Dulu aku selalu memimpikan rasanya menjadi Ciderella. Perempuan biasa yang diberi kesempatan menjadi perempuan berkelas dan masuk ke lingkaran orang-orang kelas atas. Mendambakan bagaimana rasanya memakai pakaian mewah dalam kehidupan sehari-hari, naik pesawat seperti naik taxi, memakan makanan mahal, setiap hari minum susu bermerek, tidur di kamar yang mewah dimana kasurnya spring bed, ber-AC, dan ada shower air panas.
Dulu sekali, saat aku masih anak-anak, aku pernah mengalami itu semua. Tetapi rasa itu sudah menjadi tawar, dan saat aku beranjak dewasa, aku merindukan lagi rasa-rasa seperti itu. Aku memuja rasa itu, aku terobsesi karenanya, sehingga membuatku bertekad untuk dapat mencicipi rasa itu lagi.
Lalu, aku diberi kesempatan untuk mencicipi rasa itu. Walaupun rasa itu hanya terasa karena aku menempel pada orang dan bukan cita rasa yang sesungguhnya, tetap aku menginginkan rasa itu. Karena aku terlalu merindunya. Demi bisa melebur ke lingkaran itu, aku membongkar harta mamaku yang telah berdebu. Aku bersihkan kembali debu-debu yang menempel, aku jahit kembali bagian yang sobek, dan aku rapikan benang-benang yang berserabut. Aku jalin kembali memori tentang rasa itu, mempelajarinya, mengasah intelektualitasku, dan mempersiapkan diri hingga dapat melebur tanpa meninggalkan goresan kasar.
Ketika saat itu tiba, aku mengepak koperku yang telah kenyang dengan harta modifikasi. Berangkat dengan membawa sosok baru yang aku simpan, dan sosok itu akan muncul dimulai saat kakiku turun dari pesawat. Hidupku yang baru pun dimulai.
Aku bisa mencecap rasa itu lagi. Hidup bertaburan kemewahan, memakai pakaian yang terlihat berkelas. Aku pun menjelma menjadi sosok yang dipuji sekaligus dipuja orang di sekitarku, terutama yang berasal dari kalangan yang sama denganku. Hanya saja mereka tidak tahu bahwa sebenarnya aku bagian dari mereka, dan apa yang mereka lihat hanyalah produk percobaanku untuk melebur dalam lingkaran baru.
Dengan sosok baru aku melangkahkan kaki dalam lingkaran pemuja intelektualitas. Semakin aku bisa bertahan pada pertarungan intelektualitas ini, semakin eksistensiku terlihat. Maka, akan semakin dalam aku menceburkan diri, semakin jauh aku meninggalkan lingkaran lamaku.
Tidak lagi kucium bau busuk saat berjalan, tidak lagi aku mamandang tumpukan sampah di dekat kakiku, tidak lagi kudengar umpatan yang familiar di telingaku, tidak lagi aku mencecap makanan tawar. Segalanya harum, berkilau, merdu, dan nikmat. Membuatku begitu nyaman dengan kenikmatan ini.
Aku tak perlu berjalan sendiri untuk bersenang-senang, tak perlu naik angkot pengap dan sesak untuk bepergian, tak perlu mengirit pengeluaran hanya agar sesekali dapat makan di restoran, dan tak lagi dipandang sebelah mata saat lewat. Kini, selalu ada orang yang menawarkan diri untuk menemani, ada yang membukakan pintu taxi saat aku akan masuk, ada yang mentraktir makan di restoran secara sukarela. Mereka menjamin kenyamananku sebaik mungkin. Bahkan menghindarkanku dari panas dan kotornya jalanan. Tidak pernah sekalipun aku ditawari naik motor karena mereka pikir bahwa motor tidak pantas untukku, mobil-lah yang sepantasnya untukku. Dan semua mata memandang saat aku berjalan, membuatku merasa bak putri raja yang berada di tengah-tengah rakyat biasa.
Saat aku berdiri di beranda istanaku dan memandangi orang-orang sedang bekerja keras menyambung hidup, aku merasa seperti terasing dalam duniaku sendiri. Betapa mereka tidak memperdulikan bau busuk di dekat mereka, panas yang menyengat kaki telanjangnya, keringat yang mengucur bagai keran air, dan berbagi udara pengap dengan yang lain. Aku merasa telah mengkhianati mereka. Betapa aku beruntung dapat menikmati kemewahan ini. Betapa aku dulu bagian dari mereka. Betapa aku memaksa diriku untuk cepat-cepat melebur dalam lingkaran intelektualitas ini. Betapa perubahan ini begitu cepat, dan aku tidak menyangka bisa semudah ini meleburkan diri.
Akankah aku dapat menjaga kesucian dan kesederhanaan yang aku jaga selama ini adalah pertanyaan besar yang menggangguku. Karena sedikit demi sedikit kesucian itu tak lagi berwarna putih, dan kesederhanaan itu jelas semakin tersembunyi. Akankan aku lupa dari mana diriku berasal adalah ketakutan utamaku. Tidak ingin aku kehilangan kerendahan hati, tak ingin pula aku lupa asalku. Mampukah aku dapat menyeimbangkan kesederhanaan dengan kemewahan ini adalah tantangan terbesarku. Yang pasti, aku tidak ingin jiwaku tertelan karakter yang aku bangun. Aku tidak ingin menjadi manusia yang jiwanya tersedot habis dan menjadi manusia yang sama sekali berbeda. Yah, mudah-mudahan kakiku tak lupa untuk selalu menjejak tanah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar