku dari situasi ini.
Paginya, aku mendapat masalah lagi. Pita yang aku kenakan ternyata kurang lebar dari standar yang diberikan para senior. Aku berusaha mencari cara supaya lolos dari hukuman, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak ada toko yang menjual pita di daerah sekolahku. Kali ini aku pasrah, apapun hukumannya aku mencoba iklas aja. Ternyata benar, ada senior cewek yang menyadari kesalahan penampilanku. Tiba-tiba senior yang menolongku waktu di aula menghampiriku, namanya Zefri.
“Kamu kenapa kok nggak pakai pita yang udah ditentuin?”
“Semalaman saya sudah muter-muter mencari ukuran pita yang segitu. Tapi banyak toko yang kehabisan. Jadi saya pakai seadanya saja.”
Tapi dia tidak membawaku keruang hukuman. Lagi-lagi dia menyelamatkanku. Saat itu juga, aku langsung suka sama seniorku ini.
MOS hari ketiga pun selesai. Aku menghela napas lega. Akhirnya berakhir juga. Setelah membereskan beberapa buku, aku berjalan keluar. Sambil menunggu jemputan aku duduk di pos satpam dan melepas pernak-pernik norak dari rambutku. Lalu ada motor berhenti di depanku. Aku mendongak mencari tahu siapa dibalik helm itu. Sang pemilik kendaraan membuka kaca helmnya, aku menemukan sosok yang nggak asing, Zefri. Jantungku pun mulai berdetak cepat.
“Kok belum pulang?” tanyanya tanpa merubah posisi.
“Nunggu jemputan, kak”
“Mau bareng tah?”
“E..e.. enggak usah, kak. Orang tua saya sudah dekat, kok” aku nggak berani ngelihat matanya. Tiba-tiba dia mematikan motornya. Lalu duduk menyamping di atas motornya. Nggak lama jemputanku pun datang.
“Pulang dulu, kak” aku mengangguk sopan.
“Hati-hati” dia lalu menyalakan kembali motornya dan pergi.
Selama di perjalanan pikiranku penuh dengan senior itu. Baik sekali orangnya. Nggak nyangka ada senior yang sebaik dia.
Aku sudah resmi menjadi murid sekolah menengah. Di hari pertama sekolah aku sengaja datang lebih awal. Jam masuk sekolah di sini dibagi menjadi dua. Kelas pagi dan siang. Kelas pagi hanya untuk kelas sebelas dan dua belas. Sedangkan kelas siang hanya untuk murid kelas satu. Dan karena sekolahku lumayan sempit, jadinya setelah kelas sebelas pulang, kelas itu diperuntukkan kelas sepuluh. Lima menit lagi bel pulang untuk kelas pagi, aku menunggu di depan kelasku X-3. Begitu bel berbunyi aku bangkit dari duduk dan bersiap-siap masuk kelas. Lorong kelas yang tadinya hanya ada beberapa anak kelas sepuluh kini penuk sesak dengan kelas sebelas. Dari lautan putih abu-abu itu aku menangkap sosok Zefri keluar dari kelasku. Aku melihat papan nama di atas pintu, tertera XI IPA 3. Wah, suatu kebetulan aku dan dia ternyata berada di ruang kelas yang sama. Nggak sengaja mata kita bertemu. Dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan muka. Wajahku serasa panas. Lalu aku buru buru masuk kelas. Dan menghempaskan diri begitu saja di atas bangku kayu. Aku bercerita hal yang selama ini terjadi ke sahabat baruku, Dita dan Ella.
“Kayaknya dia suka sama kamu, Pik” kata Dita sambil melahap roti yang dibeli dari koperasi. Ella hanya manggut-manggut sambil makan juga.
“Ah, masa sih?” aku menyangkal.
“Aku nggak mau ge-er,” lanjutku.
“Ya udah kalo nggak percaya,” Ella memasukkan potongan terakhir ke mulutnya. Selama pelajaran berlangsung aku memikirkan kata-kata Dita, dan mengulang kembali kejadian-kejadian antara aku dan Zefri. Tapi aku masih belum yakin.
Suatu hari, ketika kelas masih terisi beberapa anak saja tiba-tiba Zefri masuk kelas dan sudah berada di depanku. Aku langsung mengeluarkan lolipop yang setiap hari kumakan dari mulutku.
“Minta loliponya, dong.”
Aku diam saja, nggak menjawab apa-apa.
“Nggak kok, bercanda”
Dia lalu pergi meninggalkan kelas bersamaan dengan datangnya Dita. Dita langsung menghampiriku yang masih nggak sadar. Berdiri sambil senym-senyum. Ella yang kemudian datang langsung mengguncang-guncang badanku. Aku tersadar dan kembali duduk.
“Ngapain Zefri kesini?” tanya Dita.
“Nggak tahu, tiba-tiba dia minta lolipopku. Tapi aku tolak. Aneh banget,” ucapku.
“Tuh, benerkan apa kataku. Seratus persen dia itu suka kamu”
Aku diam saja sambil tetap senyum-senyum.
Malamya Hpku berdering. Di layar tertera nomor yang aku nggak kenal. Begitu aku angkat, terdengar suara berat di seberang sana. Si penelpon memperkenalkan diri kalo itu ZEFRI. Jantungku langsung mulai maraton. Percakapan itu hanya berlangsung beberapa menit. Tapi bagiku rasanya seperti lama, karena kebanyakan percakapan kami didominasi keheningan. Saking deg-deg-annya aku cuma menjawab pendek-pendek.
Beberapa minggu kemudian Zefri mengajakku nge-date. Tentu aja kuterima. Ini kencan pertamaku selama empat belas tahun. Dia mengajakku makan di resto di sebuah Mall. Di perjalanan pulang, dia menembakku. Aku bingung mau menjawab apa. Lalu aku bilang ke dia kalo aku jawab dua hari kemudian.
Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, dia menghampiriku. Dia masih memakai seragam olahraga. Ternyata dia menungguku sampai aku pulang sekolah. Dengan latar belakang langit senja, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena mulai gelap. Walaupun aku juga tidak berani menatapnya, aku tahu dia juga pasti deg-deg-an menunggu jawabanku. Lalu aku menganggukkan kepala, dan pergi keluar sekolah. Aku menoleh lagi ke belakang, aku bisa melihat sebuah senyuman terindah yang hanya diberikan padaku. Malamnya, Hpku bergetar dan tertera nama orang yang paling aku suka.
Kebahagiaan ternyata tidak hinggap lama padaku. Hari minggu yang merupakan hari ke-enam jadianku, aku berangkat ju jitsu seperti biasa. Ketika latihan, Kiwil, teman sekelasku yang juga ikut Jujitsu memberitahu sesuatu. Dia mengatakannya dengan hati-hati seolah itu rahasia besar.
“Pik, kayaknya Kak Zefri suka kamu deh. Dia pernah nanyain kamu ke aku, dan kayaknya kamu juga suka dia. Iya, kan...” bisiknya. Aku tersenyum lebar mendengar perkatannya. Dia nggak tahu kalo sebenernya aku sudah enam hari jadian dengannya.
Selesai latihan aku memeriksa Hpku, mungkin ada pesan atau telepon tidak terjawab. Ternyata benar, ada dua missed calls, dari Zefri. Dan ada sms darinya juga. Setelah menyeruput habis es kelapa mudaku, aku membuka isi pesannya. Aku terdiam.
“Gimana perkembanganmu sama Zefri?,” tanya Dita. Dita juga ikut ekstra Ju Jitsu.
Aku diam. Tidak menjawab pertanyaannya sambil terus menatap layar HP. Dita yang menyadari keanehanku langsung mendekatiku, kemudian mengambil Hp dari tanganku dan membacanya.
Pika, sori..sorii..banget. Aku bilangnya pakek cara ini, lewat sms. Kayaknya hubungan ini nggak bisa bertahan lama. Aku nggak bisa mempertahankannya. Kayaknya kita harus pisah dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Sekali lagi maaf, ya.
“Bangsat tuh anak. Nggak gentle banget sih, ngomonginnya pakek cara beginian,” makinya sambil melahap potongan bakso yang terakhir. Dita langsung memelukku dan menenangkanku. Aku yang masih syok hanya terdiam membisu. Tidak satu pun air mata keluar dari mataku walaupun aku berusaha menangis.
Malam harinya, aku membiarkan kamarku sunyi tanpa suara apa pun. Aku mencoba mencari kesalahanku, mengapa bisa berakhir secepat ini. Menyadari kesunyian ini menggangguku, aku menyalakan komputer dan memutar lagu secara acak. Aku tidak memilih judulnya, yang penting kamarku tidak sunyi. Lalu mengalunlah lau Glen Fredly “Akhir cerita cinta”. Seketika tangisku pecah.
Sandiwarakah selama ini
Setelah sekian lama kita tlah bersama
Inikah akhir cerita cinta
Yang slalu aku banggakan di depan mereka
Entah dimana kusembunyikan rasa malu
Kini harus aku lewati sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri melawan waktu
Untuk melupakanmu
Walau pedih hati
Namun aku bertahan
Sampai sekarang pun aku masih tidak mengetahui alasan sebenarnya kami putus.
Rabu, 29 September 2010
Selasa, 28 September 2010
Aku Ingin Dia Tahu
Mencari orang yang benar-benar bisa menerima kita apa adanya itu memang susah. Orang-orang mengatakan teman lebih bisa menerima kita apa adanya. Sepertinnya nggak semua orang bisa menerima diri kita apa-adanya. Setelah aku banyak bercerita padanya tentang keluargaku, hidupku, dan Dia bercerita tentang dirinya, masa lalunya, dia masih belum menganggapku temannya. Bahkan dia mengatakan kalau semua ceritaku mengganggunya, menambah bebannya. Dia menyuruhku untuk tidak lagi bercerita kepadanya tetapi ke teman-temanku yang lain-lainnya. Tetapi maaf, ceritaku bukanlah sesuatu yang bisa diumbar kemana-mana, seperti konferensi pers para selebritis. Karena aku hanyalah manusia biasa yang punya rahasia, dan aku hanya ingin bercerita kepada satu orang saja.
Tetapi di saat aku benar-benar membutuhkannya, seperti aku membutuhkan air ketika aku haus, dia membuangku. Semuanya seperti menabrakku dengan sekali serangan. Aku berharap dia memungutku kembali, karena padanya aku tidak berpura-pura kuat. Dia adalah orang yang telah berpengaruh di hidupku.
Satu hal yang sangat aku ingin agar dia mengetahuinya. Kesamaan kita yang tidak disengaja, dan tidak semua orang bisa berpikir begitu. Aku akan memberitahunya jika dia memang ingin tahu. Tetapi aku akan tetap menjadikannya cerita yang belum selesai jika dia memang tidak ingin tahu. Aku ingin dia mengetahuinya, aku ingin menyelesaikan ceritaku.
Tetapi di saat aku benar-benar membutuhkannya, seperti aku membutuhkan air ketika aku haus, dia membuangku. Semuanya seperti menabrakku dengan sekali serangan. Aku berharap dia memungutku kembali, karena padanya aku tidak berpura-pura kuat. Dia adalah orang yang telah berpengaruh di hidupku.
Satu hal yang sangat aku ingin agar dia mengetahuinya. Kesamaan kita yang tidak disengaja, dan tidak semua orang bisa berpikir begitu. Aku akan memberitahunya jika dia memang ingin tahu. Tetapi aku akan tetap menjadikannya cerita yang belum selesai jika dia memang tidak ingin tahu. Aku ingin dia mengetahuinya, aku ingin menyelesaikan ceritaku.
Kelinciku yang Mesum
Waktu aku masuk kuliah adikku punya sepasang kelinci dewasa namanya choco dan warto. Papaku membelinya dengan harga murah beserta kandangnya di temannya. Adikku senang sekali mendapatkan binatang peliharaan baru. Setiap pagi papaku memberinya makan sayuran, sedangkan sorenya adikku yang memberi makan. Aku juga sering memperhatikan sang kelinci. Kata papaku kelinci itu mulai kecil sudah sepasang. Katanya sih nggak bisa terpisahkan. Memang sih, mereka deketan mulu, lha wong kandangnya sempit. Suatu hari aku memergoki dua kelinci itu kawin. Sang pejantang berada di belakang sang betina dan badannya bergetar-getar seperti kejang. Prosesnya berlangsung tidak sampai satu menit, hanya beberapa detik saja. Keesokan harinya, ketika aku mau memberi kelinci mesra itu makan, aku memergoki lagi mereka kawin. Sering banget ya, apa emang lagi musim kawin? Mungkin. Keesokan paginya lagi, aku memergoki mereka kawin lagi. Ya ampun. Apa mungkin kelinci itu kawin tiap hari? Karena penasaran, selama beberapa hari aku mengamati kelinci mesum (sekarang berubah jadi kelinci mesum) itu. Ternyata benar, setiap hari mereka kawin. Bahkan, sehari bisa beberapa kali. Aku jadi il-feel sama dua kelinci itu. Aku jadi malas memberi makan. Tugas itu aku kembalikan ke adikku.
Seminggu kemudian, aku tiba-tiba kangen sama dua kelinci mesum itu. Waktu aku ngasih makan, choco (kelinci betina) hanya makan sedikit. Awalnya aku kira dia hamil. Tapi seminggu kemudian choco meninggal dan disebelahnya sang kelinci jantan menemaninya. Entah kenapa wajah sang kelinci jantan terlihat sedih. Mungkin kesepian karena sudah tidak ada lagi kelinci betina yang bisa digauli. Apa mungkin choco meninggal karena nggak kuat menahan birahi pasangannya? Nggak kok, choco rupanya meninggal karena adikku sering lupa memberi makan. Diperparah dengan sang kelinci jantan makannya rakus, nggak mau menyisahkan makanan buat choco.
Setelah kematian choco, warto terlihat muram. Ia tidak banyak makan, mungkin karena kesepian. Wajar aja kalao kesepian karena selama beberapa tahun mereka selalau bersama dan bergumul setiap waktu. Melihat kondisi warto yang menurun, papaku akhirnya membeli kelinci betina dewasa. Kelincinya cantik banget. Bulunya putih bersih, telinga bagian dalam pink, dan matanya berwarna merah. Begitu mereka dipertemukan, warto yang kemudian entah kenapa berubah nama menjadi choco, terlihat gembira. Namun tidak demikian dengan kelinci betina baru yang bernama chery. Sepertinya dia tahu bahwa teman sekamarnnya adalah mas-mas kelinci mesum yang birahinya tak tertahankan. Selama seminggu lebih mereka berjauh-jauhan. Mungkin masih dalam tahap pedekate. Aku akui usaha choco dalam mendekati chery begitu keras dan pantang menyerah. Buktinya dua minggu kemudian chery sudah digaulinya. Dasar kelinci play boy. Pinter nggombal. Bereka pun terlihat gembira. Muncullah pasangan baru.
Tetapi beberapa bulan kemudian, choco dan chery dihibahkan ke sepupuku yang masih sekolah dasar karena tidak ada yang merawat. Adikku yang awalnya bertanggung jawab mengurusnya malah nggak ngurus. Daripada ada yang mati lagi, lebih baik diberikan keorang lain.
Seminggu kemudian, aku tiba-tiba kangen sama dua kelinci mesum itu. Waktu aku ngasih makan, choco (kelinci betina) hanya makan sedikit. Awalnya aku kira dia hamil. Tapi seminggu kemudian choco meninggal dan disebelahnya sang kelinci jantan menemaninya. Entah kenapa wajah sang kelinci jantan terlihat sedih. Mungkin kesepian karena sudah tidak ada lagi kelinci betina yang bisa digauli. Apa mungkin choco meninggal karena nggak kuat menahan birahi pasangannya? Nggak kok, choco rupanya meninggal karena adikku sering lupa memberi makan. Diperparah dengan sang kelinci jantan makannya rakus, nggak mau menyisahkan makanan buat choco.
Setelah kematian choco, warto terlihat muram. Ia tidak banyak makan, mungkin karena kesepian. Wajar aja kalao kesepian karena selama beberapa tahun mereka selalau bersama dan bergumul setiap waktu. Melihat kondisi warto yang menurun, papaku akhirnya membeli kelinci betina dewasa. Kelincinya cantik banget. Bulunya putih bersih, telinga bagian dalam pink, dan matanya berwarna merah. Begitu mereka dipertemukan, warto yang kemudian entah kenapa berubah nama menjadi choco, terlihat gembira. Namun tidak demikian dengan kelinci betina baru yang bernama chery. Sepertinya dia tahu bahwa teman sekamarnnya adalah mas-mas kelinci mesum yang birahinya tak tertahankan. Selama seminggu lebih mereka berjauh-jauhan. Mungkin masih dalam tahap pedekate. Aku akui usaha choco dalam mendekati chery begitu keras dan pantang menyerah. Buktinya dua minggu kemudian chery sudah digaulinya. Dasar kelinci play boy. Pinter nggombal. Bereka pun terlihat gembira. Muncullah pasangan baru.
Tetapi beberapa bulan kemudian, choco dan chery dihibahkan ke sepupuku yang masih sekolah dasar karena tidak ada yang merawat. Adikku yang awalnya bertanggung jawab mengurusnya malah nggak ngurus. Daripada ada yang mati lagi, lebih baik diberikan keorang lain.
Senin, 27 September 2010
Forever Love You
Seorang perempuan tua bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju dapur dengan satu tangan bertumpu pada meja kemudian kursi, tembok, sesuatu yang dapat menyangga tubuhnya. Ia membuat dua cangkir teh hangat, menaruhnya pada nampan dan membawanya masuk ke kamar. Ia mengusap keringat yang membasahi rambut abu-abunya. Membuat dua cangkir teh sudah menguras tenaganya. Dia membangunkan seorang pria tua yang terbaring lemah di ranjang tuanya. Terdengar suara besi berderik ketika pria tua itu duduk. Dengan dibantu istrinya, dia meminum tehnya dengan sangat pelan dan sesekali meniup agar uapnya pergi. Pria itu tersenyum kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Ia bertanya kepada istrinya apakah ia masih ingat kenangan ketika kereka masih muda. Istrinya mengangguk mantap. Mereka kembali masuk dalam kenangan lamanya.
Seorang pria berlari terburu-buru menuju rumah sang gadis pujaan. Dari tempatnya dia bisa melihat gadis itu menangis di beranda lantai dua. Air mata yang menetes membuat lari pria itu semakin cepat. Ia menerobos beberapa penjaga rumah yang langsung menghadangnya ketika melihat wajahnya. Pria-pria bertubuh besar itu sudah diperintahkan oleh ayah gadis yang dicintainya untuk menghalanginya masuk. Ia melihat ayah gadis itu memarahi anaknya karena dandanannya luntur, dan menyuruhnya cepat bersiap diri karena calon suaminya beserta orang tuanya akan menemuinya. Gadis itu menoleh ke arah pria yang dicekal oleh pengawalnya, mata mereka bertemu. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan dan masuk ke dalam rumah.
Pria itu dipukul dan ditendang keluar dari rumah mewah itu. Dia melihat gadis yang dicintainya mencium tangan calon suaminya dari luar pagar. Ia memaki diri sendiri, melampiaskan amarahnya pada pagar yang memisahkan mereka. Kemudian pria itu bangkit dan membuka paksa pagar hingga pagar itu bengkok. Penjaga rumah langsung berlarian ke arahnya, pemuda itu juga berlari. Terjadilah perkelahian yang sengit. Gadis itu melihat lelaki yang dicintainya berusaha mengelak dari pukulan, balas memukul, dan dipukul. Gadis itu lalu berlari menuju halaman, menerobos para pengawalnya, kemudian memeluk lelaki yang setengah terkapar itu. Air matanya tak dapat dibendung, ia menangis sejadi-jadinya. Ayahnya menariknya paksa tetapi gadis itu semakin memperkuat pelukannya. Ayahnya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia memaki dan mengusir anaknya. Ibunya menyisipkan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi ke tangannya. Ia membuka tangannya ketika mereka sudah agak jauh dari rumah. Isinya beberapa lembar uang dengan nominal tertinggi. Ia mengucapkan terima kasih dalam hati. Ia berjanji untuk selamanya menjaga orang yang disayanginya hingga maut memisahkan mereka.
“Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian itu, selamanya tidak akan kulupakan. Aku mencintaimu,” ucap wanita tua itu. “Aku lebih mencintaimu,” balas pria itu. Wanita itu membereskan cangkir yang telah mereka minum, menaruhnya kembali di atas nampan. Tangannya bergetar ketika membawanya menuju dapur.
Pria itu mengeluarkan sebuah buku yang telah ia sisipkan di bawah bantal sebelumnya. Mengambil bolpoin di atas meja kemudian menulis sesuatu. Cukup lama waktu yang ia butuhkan untuk menulis. Wajahnya tampak bahagia ketika ia menyelesaikan kalimat terakhir. Ia kemudian menyobek halaman itu, melipatnya menjadi dua kemudian ia menaruhnya di atas meja kecil di sebelah kasurnya, dan menindasnya dengan bolpoin agar tidak jatuh tertiup angin. Ia berbaring kembali, menyelimuti separuh badannya dengan kain bergaris abu-abu. Ia memejamkan mata, wajahnya damai.
Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Ia menemukan suaminya berbaring. Ia memanggil nama suaminya. Ia menunggu tetapi tidak mendapatkan balasan. Ia lalu menyadari sesuatu yang tidak beres. Ia tertatih-tatih mendatangi suaminya. Mengucapkan ‘aku mencintaimu’ berulang kali namun lelaki itu hanya diam. Ia memanggil-manggil namanya, lelaki itu tetap diam. Ia menemukan benda asing di atas meja. Membukanya, membaca kalimat demi kalimat, kata demi kata, kemudian ia menangis sambil memeluk suaminya yang terbujur kaku. “Aku lebih mencintaimu”.
Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah. Ia memanggil nama seseorang tetapi tidak ada yang menjawab. Kemudian ia masuk ke kamar ayah dan ibunya.“Ternyata Ibu disini, toh. Aku datang sama Mas Adi dan anak-anak. Mumpung Mas Adi baru balik dari Kanada. Minggu depan mau balik ke sana lagi,” ucapnya sambil mendekati ibunya yang sedang memeluk ayahnya. Ia memanggil-manggil ibunya kemudian ayahnya, tetapi tidak ada tanggapan. Ia lalu berteriak memanggil suaminya. Suaminya masuk dengan setengah berlari menghampiri istrinya. Wanita itu menangis di pundak suaminya, menangisi kepergian kedua orang tuanya.
Sayangku, kau adalah segalanya bagiku. Aku tadi mendapat firasat, sepertinya aku akan mendahuluimu. Jika memang benar, aku meminta maaf telah meninggalkanmu. Maaf, telah mambuatmu sendirian. Terima kasih karena kamu telah meninggalkan keluargamu, ningratmu, kekayaanmu, demi aku yang hanya seorang guru. Aku sangat bahagia. Tidak ada kata lain selain AKU MENCINTAIMU.
Seorang pria berlari terburu-buru menuju rumah sang gadis pujaan. Dari tempatnya dia bisa melihat gadis itu menangis di beranda lantai dua. Air mata yang menetes membuat lari pria itu semakin cepat. Ia menerobos beberapa penjaga rumah yang langsung menghadangnya ketika melihat wajahnya. Pria-pria bertubuh besar itu sudah diperintahkan oleh ayah gadis yang dicintainya untuk menghalanginya masuk. Ia melihat ayah gadis itu memarahi anaknya karena dandanannya luntur, dan menyuruhnya cepat bersiap diri karena calon suaminya beserta orang tuanya akan menemuinya. Gadis itu menoleh ke arah pria yang dicekal oleh pengawalnya, mata mereka bertemu. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan dan masuk ke dalam rumah.
Pria itu dipukul dan ditendang keluar dari rumah mewah itu. Dia melihat gadis yang dicintainya mencium tangan calon suaminya dari luar pagar. Ia memaki diri sendiri, melampiaskan amarahnya pada pagar yang memisahkan mereka. Kemudian pria itu bangkit dan membuka paksa pagar hingga pagar itu bengkok. Penjaga rumah langsung berlarian ke arahnya, pemuda itu juga berlari. Terjadilah perkelahian yang sengit. Gadis itu melihat lelaki yang dicintainya berusaha mengelak dari pukulan, balas memukul, dan dipukul. Gadis itu lalu berlari menuju halaman, menerobos para pengawalnya, kemudian memeluk lelaki yang setengah terkapar itu. Air matanya tak dapat dibendung, ia menangis sejadi-jadinya. Ayahnya menariknya paksa tetapi gadis itu semakin memperkuat pelukannya. Ayahnya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia memaki dan mengusir anaknya. Ibunya menyisipkan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi ke tangannya. Ia membuka tangannya ketika mereka sudah agak jauh dari rumah. Isinya beberapa lembar uang dengan nominal tertinggi. Ia mengucapkan terima kasih dalam hati. Ia berjanji untuk selamanya menjaga orang yang disayanginya hingga maut memisahkan mereka.
“Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian itu, selamanya tidak akan kulupakan. Aku mencintaimu,” ucap wanita tua itu. “Aku lebih mencintaimu,” balas pria itu. Wanita itu membereskan cangkir yang telah mereka minum, menaruhnya kembali di atas nampan. Tangannya bergetar ketika membawanya menuju dapur.
Pria itu mengeluarkan sebuah buku yang telah ia sisipkan di bawah bantal sebelumnya. Mengambil bolpoin di atas meja kemudian menulis sesuatu. Cukup lama waktu yang ia butuhkan untuk menulis. Wajahnya tampak bahagia ketika ia menyelesaikan kalimat terakhir. Ia kemudian menyobek halaman itu, melipatnya menjadi dua kemudian ia menaruhnya di atas meja kecil di sebelah kasurnya, dan menindasnya dengan bolpoin agar tidak jatuh tertiup angin. Ia berbaring kembali, menyelimuti separuh badannya dengan kain bergaris abu-abu. Ia memejamkan mata, wajahnya damai.
Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Ia menemukan suaminya berbaring. Ia memanggil nama suaminya. Ia menunggu tetapi tidak mendapatkan balasan. Ia lalu menyadari sesuatu yang tidak beres. Ia tertatih-tatih mendatangi suaminya. Mengucapkan ‘aku mencintaimu’ berulang kali namun lelaki itu hanya diam. Ia memanggil-manggil namanya, lelaki itu tetap diam. Ia menemukan benda asing di atas meja. Membukanya, membaca kalimat demi kalimat, kata demi kata, kemudian ia menangis sambil memeluk suaminya yang terbujur kaku. “Aku lebih mencintaimu”.
Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah. Ia memanggil nama seseorang tetapi tidak ada yang menjawab. Kemudian ia masuk ke kamar ayah dan ibunya.“Ternyata Ibu disini, toh. Aku datang sama Mas Adi dan anak-anak. Mumpung Mas Adi baru balik dari Kanada. Minggu depan mau balik ke sana lagi,” ucapnya sambil mendekati ibunya yang sedang memeluk ayahnya. Ia memanggil-manggil ibunya kemudian ayahnya, tetapi tidak ada tanggapan. Ia lalu berteriak memanggil suaminya. Suaminya masuk dengan setengah berlari menghampiri istrinya. Wanita itu menangis di pundak suaminya, menangisi kepergian kedua orang tuanya.
Sayangku, kau adalah segalanya bagiku. Aku tadi mendapat firasat, sepertinya aku akan mendahuluimu. Jika memang benar, aku meminta maaf telah meninggalkanmu. Maaf, telah mambuatmu sendirian. Terima kasih karena kamu telah meninggalkan keluargamu, ningratmu, kekayaanmu, demi aku yang hanya seorang guru. Aku sangat bahagia. Tidak ada kata lain selain AKU MENCINTAIMU.
Kucing Binal
Rumahku memang seperti kebun binatang. Yah bisa dibilang kalo rumahku itu tempat persinggahan sementara atau selamanya bagi hewan-hewan yang nggak jelas. Akhir-akhir ini setelah kelinciku meninggalkan rumahku, sering kali aku melihat seekor kucing putih tertidur pulas di rumah. Nggak ngerasa terganggu sama sekali walaupun kucing itu sudah berulang kali hampir keinjak. Kucing ini jenis kucing kampung yang beredar dimana-mana. Tapi kucing kampung ini terbilang unik. Dia nggak pernah nyentuh makanan yang ada di atas meja makan. Tidur aja kerjaannya. Sempat terbersit di otakku kalau kucing itu vegetarian. Pernah juga aku ngasih ayam goreng. Aku taruh ayam goreng itu di atas piring plastik kecil. Kucing itu cuma mengendus baunya, digigit sekali dan tidur lagi. Nah lo. Tapi keanehan lainnya muncul. Pernah nih pas aku makan, kucing itu tiba-tiba udah ada di depan piringku. Sontak aku langsung mengangkat piringku, takut bulunya masuk ke makanan. Si kucing langsung meong-meong minta makan. Karena kasihan aku kasih daging ayam goreng satu cuil. Lalu kudekatkan ke dia, dan dimakan. Lalu aku kasih tulang ayam yang masih ada dagingnya dan aku taruh di atas kertas. Lagi-lagi kucing itu mengendus baunya, digigit sekali, langsung pergi. Kucing ini njengkelin bener. Udah untung dia nggak diusir dan dikasih ayam goreng yang belum tentu teman-temannya bernasib sama. Lalu aku mencuil daging tadi dan aku tawarkan ke dia, dimakan. Ho, aku baru nyadar kalo si kucing ini maunya disuapin. Dasar kucing kampung manja, sok-sok-an jadi kucing yang sekelas sama persia. Nggak level tau.
Beberapa minggu nginep dirumahku, aku mengetahui satu kenyataan kenapa kok nih kucing kerjaannya tidur mulu. Ternyata dia hamil. Menurut penuturan adikku, si kucing merasa aman kalo di rumahku soalnya kalo keliaran di gang rumah biasanya dia dianiaya sama anak-anak kecil di daerahku. Adikku sang saksi mata melihat sendiri kalo si kucing pernah disiram air sampek kedinginan, dipukul pakek ranting, sampek ditendang perutnya. Padahal kan dia lagi hamil.
Suatu hari kucing itu nggak menampakkan batang hidungnya di rumahku. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari adikku kalo si kucing malang itu melahirkan di lemarinya tetangga sebelah. Sang pemilik lemari menemukan genangan darah di lemarinya. Hiiiyy... Sang pemilik lemari lalu membuang anak-anak kucing itu dari rumahnya. Malang sekali nasibnya. Sudah sebatang kara menghidupi dirinya yang sedang hamil, lalu numpang melahirkan di lemari orang, diusir pula, dan sekarang single parent. Kucing jantan itu emang brengsek, setelah melampiaskan nafsu langsung sang betina ditinggal pergi. Adikku yang merasa kasihan langsung mengambil kardus bekas dan memasukkan anak-anak kucing itu ke dalamnya dan meletakkannya di teras rumah. Kemalangan sepertinya sudah akrab dengan kucing itu. Satu per satu anaknya meninggal dunia. Hingga tersisa satu dari lima ekor dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Sudah meninggal juga mungkin, soalnya aku selalu melihat kucing malang itu sendirian. Aku jadi kangen anaknya.
Sedikit bernostalgia, waktu aku mau berangkat kuliah aku melihat anaknya yang terakhir main-main di gang rumahku. Induknya mengawasi sambil rebahan di atas jalan, dan sesekali mengeong jika ada kendaraan lewat. Takut anaknya terlindas. Tapi kucing kecil itu tidak sedikitpun menyadari kekhawatiran induknya. Dia berlarian kesana-kemari. Bermain dengan barisan semut yang ia berantakkan, bersembunyi di balik tubuh induknya jika ada bahaya, dan merengek dengan mengeong-ngeong jika kelaparan. Sang induk sama sekali tidak pernah marah. Kasih sayangnya tersampaikan padaku yang manusia biasa ini.
Beberapa hari setelah kematian anaknya yang terakhir, aku jarang sekali melihatnya di daerah rumahku. Malah ada kucing betina lain yang berkeliaran di sana, tapi aku tidak mau menampungnya. Emang dikiranya rumahku ini hotel. Kangen juga rasanya kalo biasanya yang keliaran adalah kucing malang itu, sekarang sudah kucing lain. Untuk menghilangkan rasa kangenku, aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, sampai aku benar-benar lupa sama kucing itu. Hingga suatu hari aku bertemu lagi dengannya bak teman lama yang telah dipisahkan oleh luasnya Samudera Hindia. Ketika aku memperhatikan kucing itu lekat-lekat, aku menyadari kalo kucing itu hamil lagi. Padahal cuma berjarak sekitar dua bulan dari kehamilannya yang terdahulu. Aku pun mengorek informasi dari adikku, dan katanya ini merupakan kehamilan yang ke-empat. Kalau dihitung dari kehamilannya yang pertama, anaknya sudah mencapai lima belas. Karena setiap hamil, dia selalu melahirkan lima ekor, dan beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Dasar Kucing Binal!
Beberapa minggu nginep dirumahku, aku mengetahui satu kenyataan kenapa kok nih kucing kerjaannya tidur mulu. Ternyata dia hamil. Menurut penuturan adikku, si kucing merasa aman kalo di rumahku soalnya kalo keliaran di gang rumah biasanya dia dianiaya sama anak-anak kecil di daerahku. Adikku sang saksi mata melihat sendiri kalo si kucing pernah disiram air sampek kedinginan, dipukul pakek ranting, sampek ditendang perutnya. Padahal kan dia lagi hamil.
Suatu hari kucing itu nggak menampakkan batang hidungnya di rumahku. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari adikku kalo si kucing malang itu melahirkan di lemarinya tetangga sebelah. Sang pemilik lemari menemukan genangan darah di lemarinya. Hiiiyy... Sang pemilik lemari lalu membuang anak-anak kucing itu dari rumahnya. Malang sekali nasibnya. Sudah sebatang kara menghidupi dirinya yang sedang hamil, lalu numpang melahirkan di lemari orang, diusir pula, dan sekarang single parent. Kucing jantan itu emang brengsek, setelah melampiaskan nafsu langsung sang betina ditinggal pergi. Adikku yang merasa kasihan langsung mengambil kardus bekas dan memasukkan anak-anak kucing itu ke dalamnya dan meletakkannya di teras rumah. Kemalangan sepertinya sudah akrab dengan kucing itu. Satu per satu anaknya meninggal dunia. Hingga tersisa satu dari lima ekor dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Sudah meninggal juga mungkin, soalnya aku selalu melihat kucing malang itu sendirian. Aku jadi kangen anaknya.
Sedikit bernostalgia, waktu aku mau berangkat kuliah aku melihat anaknya yang terakhir main-main di gang rumahku. Induknya mengawasi sambil rebahan di atas jalan, dan sesekali mengeong jika ada kendaraan lewat. Takut anaknya terlindas. Tapi kucing kecil itu tidak sedikitpun menyadari kekhawatiran induknya. Dia berlarian kesana-kemari. Bermain dengan barisan semut yang ia berantakkan, bersembunyi di balik tubuh induknya jika ada bahaya, dan merengek dengan mengeong-ngeong jika kelaparan. Sang induk sama sekali tidak pernah marah. Kasih sayangnya tersampaikan padaku yang manusia biasa ini.
Beberapa hari setelah kematian anaknya yang terakhir, aku jarang sekali melihatnya di daerah rumahku. Malah ada kucing betina lain yang berkeliaran di sana, tapi aku tidak mau menampungnya. Emang dikiranya rumahku ini hotel. Kangen juga rasanya kalo biasanya yang keliaran adalah kucing malang itu, sekarang sudah kucing lain. Untuk menghilangkan rasa kangenku, aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, sampai aku benar-benar lupa sama kucing itu. Hingga suatu hari aku bertemu lagi dengannya bak teman lama yang telah dipisahkan oleh luasnya Samudera Hindia. Ketika aku memperhatikan kucing itu lekat-lekat, aku menyadari kalo kucing itu hamil lagi. Padahal cuma berjarak sekitar dua bulan dari kehamilannya yang terdahulu. Aku pun mengorek informasi dari adikku, dan katanya ini merupakan kehamilan yang ke-empat. Kalau dihitung dari kehamilannya yang pertama, anaknya sudah mencapai lima belas. Karena setiap hamil, dia selalu melahirkan lima ekor, dan beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Dasar Kucing Binal!
Jurus-jurus Nyontek
Kisah ini dimulai ketika aku duduk di bangku akhir sekolah. Hari-hariku biasa saja, berangkat sekolah diantar mamaku dengan sepeda motor shogun. Hampir setiap pagi shogun yang aku tumpangi dengan mamaku, kadang-kadang papaku, dan kadang-kadang kakakku melaju dengan sangat cepat. Menerobos rambu lalu lintas bukan hal yang baru lagi. Berkejaran dengan waktu demi sampai sekolah tepat waktu. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku turun dari motor ketika bel berbunyi, aku mencium tangan mamaku ketika doa akan dibacakan, dan aku berlari ketika pagar sekolah hanya bisa dilewati dengan tubuh dimiringkan.
Kemudian aku berlari kecil menuju kamar mandi, menoleh kanan-kiri seperti mau menyeberang lalu masuk kamar mandi. Langkahku dikagetkan dengan getaran yang berasal dari telepon genggamku. Aku membuka pesan yang bertuliskan, “Bu Endang belum dateng”. Aku keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah yang berlawanan dari kelasku dengan ransel di tangan. Kemudian aku menitipkan tas di Bu Min, sang penjaga kantin yang menurut anak-anak sepertiku, sangat baik hati. Lalu aku berjalan menuju kelasku. “Lho, kok nggak masuk?” langkahku dikagetkan oleh suara kepala sekolah. “Selamat pagi Bu Hadi, saya mau ke ruang guru. Gurunya belum datang soalnya,” jawabku. “Oh, gitu. Aku kira bolos,” Bu Hadi lalu pergi ke arah kantin dan memergoki anak-anak yang bolos. Fiuh, telat satu menit aja nasibku seperti anak-anak lainnya. Berakhir dengan kartu kuning. Ketika aku masuk kelas ternyata Bu Endang sudah masuk. “Kok kamu baru masuk?” tanya Bu Endang dengan nada dingin. “Barusan dari Bu Hadi, Bu,” jawabku. “Oh, ya sudah, kembali ke tempatmu karena ulangan akan dimulai”. Mati aku.
Seminggu kemudian hasil ulangan sejarah dibagikan. Ada yang sedih, ada yang senang, dan ada yang biasa saja kayak aku sekarang. “Dapet berapa, Pik? Nilaiku lumayan nih, tujuh puluh. Yang penting nggak remidi,” tanya Qyu. “Delapan dua,” jawabku singkat. “Aku tadi lihat nilainya Ario delapan puluh. Heran deh,” cetusnya. “Baguslah, toh dia sudah usaha”. Sebenarnya aku nggak puas dapet delapan puluh dua, mending tujuh puluh aja. Gimana bisa puas, aku ngerjainnya nggak sungguh-sungguh. Semalem nggak belajar pula.
“Kamu udah belajar?” tanya Ario. “Gimana belajar, ada ulangan aja aku lupa. Ngerjain kayak biasanya aja,” jawabku. “Pinjem buku dong, tasku di Bu Min, nih,” lanjutku. “Waduh, aku cuma bawa buku gambar. Pinjem Qyu atau Esti aja,” cetusnya. “Qyu, pinjem buku paket, dong. Mau nge-review,” pintaku. Dengan cepat aku dan Ario masing-masing membuka buku pinjaman. Menandai beberapa halaman dengan dilipat ujungnya. Kami memasukkan buku dengan posisi terbuka di kolong meja. Lalu menutupinya dengan jaket. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, tetapi bangku di depanku tidak ada yang menempati. Bisa dibilang aku duduk di bangku paling depan. Bangkuku adalah satu-satunya bangku yang punya kolong meja. Aneh memang, tapi mungkin ini namanya hoki, dan bangkuku selalu lolos dari pengawasan guru, karena kebanyakan guru mengincar bangku belakang yang merupakan sarang penyamun. Selama ulangan aku dan Ario bekerja sama dengan saling menukar jawaban, tentu saja dengan cara-cara tertentu yang hanya kita yang tahu. Untuk mengurangi kecurigaan kita sengaja memberikan jawaban yang salah atau setengah salah, misalnya aku salah nomor dua dan tiga, berarti Ario salah di nomor yang berbeda. Selain itu, walaupun jawaban kita sama, tapi kita mengemasnya dengan bahasa sendiri. Hal ini sangat ampuh untuk mengelabuhi guru. Ulangan pun selesai dengan mulus.
Tips menyontek:
• Sebelum ujian dimulai, pastikan telah menandai beberapa halaman yang kemungkinan muncul di ujian. Hal ini mempermudah dalam pengambilan jawaban.
• Usahakan bekerja sama, paling tidak dengan teman sebangku. Hitung-hitung tutup mulut. Selain itu, teman sebangku juga berguna sebagai pangawas apabila posisi berbahaya.
• Pasang ekspresi berpikir, jangan terlalu banyak akting apalagi nervous.
• Jangan pernah bertatap mata dengan guru karena mata tidak bisa berbohong.
• Jika mencontek jawaban teman, usahakan lakukan dengan senormal mungkin. Sebelum mulai ujian, pastikan kalian telah melakukan perjanjian tak tertulis beserta kode-kode.
