Papa, selamat ulang tahun yang ke lima puluh. Sudah setengah abad papa menjalani hidup ini. Dikaruniai dua anak laki-laki dengan sang mantan, kemudian dikaruniai dua anak perempuan serta seorang anak laki-laki dengan Mama.
Tahukah papa, engkau adalah orang yang paling aku benci di rumah karena hanya Papa yang selalu bisa membuatku marah dan menangis. Tapi engkau adalah panutanku, orang yang aku anggap paling sempurna. Banyak benda yang bisa kau buat, kau perbaiki, dan tidak pernah mengeluarkan uang untuk memanggil teknisi. Jika tidak ada Papa di rumah dan kebetulan ada barang yang rusak, semua pasti mencarimu.
Papa, aku ingin memberitahumu sesuatu. Sadarkah kalau Papa sudah punya anak perempuan dewasa? Aku, Pa. Aku sudah dewasa. Umurku sudah diatas tujuh belas. Maka dari itu, Papa sudah tidak perlu lagi mengatur hidupku. Papa cukup mengarahkanku dan mengawasiku saja, dan biarkan aku memilih jalanku.
Papa, aku ingin Papa menyampaikan pesanku ke Mama juga. Pa, Ma, bolehkah aku menjadi diriku sendiri? Aku sudah lelah menjalankan peran sebagai gadis sempurna seperti yang kalian inginkan. Gadis yang hanya memprioritaskan pendidikan, nilai rapor, citra, gengsi, dan seolah tidak membutuhkan cinta dari lawan jenis. Aku selalu menahan diri jika kalian mengatakan, “Kamu masih kecil. Belom boleh pacaran. Nanti aja kalau sudah kuliah baru pacaran”. Kini aku sudah kuliah, kalian tetap mengucapkan kalimat yang membuatku sedih, “Kamu belum dewasa. Belum waktunya pacaran. Nanti aja kalau sudah kerja baru pacaran”. Tahukah kalian, bahwa kalimat itu semakin membuatku membangkang? Aku jadi tidak bisa mengenalkan orang yang aku suka ke kalian. Standar yang kalian inginkan juga bagiku terlalu tinggi untuk sekarang. Aku tahu kalian menginginkan yang terbaik untukku, tapi untuk satu hal ini, serahkan semuanya padaku. Pecayalah.
Papa, Aku minta maaf karena berulang kali telah membangkang dibelakangmu. Aku yakin, Papa pasti menyadari kalau aku membangkang tapi Papa sering diam saja. Papa, aku tahu Papa menyembunyikan sesuatu. Berulang kali aku memergokimu terbatuk-batuk, tapi kau bilang hanya tersedak atau batuk biasa. Pasti Papa sedang sakit, dan pasti nggak mau ke Dokter. Papa, Aku ingin Papa tetap sehat sehingga bisa mendampingi aku, Ricky, dan Delfi menikah kelak. Papa, aku mencintaimu.
T^T semangat ya pikk..
BalasHapuswalaupun aku ga pernah ngerasain yang kayak kamu, tapi aku bisa ikut ngerasain..
ganbaru kanaaa~~