Senin, 27 September 2010

Kucing Binal

Rumahku memang seperti kebun binatang. Yah bisa dibilang kalo rumahku itu tempat persinggahan sementara atau selamanya bagi hewan-hewan yang nggak jelas. Akhir-akhir ini setelah kelinciku meninggalkan rumahku, sering kali aku melihat seekor kucing putih tertidur pulas di rumah. Nggak ngerasa terganggu sama sekali walaupun kucing itu sudah berulang kali hampir keinjak. Kucing ini jenis kucing kampung yang beredar dimana-mana. Tapi kucing kampung ini terbilang unik. Dia nggak pernah nyentuh makanan yang ada di atas meja makan. Tidur aja kerjaannya. Sempat terbersit di otakku kalau kucing itu vegetarian. Pernah juga aku ngasih ayam goreng. Aku taruh ayam goreng itu di atas piring plastik kecil. Kucing itu cuma mengendus baunya, digigit sekali dan tidur lagi. Nah lo. Tapi keanehan lainnya muncul. Pernah nih pas aku makan, kucing itu tiba-tiba udah ada di depan piringku. Sontak aku langsung mengangkat piringku, takut bulunya masuk ke makanan. Si kucing langsung meong-meong minta makan. Karena kasihan aku kasih daging ayam goreng satu cuil. Lalu kudekatkan ke dia, dan dimakan. Lalu aku kasih tulang ayam yang masih ada dagingnya dan aku taruh di atas kertas. Lagi-lagi kucing itu mengendus baunya, digigit sekali, langsung pergi. Kucing ini njengkelin bener. Udah untung dia nggak diusir dan dikasih ayam goreng yang belum tentu teman-temannya bernasib sama. Lalu aku mencuil daging tadi dan aku tawarkan ke dia, dimakan. Ho, aku baru nyadar kalo si kucing ini maunya disuapin. Dasar kucing kampung manja, sok-sok-an jadi kucing yang sekelas sama persia. Nggak level tau.

Beberapa minggu nginep dirumahku, aku mengetahui satu kenyataan kenapa kok nih kucing kerjaannya tidur mulu. Ternyata dia hamil. Menurut penuturan adikku, si kucing merasa aman kalo di rumahku soalnya kalo keliaran di gang rumah biasanya dia dianiaya sama anak-anak kecil di daerahku. Adikku sang saksi mata melihat sendiri kalo si kucing pernah disiram air sampek kedinginan, dipukul pakek ranting, sampek ditendang perutnya. Padahal kan dia lagi hamil.

Suatu hari kucing itu nggak menampakkan batang hidungnya di rumahku. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar dari adikku kalo si kucing malang itu melahirkan di lemarinya tetangga sebelah. Sang pemilik lemari menemukan genangan darah di lemarinya. Hiiiyy... Sang pemilik lemari lalu membuang anak-anak kucing itu dari rumahnya. Malang sekali nasibnya. Sudah sebatang kara menghidupi dirinya yang sedang hamil, lalu numpang melahirkan di lemari orang, diusir pula, dan sekarang single parent. Kucing jantan itu emang brengsek, setelah melampiaskan nafsu langsung sang betina ditinggal pergi. Adikku yang merasa kasihan langsung mengambil kardus bekas dan memasukkan anak-anak kucing itu ke dalamnya dan meletakkannya di teras rumah. Kemalangan sepertinya sudah akrab dengan kucing itu. Satu per satu anaknya meninggal dunia. Hingga tersisa satu dari lima ekor dan entah bagaimana nasibnya sekarang. Sudah meninggal juga mungkin, soalnya aku selalu melihat kucing malang itu sendirian. Aku jadi kangen anaknya.

Sedikit bernostalgia, waktu aku mau berangkat kuliah aku melihat anaknya yang terakhir main-main di gang rumahku. Induknya mengawasi sambil rebahan di atas jalan, dan sesekali mengeong jika ada kendaraan lewat. Takut anaknya terlindas. Tapi kucing kecil itu tidak sedikitpun menyadari kekhawatiran induknya. Dia berlarian kesana-kemari. Bermain dengan barisan semut yang ia berantakkan, bersembunyi di balik tubuh induknya jika ada bahaya, dan merengek dengan mengeong-ngeong jika kelaparan. Sang induk sama sekali tidak pernah marah. Kasih sayangnya tersampaikan padaku yang manusia biasa ini.

Beberapa hari setelah kematian anaknya yang terakhir, aku jarang sekali melihatnya di daerah rumahku. Malah ada kucing betina lain yang berkeliaran di sana, tapi aku tidak mau menampungnya. Emang dikiranya rumahku ini hotel. Kangen juga rasanya kalo biasanya yang keliaran adalah kucing malang itu, sekarang sudah kucing lain. Untuk menghilangkan rasa kangenku, aku menyibukkan diri dengan kegiatan kampus, sampai aku benar-benar lupa sama kucing itu. Hingga suatu hari aku bertemu lagi dengannya bak teman lama yang telah dipisahkan oleh luasnya Samudera Hindia. Ketika aku memperhatikan kucing itu lekat-lekat, aku menyadari kalo kucing itu hamil lagi. Padahal cuma berjarak sekitar dua bulan dari kehamilannya yang terdahulu. Aku pun mengorek informasi dari adikku, dan katanya ini merupakan kehamilan yang ke-empat. Kalau dihitung dari kehamilannya yang pertama, anaknya sudah mencapai lima belas. Karena setiap hamil, dia selalu melahirkan lima ekor, dan beberapa minggu lagi dia akan melahirkan. Dasar Kucing Binal!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar