Waktu aku masuk kuliah adikku punya sepasang kelinci dewasa namanya choco dan warto. Papaku membelinya dengan harga murah beserta kandangnya di temannya. Adikku senang sekali mendapatkan binatang peliharaan baru. Setiap pagi papaku memberinya makan sayuran, sedangkan sorenya adikku yang memberi makan. Aku juga sering memperhatikan sang kelinci. Kata papaku kelinci itu mulai kecil sudah sepasang. Katanya sih nggak bisa terpisahkan. Memang sih, mereka deketan mulu, lha wong kandangnya sempit. Suatu hari aku memergoki dua kelinci itu kawin. Sang pejantang berada di belakang sang betina dan badannya bergetar-getar seperti kejang. Prosesnya berlangsung tidak sampai satu menit, hanya beberapa detik saja. Keesokan harinya, ketika aku mau memberi kelinci mesra itu makan, aku memergoki lagi mereka kawin. Sering banget ya, apa emang lagi musim kawin? Mungkin. Keesokan paginya lagi, aku memergoki mereka kawin lagi. Ya ampun. Apa mungkin kelinci itu kawin tiap hari? Karena penasaran, selama beberapa hari aku mengamati kelinci mesum (sekarang berubah jadi kelinci mesum) itu. Ternyata benar, setiap hari mereka kawin. Bahkan, sehari bisa beberapa kali. Aku jadi il-feel sama dua kelinci itu. Aku jadi malas memberi makan. Tugas itu aku kembalikan ke adikku.
Seminggu kemudian, aku tiba-tiba kangen sama dua kelinci mesum itu. Waktu aku ngasih makan, choco (kelinci betina) hanya makan sedikit. Awalnya aku kira dia hamil. Tapi seminggu kemudian choco meninggal dan disebelahnya sang kelinci jantan menemaninya. Entah kenapa wajah sang kelinci jantan terlihat sedih. Mungkin kesepian karena sudah tidak ada lagi kelinci betina yang bisa digauli. Apa mungkin choco meninggal karena nggak kuat menahan birahi pasangannya? Nggak kok, choco rupanya meninggal karena adikku sering lupa memberi makan. Diperparah dengan sang kelinci jantan makannya rakus, nggak mau menyisahkan makanan buat choco.
Setelah kematian choco, warto terlihat muram. Ia tidak banyak makan, mungkin karena kesepian. Wajar aja kalao kesepian karena selama beberapa tahun mereka selalau bersama dan bergumul setiap waktu. Melihat kondisi warto yang menurun, papaku akhirnya membeli kelinci betina dewasa. Kelincinya cantik banget. Bulunya putih bersih, telinga bagian dalam pink, dan matanya berwarna merah. Begitu mereka dipertemukan, warto yang kemudian entah kenapa berubah nama menjadi choco, terlihat gembira. Namun tidak demikian dengan kelinci betina baru yang bernama chery. Sepertinya dia tahu bahwa teman sekamarnnya adalah mas-mas kelinci mesum yang birahinya tak tertahankan. Selama seminggu lebih mereka berjauh-jauhan. Mungkin masih dalam tahap pedekate. Aku akui usaha choco dalam mendekati chery begitu keras dan pantang menyerah. Buktinya dua minggu kemudian chery sudah digaulinya. Dasar kelinci play boy. Pinter nggombal. Bereka pun terlihat gembira. Muncullah pasangan baru.
Tetapi beberapa bulan kemudian, choco dan chery dihibahkan ke sepupuku yang masih sekolah dasar karena tidak ada yang merawat. Adikku yang awalnya bertanggung jawab mengurusnya malah nggak ngurus. Daripada ada yang mati lagi, lebih baik diberikan keorang lain.
suka binatang toh?
BalasHapussuka ngeliatnya,,tapi nggak suka kalo nempel kulit..
BalasHapusmenakutkan~
Pik, bagi fbmu donk :D
BalasHapus