Senin, 27 September 2010

Forever Love You

Seorang perempuan tua bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju dapur dengan satu tangan bertumpu pada meja kemudian kursi, tembok, sesuatu yang dapat menyangga tubuhnya. Ia membuat dua cangkir teh hangat, menaruhnya pada nampan dan membawanya masuk ke kamar. Ia mengusap keringat yang membasahi rambut abu-abunya. Membuat dua cangkir teh sudah menguras tenaganya. Dia membangunkan seorang pria tua yang terbaring lemah di ranjang tuanya. Terdengar suara besi berderik ketika pria tua itu duduk. Dengan dibantu istrinya, dia meminum tehnya dengan sangat pelan dan sesekali meniup agar uapnya pergi. Pria itu tersenyum kemudian kembali membaringkan tubuhnya. Ia bertanya kepada istrinya apakah ia masih ingat kenangan ketika kereka masih muda. Istrinya mengangguk mantap. Mereka kembali masuk dalam kenangan lamanya.

Seorang pria berlari terburu-buru menuju rumah sang gadis pujaan. Dari tempatnya dia bisa melihat gadis itu menangis di beranda lantai dua. Air mata yang menetes membuat lari pria itu semakin cepat. Ia menerobos beberapa penjaga rumah yang langsung menghadangnya ketika melihat wajahnya. Pria-pria bertubuh besar itu sudah diperintahkan oleh ayah gadis yang dicintainya untuk menghalanginya masuk. Ia melihat ayah gadis itu memarahi anaknya karena dandanannya luntur, dan menyuruhnya cepat bersiap diri karena calon suaminya beserta orang tuanya akan menemuinya. Gadis itu menoleh ke arah pria yang dicekal oleh pengawalnya, mata mereka bertemu. Gadis itu lalu mengalihkan pandangan dan masuk ke dalam rumah.

Pria itu dipukul dan ditendang keluar dari rumah mewah itu. Dia melihat gadis yang dicintainya mencium tangan calon suaminya dari luar pagar. Ia memaki diri sendiri, melampiaskan amarahnya pada pagar yang memisahkan mereka. Kemudian pria itu bangkit dan membuka paksa pagar hingga pagar itu bengkok. Penjaga rumah langsung berlarian ke arahnya, pemuda itu juga berlari. Terjadilah perkelahian yang sengit. Gadis itu melihat lelaki yang dicintainya berusaha mengelak dari pukulan, balas memukul, dan dipukul. Gadis itu lalu berlari menuju halaman, menerobos para pengawalnya, kemudian memeluk lelaki yang setengah terkapar itu. Air matanya tak dapat dibendung, ia menangis sejadi-jadinya. Ayahnya menariknya paksa tetapi gadis itu semakin memperkuat pelukannya. Ayahnya tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Ia memaki dan mengusir anaknya. Ibunya menyisipkan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi ke tangannya. Ia membuka tangannya ketika mereka sudah agak jauh dari rumah. Isinya beberapa lembar uang dengan nominal tertinggi. Ia mengucapkan terima kasih dalam hati. Ia berjanji untuk selamanya menjaga orang yang disayanginya hingga maut memisahkan mereka.


“Bagaimana aku bisa lupa dengan kejadian itu, selamanya tidak akan kulupakan. Aku mencintaimu,” ucap wanita tua itu. “Aku lebih mencintaimu,” balas pria itu. Wanita itu membereskan cangkir yang telah mereka minum, menaruhnya kembali di atas nampan. Tangannya bergetar ketika membawanya menuju dapur.

Pria itu mengeluarkan sebuah buku yang telah ia sisipkan di bawah bantal sebelumnya. Mengambil bolpoin di atas meja kemudian menulis sesuatu. Cukup lama waktu yang ia butuhkan untuk menulis. Wajahnya tampak bahagia ketika ia menyelesaikan kalimat terakhir. Ia kemudian menyobek halaman itu, melipatnya menjadi dua kemudian ia menaruhnya di atas meja kecil di sebelah kasurnya, dan menindasnya dengan bolpoin agar tidak jatuh tertiup angin. Ia berbaring kembali, menyelimuti separuh badannya dengan kain bergaris abu-abu. Ia memejamkan mata, wajahnya damai.

Wanita itu kembali masuk ke dalam kamar. Ia menemukan suaminya berbaring. Ia memanggil nama suaminya. Ia menunggu tetapi tidak mendapatkan balasan. Ia lalu menyadari sesuatu yang tidak beres. Ia tertatih-tatih mendatangi suaminya. Mengucapkan ‘aku mencintaimu’ berulang kali namun lelaki itu hanya diam. Ia memanggil-manggil namanya, lelaki itu tetap diam. Ia menemukan benda asing di atas meja. Membukanya, membaca kalimat demi kalimat, kata demi kata, kemudian ia menangis sambil memeluk suaminya yang terbujur kaku. “Aku lebih mencintaimu”.
Seorang perempuan paruh baya masuk ke dalam rumah. Ia memanggil nama seseorang tetapi tidak ada yang menjawab. Kemudian ia masuk ke kamar ayah dan ibunya.“Ternyata Ibu disini, toh. Aku datang sama Mas Adi dan anak-anak. Mumpung Mas Adi baru balik dari Kanada. Minggu depan mau balik ke sana lagi,” ucapnya sambil mendekati ibunya yang sedang memeluk ayahnya. Ia memanggil-manggil ibunya kemudian ayahnya, tetapi tidak ada tanggapan. Ia lalu berteriak memanggil suaminya. Suaminya masuk dengan setengah berlari menghampiri istrinya. Wanita itu menangis di pundak suaminya, menangisi kepergian kedua orang tuanya.

Sayangku, kau adalah segalanya bagiku. Aku tadi mendapat firasat, sepertinya aku akan mendahuluimu. Jika memang benar, aku meminta maaf telah meninggalkanmu. Maaf, telah mambuatmu sendirian. Terima kasih karena kamu telah meninggalkan keluargamu, ningratmu, kekayaanmu, demi aku yang hanya seorang guru. Aku sangat bahagia. Tidak ada kata lain selain AKU MENCINTAIMU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar