Jumat, 06 September 2013

Surat Cinta Untuk Istriku


     Kepada: Sasmi
Di manapun engkau berada


Istriku tersayang,


Bagaimana kabarmu dan anak kita? Aku harap kalian selalu bahagia dan tidak lelah tersenyum. Di sini aku baik-baik saja, namun lama tidak bertemu denganmu membuatku rindu setengah mati. Banyak cerita yang ingin aku bagi denganmu, juga dengan anak kita tercinta. Setiap malam aku selalu membayangkan wajahmu tersenyum dan bagaimana wajah anak kita sekarang.  Aku berharap bisa memeluknya setiap hari, menceritakan dongeng, juga menemaninya tidur saat terbangun tengah malam. Tidak bisa bertemu kalian, ingin sekali rasanya aku pergi ke tempat kalian karena rindu yang sudah tak tertahankan. Lalu aku teringat saat-saat kita masih dimabuk cinta.


Saat dimana aku masih tergabung dalam Pemuda Rakyat dan engkau di Gerwani. Tanpa engkau sadari, diam-siam aku sering memperhatikanmu yang duduk di dekat jendela. Aku ingat saat itu engkau mengenakan baju putih dan rambut panjangmu yang tergerai, bergerak-gerak teriup angin. Ingin sekali aku menyentuh rambutmu yang berkilau terpapar matahari sore. Saat itu aku berandai-andai, di masa yang akan datang aku akan melihatmu membawakanku secangkir kopi pahit setiap pagi, lalu aku akan menciummu dengan lembut di kening. 


Namun aku sedikit kesal saat Sapidi, pemuda bergigi tonggos yang duduk disebelahku membuyarkan lamunanku tentangmu, karena pertemuan hari itu telah usai. Saat melihatmu bangkit dari kursi, aku menyadari bahwa aku akan kehilanganmu jika aku tidak berani menanyakan namamu. Dan beberapa bulan kemudian akhirnya keluargamu menerima lamaranku dan engkau pun menjadi istriku. Sasmi, engkau satu-satunya wanita yang paling menawan hatiku, engkau merupakan jawaban dari doaku, engkau adalah keajaiban di hidupku, dan rumah bagi sajak-sajak yang selalu kutulis di tanggal pernikahan kita.


Sayangku, kita sama-sama tahu bahwa walaupun Tuhan mempersatukan kita, pada akhirnya kita akan terpisah. Saat itu kondisi kita sangat mengkhawatirkan. Banyak teman-teman kita yang menghilang dari kamar tidurnya. Aku selalu berdoa agar kita dan anak yang ada di rahimmu bisa melewati hari-hari dengan selamat. Aku ingat saat itu engkau menolak berpisah denganku untuk bersembunyi di rumah saudaramu di Surabaya, sedangkan aku akan bersembunyi bersama Sapidi di dalam hutan. Walaupun sebenarnya aku juga tidak ingin berpisah denganmu, tetapi hanya inilah pilihan yang terbaik, dan aku berjanji akan langsung menemuimu begitu keadaan sudah tenang. 


Di dalam hutan, kami terus berlari menghindari orang-orang yang ingin menangkap kami. Dalam pelarian aku berdoa semoga Tuhan memberikanmu kekuatan untuk terus bangkit dan terus berlari sepertiku. Walaupun sampai terpeleset ke jurang, tidak makan selama berhari-hari, dan berkali-kali ingin berhenti, namun saat mengingat wajahmu yang malu ketika kucium keningmu, membuat tubuhku tetap berdiri dan kakiku terus berlari. 


Saat kusadari suara langkah kaki Sapidi telah menghilang selama berjam-jam, aku tetap tidak berhenti. Aku semakin mempercepat langkahku karena sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu lalu mengecup keningmu. Di tengah perjalanan selama berminggu-minggu menuju Surabaya, aku membayangkan engkau dan anak kita berdiri di depan pintu, tersenyum menyambut kedatanganku. Namun ketika aku sampai, saudaramu mengatakan bahwa ia tidak pernah melihat kedatanganmu. Saat itu baru kusadari aku telah jauh berlari, tubuhku sangat lelah, dan air mataku tidak berhenti mengalir. Setiap hari aku menunggumu, terus menunggumu di depan pintu dengan senyum yang tak pernah pudar untukmu. Sampai seperti itulah aku mencintaimu Sasmi, dan tidak akan pernah berubah walau di kehidupan yang abadi kelak. 


Sasmi sayangku, aku akan mengakhiri surat ini karena matahari mulai menampakkan wujudnya. Namun Sasmi, hari ini aku memutuskan untuk tidak lagi menunggumu, karena sebentar lagi aku akan menyusul ke tempat dimana ada engkau dan anak kita.


Sasmi  istriku, dan anakku yang tidak pernah lahir, aku mencintaimu.



Surabaya, 1 Juli 2012
Suami dan ayah,  
Siswanto        

Tidak ada komentar:

Posting Komentar