• Jangan melakukan cara mencontek yang sama lebih dari dua kali.
• Ketika proses mencontek dari buku, letakkan buku di antara kolong meja dan paha. Letakkan buku di posisi senyaman mungkin dan tidak jauh dari siku. Hal ini sangat membantu apabila guru tiba-tiba mendekat sedangkan proses mencontek belum selesai. Buku bisa dimasukkan dengan siku tanpa ketahuan.
• Apabila tidak bisa menggunakan siku, buku disa kembali dimasukkan ke kolong dengan memajukan badan ke depan.
• Jika mencontek dengan catatan kecil, simpan catatan di tempat yang mudah dijangkau, misal di dalam kotak pensil atau bisa diselipkan di lubang telinga. Jangan lubang hidung. Kemungkinan terhisap sangat besar, dan mengganggu kenyamanan.
• Jika mencontek dengan model apapun, pastikan bahwa gerak-gerikmu tertutupi oleh badanmu atau temanmu.
• Jangan tergesa dalam mencontek. Atur waktu sebaik mungkin.
• Jika jawabanmu dan temanmu sama, tulislah dengan bahasamu sendiri.
• Apabila jawaban mudah didapat, jangan langsung ditulis semua. Kerjakan satu per satu. Berpura-puralah bahwa soal agak sulit.
• Kurangi interaksi dengan teman.
• Lakukan dengan nyaman dan sehalus mungkin.
• Walaupun lolos dari guru, tapi Tuhan dan malaikat melihat semuanya dengan jelas. Selamat mencontek.
Sebenarnya aku sangat nggak suka mengerjakan dengan cara begini. Tapi mau gimana lagi, kepepet. Tapi nggak semua ujian aku mencontek, kok. Aku nggak mencontek kalo pelajaran olahraga, kesenian, dan pelajaran yang gurunya galak, karena aku tahu terlalu banyak mencontek nggak baik buat kesehatan otak dan jantung.
Kemudian aku berlari kecil menuju kamar mandi, menoleh kanan-kiri seperti mau menyeberang lalu masuk kamar mandi. Langkahku dikagetkan dengan getaran yang berasal dari telepon genggamku. Aku membuka pesan yang bertuliskan, “Bu Endang belum dateng”. Aku keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah yang berlawanan dari kelasku dengan ransel di tangan. Kemudian aku menitipkan tas di Bu Min, sang penjaga kantin yang menurut anak-anak sepertiku, sangat baik hati. Lalu aku berjalan menuju kelasku. “Lho, kok nggak masuk?” langkahku dikagetkan oleh suara kepala sekolah. “Selamat pagi Bu Hadi, saya mau ke ruang guru. Gurunya belum datang soalnya,” jawabku. “Oh, gitu. Aku kira bolos,” Bu Hadi lalu pergi ke arah kantin dan memergoki anak-anak yang bolos. Fiuh, telat satu menit aja nasibku seperti anak-anak lainnya. Berakhir dengan kartu kuning. Ketika aku masuk kelas ternyata Bu Endang sudah masuk. “Kok kamu baru masuk?” tanya Bu Endang dengan nada dingin. “Barusan dari Bu Hadi, Bu,” jawabku. “Oh, ya sudah, kembali ke tempatmu karena ulangan akan dimulai”. Mati aku.
Seminggu kemudian hasil ulangan sejarah dibagikan. Ada yang sedih, ada yang senang, dan ada yang biasa saja kayak aku sekarang. “Dapet berapa, Pik? Nilaiku lumayan nih, tujuh puluh. Yang penting nggak remidi,” tanya Qyu. “Delapan dua,” jawabku singkat. “Aku tadi lihat nilainya Ario delapan puluh. Heran deh,” cetusnya. “Baguslah, toh dia sudah usaha”. Sebenarnya aku nggak puas dapet delapan puluh dua, mending tujuh puluh aja. Gimana bisa puas, aku ngerjainnya nggak sungguh-sungguh. Semalem nggak belajar pula.
“Kamu udah belajar?” tanya Ario. “Gimana belajar, ada ulangan aja aku lupa. Ngerjain kayak biasanya aja,” jawabku. “Pinjem buku dong, tasku di Bu Min, nih,” lanjutku. “Waduh, aku cuma bawa buku gambar. Pinjem Qyu atau Esti aja,” cetusnya. “Qyu, pinjem buku paket, dong. Mau nge-review,” pintaku. Dengan cepat aku dan Ario masing-masing membuka buku pinjaman. Menandai beberapa halaman dengan dilipat ujungnya. Kami memasukkan buku dengan posisi terbuka di kolong meja. Lalu menutupinya dengan jaket. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, tetapi bangku di depanku tidak ada yang menempati. Bisa dibilang aku duduk di bangku paling depan. Bangkuku adalah satu-satunya bangku yang punya kolong meja. Aneh memang, tapi mungkin ini namanya hoki, dan bangkuku selalu lolos dari pengawasan guru, karena kebanyakan guru mengincar bangku belakang yang merupakan sarang penyamun. Selama ulangan aku dan Ario bekerja sama dengan saling menukar jawaban, tentu saja dengan cara-cara tertentu yang hanya kita yang tahu. Untuk mengurangi kecurigaan kita sengaja memberikan jawaban yang salah atau setengah salah, misalnya aku salah nomor dua dan tiga, berarti Ario salah di nomor yang berbeda. Selain itu, walaupun jawaban kita sama, tapi kita mengemasnya dengan bahasa sendiri. Hal ini sangat ampuh untuk mengelabuhi guru. Ulangan pun selesai dengan mulus.
Tips menyontek:
• Sebelum ujian dimulai, pastikan telah menandai beberapa halaman yang kemungkinan muncul di ujian. Hal ini mempermudah dalam pengambilan jawaban.
• Usahakan bekerja sama, paling tidak dengan teman sebangku. Hitung-hitung tutup mulut. Selain itu, teman sebangku juga berguna sebagai pangawas apabila posisi berbahaya.
• Pasang ekspresi berpikir, jangan terlalu banyak akting apalagi nervous.
• Jangan pernah bertatap mata dengan guru karena mata tidak bisa berbohong.
• Jika mencontek jawaban teman, usahakan lakukan dengan senormal mungkin. Sebelum mulai ujian, pastikan kalian telah melakukan perjanjian tak tertulis beserta kode-kode.
• Jangan melakukan cara mencontek yang sama lebih dari dua kali.
• Ketika proses mencontek dari buku, letakkan buku di antara kolong meja dan paha. Letakkan buku di posisi senyaman mungkin dan tidak jauh dari siku. Hal ini sangat membantu apabila guru tiba-tiba mendekat sedangkan proses mencontek belum selesai. Buku bisa dimasukkan dengan siku tanpa ketahuan.
• Apabila tidak bisa menggunakan siku, buku disa kembali dimasukkan ke kolong dengan memajukan badan ke depan.
• Jika mencontek dengan catatan kecil, simpan catatan di tempat yang mudah dijangkau, misal di dalam kotak pensil atau bisa diselipkan di lubang telinga. Jangan lubang hidung. Kemungkinan terhisap sangat besar, dan mengganggu kenyamanan.
• Jika mencontek dengan model apapun, pastikan bahwa gerak-gerikmu tertutupi oleh badanmu atau temanmu.
• Jangan tergesa dalam mencontek. Atur waktu sebaik mungkin.
• Jika jawabanmu dan temanmu sama, tulislah dengan bahasamu sendiri.
• Apabila jawaban mudah didapat, jangan langsung ditulis semua. Kerjakan satu per satu. Berpura-puralah bahwa soal agak sulit.
• Kurangi interaksi dengan teman.
• Lakukan dengan nyaman dan sehalus mungkin.
• Walaupun lolos dari guru, tapi Tuhan dan malaikat melihat semuanya dengan jelas. Selamat mencontek.
Sebenarnya aku sangat nggak suka mengerjakan dengan cara begini. Tapi mau gimana lagi, kepepet. Tapi nggak semua ujian aku mencontek, kok. Aku nggak mencontek kalo pelajaran olahraga, kesenian, dan pelajaran yang gurunya galak, karena aku tahu terlalu banyak mencontek nggak baik buat kesehatan otak dan jantung.
Kebetulan atau Takdir?
Ada seorang perempuan yang biasa saja. Tidak termasuk dalam golongan cewek-cewek idola kampus tapi bukan berarti dia tidak cantik, dia tidak termasuk golongan cewek yang taat banget sama agama, dia juga bukan golongan cewek terpintar di kampus. Dia hanya cewek biasa yang banyak ditemukan di kampus. Tapi ada satu keistimewaan pada cewek ini. Dia punya prinsip dan walaupun umurnya hampir menginjak dua puluhan, dia masih suci. Mungkin.
Gadis ini punya banyak teman, banyak juga yang mengenalnya. Namun dia sangat canggung dengan lelaki. Hal ini membuatnya buruk dalam hal percintaan. Dia tidak mau “bersentuhan” dengan laki-laki. Bukan karena dia sok suci, tapi trauma yang membuatnya menjadi begini. Dulu ketika dia belum tahu apa itu pelecehan, dia beberapa kali telah dilecehkan oleh orang-orang yang berada di dekatnya. Setelah dia mulai remaja, dia baru tahu kalau dia telah mendapatkan pelecehan. Namun dia tidak bisa berbuat banyak karena tidak ada bukti yang kuat.
Hingga suatu saat dia akhirnya mempunyai pacar untuk yang pertama kalinya, dan kencan untuk pertama kalinya. Tapi hubungan itu hanya bertahan dalam hitungan hari, karena dia tidak bisa sering-sering keluar rumah. Beberapa tahun kemudian dia akhirnya pacaran lagi. Namun hubungan itu hanya bertahan beberapa bulan. Alasannya mungkin karena cewek itu dari awal memberitahu pacarnya bahwa dia tidak mau “disentuh”. Dia tidak mau dipeluk, tidak mau dicium, dia hanya mengijinkan untuk digandeng saja. Itu pun dia berusaha menerima ketidaknyamanannya. Demi pacarnya tentunya. Akhirnya pacarnya kabur dengan gadis lain yang mau “disentuh”. Ironis memang, tetapi gadis itu mencoba berpegangan pada prinsipnya. Hingga suatu saat dia berbisik pada Tuhan, “Tuhan, apakah mungkin aku punya pacar dengan prinsipku ini? Aku ingin berhubungan karena cinta, bukan nafsu”.
***
Di tempat yang lain ada seorang laki-laki yang lumayan keren dan tajir. Semua mantan ceweknya pun cantik-cantik seperti model. Dia mempunyai pacar yang bahenol, cantik, dan tajir juga. Hubungan mereka berlangsung cukup lama. Dia sangat menyayangi ceweknya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya agak tidak nyaman dengan ceweknya, ceweknya agresif.
Pernah suatu ketika dalam perkuliahan, si ceweknya memeluk tangannya, dan menempelkan dada gemuknya padanya. Cowok itu kaget, namun dia mencoba menikmatinya saja. Toh, aku nggak minta, batinnya. Setiap mereka berciuman, yang meminta selalu ceweknya. Awalnya hanya ciuman biasa, namun semakin lama ciuman itu semakin dalam. Dia mencoba menerima walau sedikit tidak nyaman dan jijik.
Ceweknya pun sering salah paham. Jika cowok itu mengomentari pakaiannya yang kadang sexy, si cewek itu menanggapinya “beda”. Dimana ada kesempatan mereka berdua, si cewek itu selalu melancarkan aksinya. Ketika kelas sepi, bioskop, bahkan dalam mobil. Di mobil malah lebih parah, cewek itu mengajaknya berciuman kemudian menjamah dan meminta cowoknya untuk petting. Dia sempat terlena, namun cowok itu akhirnya menolak halus, takut menyakiti perasaan ceweknya. Beberapa hari kemudian cowok itu meminta putus dengan ceweknya karena dia terlalu agresif. Dia capek meladeni ceweknya. Tetapi ceweknya menolak putus dan berjanji tidak terlalu agresif lagi. Tetapi janji hanya di mulut saja, beberapa minggu kemudian cewek itu kembali agresif. Cowok itu meminta putus lagi, tapi mereka rujuk kembali. Hingga suatu saat dia mengetahui fakta bahwa ceweknya selingkuh. Dia langsung meminta putus, dan mereka bener-benar putus. Kemudian ketika dia termenung dalam kamar dia berbisik, “Aku mau pacaran yang nggak pakek nafsu. Jika ada cewek yang bisa bikin aku kayak gitu, dia akan aku jadikan istri”.
***
Suatu hari cewek itu mengikuti acara di kampus. Dia bertemu dengan senior-seniornya. Dia menangkap sosok misterius dari salah satu seniornya, dia pendiam tetapi banyak teman yang mengelilinginya. Ketika ada acara menukar kado, dia bingung mau memberikannya pada siapa. Kemudian dia bertatapan mata dengan senior misterius itu, lalu dia memberikan kado padanya tanpa alasan.
Beberapa minggu setelah kejadian itu, tanpa sengaja mereka sama-sama menjadi panitia di suatu acara di kampusnya. Mereka pun semakin dekat, cewek itu pun mulai mengenal kepribadian lainnya dari senior itu. Senior itu tidak sependiam yang dia kira, lucu malah. Ia sering dibuat tertawa dengan cerita-ceritanya. Dari hanya cerita ringan kemudian merambah saling curhat tentang hidup masing-masing. Senior itu menceritakan kisah percintaan yang pernah dia alami. Lalu senior itu mengucapkan kalimat yang membuat cewek itu terkejut, “Aku pingin pacaran nggak pakek nafsu. Kalo ada cewek yang bisa bikin aku kayak gitu, langsung tak lamar dan tak jadiin istri”. Cewek itu terdiam dan berkata dalam hati, ‘Aku juga’.
Langganan:
Postingan (Atom)