Kepada: Sasmi
Di manapun engkau berada
Istriku tersayang,
Bagaimana kabarmu dan anak kita? Aku harap kalian
selalu bahagia dan tidak lelah tersenyum. Di sini aku baik-baik saja, namun
lama tidak bertemu denganmu membuatku rindu setengah mati. Banyak cerita yang
ingin aku bagi denganmu, juga dengan anak kita tercinta. Setiap malam aku
selalu membayangkan wajahmu tersenyum dan bagaimana wajah anak kita
sekarang. Aku berharap bisa memeluknya setiap
hari, menceritakan dongeng, juga menemaninya tidur saat terbangun tengah malam.
Tidak bisa bertemu kalian, ingin sekali rasanya aku pergi ke tempat kalian
karena rindu yang sudah tak tertahankan. Lalu aku teringat saat-saat kita masih
dimabuk cinta.
Saat dimana aku masih tergabung dalam Pemuda Rakyat
dan engkau di Gerwani. Tanpa engkau sadari, diam-siam aku sering
memperhatikanmu yang duduk di dekat jendela. Aku ingat saat itu engkau
mengenakan baju putih dan rambut panjangmu yang tergerai, bergerak-gerak teriup
angin. Ingin sekali aku menyentuh rambutmu yang berkilau terpapar matahari
sore. Saat itu aku berandai-andai, di masa yang akan datang aku akan melihatmu
membawakanku secangkir kopi pahit setiap pagi, lalu aku akan menciummu dengan
lembut di kening.
Namun aku sedikit kesal saat Sapidi, pemuda bergigi
tonggos yang duduk disebelahku membuyarkan lamunanku tentangmu, karena
pertemuan hari itu telah usai. Saat melihatmu bangkit dari kursi, aku menyadari
bahwa aku akan kehilanganmu jika aku tidak berani menanyakan namamu. Dan
beberapa bulan kemudian akhirnya keluargamu menerima lamaranku dan engkau pun
menjadi istriku. Sasmi, engkau satu-satunya wanita yang paling menawan hatiku,
engkau merupakan jawaban dari doaku, engkau adalah keajaiban di hidupku, dan
rumah bagi sajak-sajak yang selalu kutulis di tanggal pernikahan kita.
Sayangku, kita sama-sama tahu bahwa walaupun Tuhan
mempersatukan kita, pada akhirnya kita akan terpisah. Saat itu kondisi kita
sangat mengkhawatirkan. Banyak teman-teman kita yang menghilang dari kamar
tidurnya. Aku selalu berdoa agar kita dan anak yang ada di rahimmu bisa
melewati hari-hari dengan selamat. Aku ingat saat itu engkau menolak berpisah
denganku untuk bersembunyi di rumah saudaramu di Surabaya, sedangkan aku akan
bersembunyi bersama Sapidi di dalam hutan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak
ingin berpisah denganmu, tetapi hanya inilah pilihan yang terbaik, dan aku
berjanji akan langsung menemuimu begitu keadaan sudah tenang.
Di dalam hutan, kami terus berlari menghindari
orang-orang yang ingin menangkap kami. Dalam pelarian aku berdoa semoga Tuhan
memberikanmu kekuatan untuk terus bangkit dan terus berlari sepertiku. Walaupun
sampai terpeleset ke jurang, tidak makan selama berhari-hari, dan berkali-kali
ingin berhenti, namun saat mengingat wajahmu yang malu ketika kucium keningmu,
membuat tubuhku tetap berdiri dan kakiku terus berlari.
Saat kusadari suara langkah kaki Sapidi telah
menghilang selama berjam-jam, aku tetap tidak berhenti. Aku semakin mempercepat
langkahku karena sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lalu mengecup
keningmu. Di tengah perjalanan selama berminggu-minggu menuju Surabaya, aku
membayangkan engkau dan anak kita berdiri di depan pintu, tersenyum menyambut kedatanganku.
Namun ketika aku sampai, saudaramu mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat
kedatanganmu. Saat itu baru kusadari aku telah jauh berlari, tubuhku sangat
lelah, dan air mataku tidak berhenti mengalir. Setiap hari aku menunggumu,
terus menunggumu di depan pintu dengan senyum yang tak pernah pudar untukmu.
Sampai seperti itulah aku mencintaimu Sasmi, dan tidak akan pernah berubah
walau di kehidupan yang abadi kelak.
Sasmi sayangku, aku akan mengakhiri surat ini karena
matahari mulai menampakkan wujudnya. Namun Sasmi, hari ini aku memutuskan untuk
tidak lagi menunggumu, karena sebentar lagi aku akan menyusul ke tempat dimana
ada engkau dan anak kita.
Sasmi istriku,
dan anakku yang tidak pernah lahir, aku mencintaimu.
Surabaya, 1 Juli
2012
Suami
dan ayah,
Siswanto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar