Aku memang gadis biasa saja. Tidak diberkahi dengan wajah dan kulit super model, bahkan ada bekas luka yang berdiam di tempat yang bagiku membuatku krusial banget, betis. Membuatku mikir-mikir dulu kalau mau pakek celana atau rok pendek. Berat badanku pun di bawah ideal. Jadinya hingga aku umur delapan belas tahun, aku hanya dua kali pacaran, paling lama dua bulan, dan aku nggak pernah ngerasain yang namanya pelukan cowok, apalagi ciuman. Kalo suka sama cowok? Hmmm, banyak banget. Tapi nggak satupun yang aku incer itu berhasil. Selalu berakhir dengan jadian dengan temenku sendiri. Nggak ndeketin? Aku udah ndeketin tau. Tapi ya gitu, aku selalu kalah karena tampang mereka yang emang lebih oke dari aku.
Pertama kali punya pacar waktu MOS ajaran baru. Waktu itu aku masih nggak berani ngapa-ngapain selain mematuhi perintah senior. Kalo membangkang, bisa-bisa kering air mataku. Suatu ketika aku lagi nggak bawa catatan lirik lagu hymne sekolah. Padahal hari itu ada kegiatan menyanyi di aula dan aku nggak hapal. Lalu selama acara itu aku pura-pura hapal sambil kadang-kadang ngelirik catetannya sebelahku. Jika ada senior yang patroli, aku pura-pura hapal. Empat senior yang patroli di sekitar kelasku, semuanya nggak menyadarinya. Lalu aku melihat dari arah kelas lain ada senior yang sedari tadi merhatiin aku. Mati aku. Pasti habis gini dia kesini dan menggeretku ke ruang hukuman. Aku pura-pura nggak nyadar kalo diliatin, sambil sesekali aku merhatiin gerak-gerik senior itu. Mata kami bertemu, aku buru-buru mengalihkan pandangan. Senior itu malah berjalan ke arahku. Haduh, jantungku rasanya mau copot. Takut banget masuk ruang hukuman. Karena beberapa siswa yang habis masuk situ, begitu keluar banyak yang matanya sembab sambil sesenggukan. Semoga waktu senior cowok itu udah di deketku, dia tiba-tiba kena amnesia, dan balik ke tempatnya lagi.
“Hei,” suara itu mengejutkanku. Habis sudah harapanku melewati MOS ini tanpa berurusan dengan senior. Aku nggak berani menatap, aku cuma menunduk sedalam mungkin.
“Nih,” dia menyerahkan selembar kertas. Aku hanya bisa mengangguk sambil menerimanya. Kemudian dia pergi. Aku membuka kertas itu, ternyata isinya adalah lirik hymne sekolah. Aku langsung mengedarkan pandangan ke ruangan yang berisi ratusan murid baru. Mencoba mencari-cari sosoknya tapi aku tidak menemukannya. Padahal aku ingin mengucapkan terima kasih. Dia sudah menyelamatkanku dari situasi ini.
Paginya, aku mendapat masalah lagi. Pita yang aku kenakan ternyata kurang lebar dari standar yang diberikan para senior. Aku berusaha mencari cara supaya lolos dari hukuman, tapi aku nggak bisa ngapa-ngapain karena nggak ada toko yang menjual pita di daerah sekolahku. Kali ini aku pasrah, apapun hukumannya aku mencoba iklas aja. Ternyata benar, ada senior cewek yang menyadari kesalahan penampilanku. Tiba-tiba senior yang menolongku waktu di aula menghampiriku, namanya Zefri.
“Kamu kenapa kok nggak pakai pita yang udah ditentuin?”
“Semalaman saya sudah muter-muter mencari ukuran pita yang segitu. Tapi banyak toko yang kehabisan. Jadi saya pakai seadanya saja.”
Tapi dia tidak membawaku keruang hukuman. Lagi-lagi dia menyelamatkanku. Saat itu juga, aku langsung suka sama seniorku ini.
MOS hari ketiga pun selesai. Aku menghela napas lega. Akhirnya berakhir juga. Setelah membereskan beberapa buku, aku berjalan keluar. Sambil menunggu jemputan aku duduk di pos satpam dan melepas pernak-pernik norak dari rambutku. Lalu ada motor berhenti di depanku. Aku mendongak mencari tahu siapa dibalik helm itu. Sang pemilik kendaraan membuka kaca helmnya, aku menemukan sosok yang nggak asing, Zefri. Jantungku pun mulai berdetak cepat.
“Kok belum pulang?” tanyanya tanpa merubah posisi.
“Nunggu jemputan, kak”
“Mau bareng tah?”
“E..e.. enggak usah, kak. Orang tua saya sudah dekat, kok” aku nggak berani ngelihat matanya. Tiba-tiba dia mematikan motornya. Lalu duduk menyamping di atas motornya. Nggak lama jemputanku pun datang.
“Pulang dulu, kak” aku mengangguk sopan.
“Hati-hati” dia lalu menyalakan kembali motornya dan pergi.
Selama di perjalanan pikiranku penuh dengan senior itu. Baik sekali orangnya. Nggak nyangka ada senior yang sebaik dia.
Aku sudah resmi menjadi murid sekolah menengah. Di hari pertama sekolah aku sengaja datang lebih awal. Jam masuk sekolah di sini dibagi menjadi dua. Kelas pagi dan siang. Kelas pagi hanya untuk kelas sebelas dan dua belas. Sedangkan kelas siang hanya untuk murid kelas satu. Dan karena sekolahku lumayan sempit, jadinya setelah kelas sebelas pulang, kelas itu diperuntukkan kelas sepuluh. Lima menit lagi bel pulang untuk kelas pagi, aku menunggu di depan kelasku X-3. Begitu bel berbunyi aku bangkit dari duduk dan bersiap-siap masuk kelas. Lorong kelas yang tadinya hanya ada beberapa anak kelas sepuluh kini penuk sesak dengan kelas sebelas. Dari lautan putih abu-abu itu aku menangkap sosok Zefri keluar dari kelasku. Aku melihat papan nama di atas pintu, tertera XI IPA 3. Wah, suatu kebetulan aku dan dia ternyata berada di ruang kelas yang sama. Nggak sengaja mata kita bertemu. Dia tersenyum padaku. Aku langsung memalingkan muka. Wajahku serasa panas. Lalu aku buru buru masuk kelas. Dan menghempaskan diri begitu saja di atas bangku kayu. Aku bercerita hal yang selama ini terjadi ke sahabat baruku, Dita dan Ella.
“Kayaknya dia suka sama kamu, Pik” kata Dita sambil melahap roti yang dibeli dari koperasi. Ella hanya manggut-manggut sambil makan juga.
“Ah, masa sih?” aku menyangkal.
“Aku nggak mau ge-er,” lanjutku.
“Ya udah kalo nggak percaya,” Ella memasukkan potongan terakhir ke mulutnya. Selama pelajaran berlangsung aku memikirkan kata-kata Dita, dan mengulang kembali kejadian-kejadian antara aku dan Zefri. Tapi aku masih belum yakin.
Suatu hari, ketika kelas masih terisi beberapa anak saja tiba-tiba Zefri masuk kelas dan sudah berada di depanku. Aku langsung mengeluarkan lolipop yang setiap hari kumakan dari mulutku.
“Minta loliponya, dong.”
Aku diam saja, nggak menjawab apa-apa.
“Nggak kok, bercanda”
Dia lalu pergi meninggalkan kelas bersamaan dengan datangnya Dita. Dita langsung menghampiriku yang masih nggak sadar. Berdiri sambil senym-senyum. Ella yang kemudian datang langsung mengguncang-guncang badanku. Aku tersadar dan kembali duduk.
“Ngapain Zefri kesini?” tanya Dita.
“Nggak tahu, tiba-tiba dia minta lolipopku. Tapi aku tolak. Aneh banget,” ucapku.
“Tuh, benerkan apa kataku. Seratus persen dia itu suka kamu”
Aku diam saja sambil tetap senyum-senyum.
Malamya Hpku berdering. Di layar tertera nomor yang aku nggak kenal. Begitu aku angkat, terdengar suara berat di seberang sana. Si penelpon memperkenalkan diri kalo itu ZEFRI. Jantungku langsung mulai maraton. Percakapan itu hanya berlangsung beberapa menit. Tapi bagiku rasanya seperti lama, karena kebanyakan percakapan kami didominasi keheningan. Saking deg-deg-annya aku cuma menjawab pendek-pendek.
Beberapa minggu kemudian Zefri mengajakku nge-date. Tentu aja kuterima. Ini kencan pertamaku selama empat belas tahun. Dia mengajakku makan di resto di sebuah Mall. Di perjalanan pulang, dia menembakku. Aku bingung mau menjawab apa. Lalu aku bilang ke dia kalo aku jawab dua hari kemudian.
Dua hari kemudian ketika aku pulang sekolah, dia menghampiriku. Dia masih memakai seragam olahraga. Ternyata dia menungguku sampai aku pulang sekolah. Dengan latar belakang langit senja, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena mulai gelap. Walaupun aku juga tidak berani menatapnya, aku tahu dia juga pasti deg-deg-an menunggu jawabanku. Lalu aku menganggukkan kepala, dan pergi keluar sekolah. Aku menoleh lagi ke belakang, aku bisa melihat sebuah senyuman terindah yang hanya diberikan padaku. Malamnya, Hpku bergetar dan tertera nama orang yang paling aku suka.
Kebahagiaan ternyata tidak hinggap lama padaku. Hari minggu yang merupakan hari ke-enam jadianku, aku berangkat ju jitsu seperti biasa. Ketika latihan, Kiwil, teman sekelasku yang juga ikut Jujitsu memberitahu sesuatu. Dia mengatakannya dengan hati-hati seolah itu rahasia besar.
“Pik, kayaknya Kak Zefri suka kamu deh. Dia pernah nanyain kamu ke aku, dan kayaknya kamu juga suka dia. Iya, kan...” bisiknya. Aku tersenyum lebar mendengar perkatannya. Dia nggak tahu kalo sebenernya aku sudah enam hari jadian dengannya.
Selesai latihan aku memeriksa Hpku, mungkin ada pesan atau telepon tidak terjawab. Ternyata benar, ada dua missed calls, dari Zefri. Dan ada sms darinya juga. Setelah menyeruput habis es kelapa mudaku, aku membuka isi pesannya. Aku terdiam.
“Gimana perkembanganmu sama Zefri?,” tanya Dita. Dita juga ikut ekstra Ju Jitsu.
Aku diam. Tidak menjawab pertanyaannya sambil terus menatap layar HP. Dita yang menyadari keanehanku langsung mendekatiku, kemudian mengambil Hp dari tanganku dan membacanya.
Pika, sori..sorii..banget. Aku bilangnya pakek cara ini, lewat sms. Kayaknya hubungan ini nggak bisa bertahan lama. Aku nggak bisa mempertahankannya. Kayaknya kita harus pisah dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Sekali lagi maaf, ya.
“Bangsat tuh anak. Nggak gentle banget sih, ngomonginnya pakek cara beginian,” makinya sambil melahap potongan bakso yang terakhir. Dita langsung memelukku dan menenangkanku. Aku yang masih syok hanya terdiam membisu. Tidak satu pun air mata keluar dari mataku walaupun aku berusaha menangis.
Malam harinya, aku membiarkan kamarku sunyi tanpa suara apa pun. Aku mencoba mencari kesalahanku, mengapa bisa berakhir secepat ini. Menyadari kesunyian ini menggangguku, aku menyalakan komputer dan memutar lagu secara acak. Aku tidak memilih judulnya, yang penting kamarku tidak sunyi. Lalu mengalunlah lau Glen Fredly “Akhir cerita cinta”. Seketika tangisku pecah.
Sandiwarakah selama ini
Setelah sekian lama kita tlah bersama
Inikah akhir cerita cinta
Yang slalu aku banggakan di depan mereka
Entah dimana kusembunyikan rasa malu
Kini harus aku lewati sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri melawan waktu
Untuk melupakanmu
Walau pedih hati
Namun aku bertahan
Sampai sekarang pun aku masih tidak mengetahui alasan sebenarnya kami putus.
sugoi..
BalasHapusbener-bener..
ga tau deh mau bilang apa..
sugoi pokoknya..
T-T
aku jadi ikutan ngerasa..
hehe..
BalasHapusaku nulisnya berdasarkan diaryku..
pengalaman dalam hidup~