Senin, 27 September 2010

Jurus-jurus Nyontek

Kisah ini dimulai ketika aku duduk di bangku akhir sekolah. Hari-hariku biasa saja, berangkat sekolah diantar mamaku dengan sepeda motor shogun. Hampir setiap pagi shogun yang aku tumpangi dengan mamaku, kadang-kadang papaku, dan kadang-kadang kakakku melaju dengan sangat cepat. Menerobos rambu lalu lintas bukan hal yang baru lagi. Berkejaran dengan waktu demi sampai sekolah tepat waktu. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya, aku turun dari motor ketika bel berbunyi, aku mencium tangan mamaku ketika doa akan dibacakan, dan aku berlari ketika pagar sekolah hanya bisa dilewati dengan tubuh dimiringkan.

Kemudian aku berlari kecil menuju kamar mandi, menoleh kanan-kiri seperti mau menyeberang lalu masuk kamar mandi. Langkahku dikagetkan dengan getaran yang berasal dari telepon genggamku. Aku membuka pesan yang bertuliskan, “Bu Endang belum dateng”. Aku keluar dari kamar mandi, berjalan ke arah yang berlawanan dari kelasku dengan ransel di tangan. Kemudian aku menitipkan tas di Bu Min, sang penjaga kantin yang menurut anak-anak sepertiku, sangat baik hati. Lalu aku berjalan menuju kelasku. “Lho, kok nggak masuk?” langkahku dikagetkan oleh suara kepala sekolah. “Selamat pagi Bu Hadi, saya mau ke ruang guru. Gurunya belum datang soalnya,” jawabku. “Oh, gitu. Aku kira bolos,” Bu Hadi lalu pergi ke arah kantin dan memergoki anak-anak yang bolos. Fiuh, telat satu menit aja nasibku seperti anak-anak lainnya. Berakhir dengan kartu kuning. Ketika aku masuk kelas ternyata Bu Endang sudah masuk. “Kok kamu baru masuk?” tanya Bu Endang dengan nada dingin. “Barusan dari Bu Hadi, Bu,” jawabku. “Oh, ya sudah, kembali ke tempatmu karena ulangan akan dimulai”. Mati aku.

Seminggu kemudian hasil ulangan sejarah dibagikan. Ada yang sedih, ada yang senang, dan ada yang biasa saja kayak aku sekarang. “Dapet berapa, Pik? Nilaiku lumayan nih, tujuh puluh. Yang penting nggak remidi,” tanya Qyu. “Delapan dua,” jawabku singkat. “Aku tadi lihat nilainya Ario delapan puluh. Heran deh,” cetusnya. “Baguslah, toh dia sudah usaha”. Sebenarnya aku nggak puas dapet delapan puluh dua, mending tujuh puluh aja. Gimana bisa puas, aku ngerjainnya nggak sungguh-sungguh. Semalem nggak belajar pula.
“Kamu udah belajar?” tanya Ario. “Gimana belajar, ada ulangan aja aku lupa. Ngerjain kayak biasanya aja,” jawabku. “Pinjem buku dong, tasku di Bu Min, nih,” lanjutku. “Waduh, aku cuma bawa buku gambar. Pinjem Qyu atau Esti aja,” cetusnya. “Qyu, pinjem buku paket, dong. Mau nge-review,” pintaku. Dengan cepat aku dan Ario masing-masing membuka buku pinjaman. Menandai beberapa halaman dengan dilipat ujungnya. Kami memasukkan buku dengan posisi terbuka di kolong meja. Lalu menutupinya dengan jaket. Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, tetapi bangku di depanku tidak ada yang menempati. Bisa dibilang aku duduk di bangku paling depan. Bangkuku adalah satu-satunya bangku yang punya kolong meja. Aneh memang, tapi mungkin ini namanya hoki, dan bangkuku selalu lolos dari pengawasan guru, karena kebanyakan guru mengincar bangku belakang yang merupakan sarang penyamun. Selama ulangan aku dan Ario bekerja sama dengan saling menukar jawaban, tentu saja dengan cara-cara tertentu yang hanya kita yang tahu. Untuk mengurangi kecurigaan kita sengaja memberikan jawaban yang salah atau setengah salah, misalnya aku salah nomor dua dan tiga, berarti Ario salah di nomor yang berbeda. Selain itu, walaupun jawaban kita sama, tapi kita mengemasnya dengan bahasa sendiri. Hal ini sangat ampuh untuk mengelabuhi guru. Ulangan pun selesai dengan mulus.


Tips menyontek:
• Sebelum ujian dimulai, pastikan telah menandai beberapa halaman yang kemungkinan muncul di ujian. Hal ini mempermudah dalam pengambilan jawaban.
• Usahakan bekerja sama, paling tidak dengan teman sebangku. Hitung-hitung tutup mulut. Selain itu, teman sebangku juga berguna sebagai pangawas apabila posisi berbahaya.
• Pasang ekspresi berpikir, jangan terlalu banyak akting apalagi nervous.
• Jangan pernah bertatap mata dengan guru karena mata tidak bisa berbohong.
• Jika mencontek jawaban teman, usahakan lakukan dengan senormal mungkin. Sebelum mulai ujian, pastikan kalian telah melakukan perjanjian tak tertulis beserta kode-kode.
• Jangan melakukan cara mencontek yang sama lebih dari dua kali.
• Ketika proses mencontek dari buku, letakkan buku di antara kolong meja dan paha. Letakkan buku di posisi senyaman mungkin dan tidak jauh dari siku. Hal ini sangat membantu apabila guru tiba-tiba mendekat sedangkan proses mencontek belum selesai. Buku bisa dimasukkan dengan siku tanpa ketahuan.
• Apabila tidak bisa menggunakan siku, buku disa kembali dimasukkan ke kolong dengan memajukan badan ke depan.
• Jika mencontek dengan catatan kecil, simpan catatan di tempat yang mudah dijangkau, misal di dalam kotak pensil atau bisa diselipkan di lubang telinga. Jangan lubang hidung. Kemungkinan terhisap sangat besar, dan mengganggu kenyamanan.
• Jika mencontek dengan model apapun, pastikan bahwa gerak-gerikmu tertutupi oleh badanmu atau temanmu.
• Jangan tergesa dalam mencontek. Atur waktu sebaik mungkin.
• Jika jawabanmu dan temanmu sama, tulislah dengan bahasamu sendiri.
• Apabila jawaban mudah didapat, jangan langsung ditulis semua. Kerjakan satu per satu. Berpura-puralah bahwa soal agak sulit.
• Kurangi interaksi dengan teman.
• Lakukan dengan nyaman dan sehalus mungkin.
• Walaupun lolos dari guru, tapi Tuhan dan malaikat melihat semuanya dengan jelas. Selamat mencontek.
Sebenarnya aku sangat nggak suka mengerjakan dengan cara begini. Tapi mau gimana lagi, kepepet. Tapi nggak semua ujian aku mencontek, kok. Aku nggak mencontek kalo pelajaran olahraga, kesenian, dan pelajaran yang gurunya galak, karena aku tahu terlalu banyak mencontek nggak baik buat kesehatan otak dan jantung.

2 komentar:

  1. pika...pertama kali aku mampir XD

    Kalo guru yang baca ini spoiler donk... XDD
    Ah tp biarlah...guru juga banyak yang suka nyontek kok hahahaha *inget berita nyontek-menyontek guru-guru di tv*

    BalasHapus