Selasa, 12 April 2011

Parang Jati + Sandi Yuda = Andhang Jaya

Jika terlalu banyak kebetulan, apakah itu tidak bermakna?
Orang religius menganggapnya kuasa illahi,
sedangkan ilmuwan akan mencari pola-pola.
(Manjali dan Cakrabirawa - Ayu Utami-)

Mata itu,,
Mata parang Jati yang muncul ketika ia menatapku. Mata teduh yang lembut, dalam nan rumit, berpengetahuan, dan tak ada ujungnya jika ditelusuri.
Mata Sandi Yuda-nya yang kokoh, cadas, tak dapat dibantah, namun ringan dan sederhana yang sering ia perlihatkan pada orang lain.

Mata dari dua tokoh yang berbeda, mata yang saling timbul dan tenggelam. Aku mencintai keduanya seperti Marja Manjali yang mencintai keduanya. Tetapi keduanya melebur menjadi satu dalam sosok Andhang Jaya, kekasihku.

Mata yang beberapa hari lalu membawaku pada candaannya. Mata yang kemudian kembali dingin, menyimpan luka, kejenuhan, dan bimbang.

Mata itu memberitahuku bahwa ia akan mencari rumah baru dimana aku harus menyimpan baik-baik wajahnya. Sempat kukira hari itu masih lama. Tetapi mata itu mengubahnya lagi menjadi tidak lama lagi. Yah, itu membuat remah-remah yang aku kumpulkan darinya tidak bisa menjadi potongan biskuit coklat sampai dia kembali lagi.

Cekungan yang ia pilih, terlalu jauh untuk dilompati. Mau tak mau aku harus melewatinya, walaupun aku akan terpeleset dan terjatuh. Tapi aku tidak akan menyerah untuk mencapai puncak tertinggi dimana aku kembali bisa melihat indahnya dunia. Dalam perjalanan itu pula aku akan menggenggam tangannya dari jauh, agar aku dan dia tidak akan lupa bahwa masih ada KITA.

Semoga berbagai kebetulan-kebetulan yang telah mempertemukan kita bukanlah tak bermakna. Aku percaya, ada hal baik yang menunggu kita di sana, dibalik cekungan dalam itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar